Skip to main content

From Papua to Jogja :D

Lately, i'm getting a little boring doing my activities in office. Mungkin karena udah setahun lebih sebulan dikit kerja di tempat yang sama saya jadi agak2 bosen. Mengingat sebelum2nya saya cuma mampu 'bertahan' bekerja di satu tempat maksimal satu tahun.

Atau mungkin juga karena di awal tahun kayak gini kegiatan di kantor belum padat alias hectic karena anggaran kementerian memang belum cair jadi kerjaan saya banyak diisi dengan mikirin mau-makan-apa-ntar-malem atau pakai-baju-apa-untuk-aerobik-jumat-nanti. Anyway, apapun latar belakangnya yang jelas saya bosan.

Kebosanan itu buat saya hal yang menakutkan.

Karena bisa berakibat gawat. Harus selalu di renewable, diperbaharui. Nah gimana nanti kalau udah berpasangan alias nikah terus tiba-tiba satu hari pas bangun tidur saya bosan lihat muka suami saya?Masa dia harus operasi plastik untuk memperbaharui mukanya? haha, oke its getting weird.

Baiklah, untuk mengisi kebosanan ini saya mau sedikit cerita tentang beberapa kegiatan perjalanan saya ke tempat-tempat baru yang saya kunjungi. Kenapa saya tulis? Ini sebagai pengingat aja bahwa saya somehow, pernah merasa beruntung bisa datang ke tempat-tempat ini.

1. Papua, early December 2011

Wuhuu. Gak pernah ada di mimpi saya sekalipun kalau saya bisa menginjakkan kaki di tanah Papua! Sampai pas ditawarin untuk berangkat ke sana pun saya masih terbingung-bingung dan terbengong-bengong. Serius nih? Papua meen! Dan gak tanggung2.. Papua yang saya dan rombongan kantor (fyi, ini dalam rangka perjalanan dinas) datengin selama 6 hari ini adalah kota paling timur Indonesia... yaitu Jayapura! Kalau batas Indonesia-Papua Nugini di timur bawah adalah Merauke, maka Jayapura itu batas di timur bagian utara nya. 

Dari Jakarta perjalanan dimulai pkl.22.00 WIB. Sebelumnya saya udah tau kalau untuk sampai Jayapura itu makan waktu sekitar 7-8 jam! Bahh. Udah kaya ke Australia..Daaan dengan merananya saya dan rombongan naik maskapai penerbangan li*n air yang terkenal ketidaknyamanannya itu. Beda jauh dengan kalau kita naik Garuda, hati tentram pikiran damai. Alhasil, sebelum berangkat saya terpaksa sudah dihantui pikiran-pikiran mengerikan takut pesawatnya kenapa2, tkt nanti di dalam pesawat gak nyaman, dsb. Oke anggaplah saya lebay. Tapi ini penerbangan jauh pertama saya yang bukan cuma sejam-dua jam. Bayangin 7 jam perjalanan udara, di malam hari pula. :/

Anyway, setelah berhasil meyakinkan diri kalau penerbangannya bakal baik-baik aja, maka berangkatlah saya. (Yaiyalah berangkat, gak bisa nolak, perjalanan dinas! -__-. Well, penerbangannya sih gak terlalu terasa horror karena (hampir) sepanjang perjalanan saya (nyoba) tidur. Tapi yang bikin tersiksanya adalah bangku pesawat yang gak bersahabat sangat gak cocok untuk penerbangan jarak jauh. Alhasil mau nyoba tidur sampe mata sepet juga gak akan nyenyak. Coba aja. 

Take off sekitar pkl 22.00 WIB, sampai di Papua pkl. 07.00 WIT. Jadi yaa berapa jam perjalanan itu kira2...dengan transit dulu di Makassar finally we arrive at JAYAPURA. Kesan pertama, kota itu berupa bukit, danau, dan sirih. Buat yang gak tau, sirih itu sejenis makanan cemilan khas orang papua yang berasal dari buah sirih, rasanya (katanya) pahit, dan menimbulkan merah-merah di bibir kayak abis pakai gincu. Mayoritas orang Papua yang saya temui di bandara sedang mengunyah sirih. Sampe-sampe ada tulisan warning khusus yang gak ada di bandara lain, isinya : DILARANG MAKAN SIRIH DI AREA BANDARA. Hahaha. Addict banget kayaknya si sirih ini.

