Hari ini banyak pertanyaan saya untuk Tuhan.
Apa benar ilmu yang paling sulit dipelajari adalah 'ikhlas'?
Apa benar ilmu yang paling sulit dipelajari adalah 'ikhlas'?
Ikhlas, berarti bersih dari rasa iri
Ikhlas, berarti bersih dari rasa ingin seperti
Ikhlas, berarti tidak memiliki ambisi
Ikhlas, berarti apa adanya menerima
Ikhlas, berarti membiarkan yang tidak seharusnya terjadi, terjadi
Ikhlas, berarti walaupun tahu sesuatu tidak adil, tetap membiarkan
Ikhas, berarti mendasarkan segala sesuatu yang terjadi, semua sudah tergaris di satu lintang kekuasaan
Ikhlas, banyak sekali artinya Tuhan.
Ikhlas, mendasarkan segala sesuatu yang kita terima adalah kehendakMu.
Hari ini saya berhadapan lagi dengan pelajaran maha sulit yang sedari dulu, nilai yang saya dapat tidak pernah konstan berada di tinta hitam selalu.
Jika Dia bagikan buku lembar penilaian, pastilah merah banyak tertumpu di mata pelajaran tersebut. Ujian mata pelajaran itu, tidak pernah terkategori mudah.
Ikhlas, setiap mendengar katanya ingin menghela nafas. Bukan, bukan berdasar mengeluh, tapi sepenuhnya kata itu berkorelasi dengan pengertian yang cukup berat, sehingga nafas seringkali hanya sepercik gesture untuk mengungkap keberatannya.
Ikhlas, mewakili deretan kata frustasi, kecewa, lelah, dan semua perasaan negatif yang dapat terwakili melalui kata. Ikhlas, membelokkan sejuta makian, cacian, amarah, menjadi satu sumur, atas nama kepasrahan pada apa yang sudah SEHARUSNYA menjadi kenyataan. Menyadarkan kita, kata dan kesejutaannya itu, telak cacat makna.
Kata itu melindungi kita dari ambisi yang tidak masuk logika. Proteksi aman dari pertanyaan irasional tentang mengapa, bagaimana bisa, kenapa, atau perandaian seharusnya, jikalau, andai saja.
Kata itu melindungi kita dari ambisi yang tidak masuk logika. Proteksi aman dari pertanyaan irasional tentang mengapa, bagaimana bisa, kenapa, atau perandaian seharusnya, jikalau, andai saja.
Kata itu menggantungkan sekelumit harapan. Segala semesta tidak bergerak mengatur dirinya sendiri. Ada Maha regulator yang memainkan keindahan ketidakadilan atau keadilan yang tidak ketahui. Ada harapan, segala rasa itu terwakili dan terbalas kelak. Oh tunggu. Itu masih belum 'ikhlas'. Bukankah ikhlas itu tanpa mengharap?
Tidak pernah bermaksud untuk menggunggat apa yang menjadi kehendakMu Tuhan, hanya ingin terus bertanya, layaknya seorang murid kepada Mahaguru. Hanya ingin terus mengambil sebanyak mungkin, SKS, jam kerja, jam pelajaran, jam meditasi, atau apapun itu, untuk meningkatkan kemampuan seorang yang biasa agar setidaknya dapat lolos dalam mata pelajaran yang sangat sulit itu.
Tidak perlu nilai bagus, cukup lulus saja. Mau kan terus mengajari saya?
- kalau bekerja semata ibadah, semoga tabungan pahala saya sudah membentuk. Atau apakah ini disebut tidak ikhlas, karena masih mengharapkan imbalan? -
Comments