Suatu kali saya tanya orang yang paling dekat dengan saya.
Apa yang buat kamu bahagia?
Dia jawab : "ngelihat kamu ketawa, sama-sama kamu ada di dekat kamu"
Very simple, I though.
Ternyata, urusan melihat orang tertawa gak semudah yang saya bayangkan.
Dipikir-pikir, gak setiap saat orang bisa tertawa kan.
Untuk bisa melihat orang tertawa dia harus buat orang itu bahagia dulu. Artinya, buat dia, kebahagiaannya tergantung kebahagiaan saya.
Sounds sweet. Entah benar entah tidak, cuma dia yanng bisa merasakan. Tapi ketika mendengar itu perasaan saya bukan skeptis atau justru mengawang-ngawang. Terus terang saya iri. Iri karena kebahagiaan dia terdengar sederhana. Hanya dengan melihat dan berada di dekat orang yang dia sayangi, dia bisa bahagia.
Sementara coba tanya saya. Apa yang buat saya bahagia saat ini?
Punya gadget baru? Bisa traveling ke luar negeri?Merawat diri ke dokter muka atau salon favorite? Semua sudah di depan mata. Apa saya bahagia? Jujur gak sepenuhnya iya. Saya bersyukur, tapi tidak masuk kategori orang-orang yang berbahagia seperti motivator-motivator ulung yang tampil di depan publik itu.
Semua obsesi yang tadi saya sebutkan, saya (pikir) bisa buat saya bahagia. Happy. But honestly, in fact its not. Saya coba cari perasaan berdebar-debar senang saat dulu pertama kali punya smart phone, saya coba rasakan perasaan gugup saat pertama kali di add di facebook oleh seseorang, saya coba telusuri apa yang salah apa yang tiudak pada tempatnya, yang menghalangi sebongkah kecil kebahagiaan saya.
Gak ketemu.
Apa yang buat kamu bahagia?
Dia jawab : "ngelihat kamu ketawa, sama-sama kamu ada di dekat kamu"
Very simple, I though.
Ternyata, urusan melihat orang tertawa gak semudah yang saya bayangkan.
Dipikir-pikir, gak setiap saat orang bisa tertawa kan.
Untuk bisa melihat orang tertawa dia harus buat orang itu bahagia dulu. Artinya, buat dia, kebahagiaannya tergantung kebahagiaan saya.
Sounds sweet. Entah benar entah tidak, cuma dia yanng bisa merasakan. Tapi ketika mendengar itu perasaan saya bukan skeptis atau justru mengawang-ngawang. Terus terang saya iri. Iri karena kebahagiaan dia terdengar sederhana. Hanya dengan melihat dan berada di dekat orang yang dia sayangi, dia bisa bahagia.
Sementara coba tanya saya. Apa yang buat saya bahagia saat ini?
Punya gadget baru? Bisa traveling ke luar negeri?Merawat diri ke dokter muka atau salon favorite? Semua sudah di depan mata. Apa saya bahagia? Jujur gak sepenuhnya iya. Saya bersyukur, tapi tidak masuk kategori orang-orang yang berbahagia seperti motivator-motivator ulung yang tampil di depan publik itu.
Semua obsesi yang tadi saya sebutkan, saya (pikir) bisa buat saya bahagia. Happy. But honestly, in fact its not. Saya coba cari perasaan berdebar-debar senang saat dulu pertama kali punya smart phone, saya coba rasakan perasaan gugup saat pertama kali di add di facebook oleh seseorang, saya coba telusuri apa yang salah apa yang tiudak pada tempatnya, yang menghalangi sebongkah kecil kebahagiaan saya.
Gak ketemu.
Jadi ingat kata-kata bijak katanya kebahagiaan itu bukan tujuan tapi proses perjalanan. Ternyata hal itu benar. Mau secanggih apapun gadget yang saya punya, ke negara manapun saya berkunjung, secantik apapun muka saya karena perawatan ini itu, tapi kalau hati kita tidak diniatkan untuk mensyukuri kemudian berbahagia, semuanya cuma tameng. Hanya dipertontonkan dan menjadi tolak ukur orang lain untuk menilai seakan-akan yang memilikinya itu bahagia.
Bahagia itu memang seharusnya sederhana saja.
Mungkin melihat tingkah polah keponakan saya yang kadang absurd itu buat saya bahagia.
Mungkin melihat mama saya memakai baju batik oleh-oleh dari saya dinas luar kota itu buat saya bahagia.
Mungkin pulang tepat waktu kemudian menonton dvd bajakan dengan dia buat saya bahagia.
Mungkin bahagia itu memang benar dengan merasakan hal-hal kecil yang kadang remeh tapi sebenarnya kaya makna.
Mungkin kadar kebahagiaan tiap orang memang berbeda-beda.
Kalau iya, saya akan terus memilih untuk bahagia dengan cara-cara sederhana.
Daripada menaruh obsesi setinggi patung liberty, tapi nantinya hanya hangus terbakar.
Saya pilih bahagia dengan cara saya.
Bahagia itu seharusnya sederhana.
Dan saya akan membuat dia menjadi iri. :P
Comments