Disana saya nginap di hotel yang agak jauh dari pusat kota, sekitar 20 menit. Kalau dari atas pesawat, Jayapura berupa gundukan perbukitan hijau, ketika berkeliling pun kota itu memang berupa bukit, danau, laut dan pepohonan. Jalanan menuju pusat kota berupa belokan-belokan yang dipinggirnya danau. Dan pusat kota bersinggungan langsung dengan laut lepas. Best view yang keren itu persis di pusat pemerintahan provinsi Papua. Depan kantor pemandangannya langsung laut! Dan pelabuhan... Ah iri banget deh andai Jakarta kaya gitu. Ngelepas penat gampang banget, tinggal duduk di pinggir pantai. Dan pantainya gak sembarang pantai, baguus banget! ~

View dari depan kantor Pemprov Papua.... *iri maksimal*


Sebagai kota yang letaknya paling ujung, harga barang-barang disana lumayan mahal. Terutama makanan. Satu gelas kopi aja bisa sampai 10 ribu, itu di warung lho. Atau makanan lainnya harganya bisa sampai 2 kali lipat dari Jakarta. Hal itu wajar, mengingat biaya distribusi yang dihabiskan untuk mengirim bahan makanan pokok sampai sana lumayan juga. Dan lama tentunya.Tapii Jayapura kaya akan hasil lauut! Ikannya enak dan gurih. Ada satu jenis ikan yang biasa dijadikan oleh-oleh khas sana. Namanya Ikan Asar. Dan itu ikan paling berasa yang pernah saya makan.

Bicara mengenai budaya, saya baru tahu kalau orang Papua itu senang minum minuman keras. Mereka biasanya banyak menghabiskan minuman kalau malam minggu atau di tanggal-tanggal muda ketika gajian. Katanya sih, 'budaya' itu juga sama persis dengan yang dilakukan orang aborigin di Australia.

Dari yang apa saya sering baca di koran, kabarnya orang Papua sering merasa di 'anak-tirikan' oleh pemerintah karena letak wilayahnya yang jauh dari ibu kota. Kesejahteraan masyarakat disana dianggap masih jauh tertinggal. Fyi, disana hukum adat masih berlaku sekali lho. Kadang malah melebihi hukum negara. Masyarakat disana lebih takut dengan tata cara adat dibanding hukum kita sendiri. Contohnya, hukum palang-memalang. Sengketa bangunan sering banget terjadi disana. Ketika hukum negara sudah mensahkan kepemilikan suatu bangunan, sewaktu-waktu bisa saja penduduk sana mengklaim hak milik tersebut, dan jika memeras si pemilik sebenarnya. Kalau gak dituruti permintaannya, maka siap-siap aja bangunan tsb dipalang.

Banyak usaha sebenarnya yang dilakukan pihak pemerintah pusat untuk ikut memajukan kesejahteraan masyarakat Papua. Tapi faktor kemalasan, budaya dan kemauan masyarakat asli nya sendiri yang kadang jadi kendala. Atau mungkin pendekatan yang dilakukan pemerintah sendiri yang justru belum melibatkan unsur-unsur adat yang mendarahdaging di daerah tsb. Sekarang bagaimana masyarakat disana mau sejahtera kalau mereka sendiri maunya tinggal enaknya aja tanpa harus bersusah payah? hmmm. #justsaying

Karena udh jauh-jauh dtg ke Jayapura, maka tempat-tempat wisata disana kaya Danau Sentani, Pantai Besji, Tugu McArthur, sempet saya datengin. Dan emang bener ya, Indonesia itu kaya sekali.

Danau Sentani Jayapura dari atas Tugu McArthur. Damn Beautiful isn't it?







  Jayapura view from 'Jayapura City', bukit dimana kita bisa lihat seluruh kota Jayapura dari atas... Feels like in Hongkong.. :p

























Jalan menuju kota Jayapura dari Bandara Sentani

2. Jogjakarta, middle of Dec 2011

Saya sudah jatuh cinta dengan Jogja, bahkan sebelum saya kesana pun. Ada sesuatu tentang Jogja yangpunya daya magnet sendiri. Selama ini cinta saya bertepuk sebelah tangan, sampai Desember kemarin, akhirnya saya dikasih kesempatan untuk kencan (bukan 'di)' tapi 'dengan' Jogja. :))

Tapiii perlu perjuangan yang gak gampang untuk sampe di Jogja. Karena.... saya berangkat dengan menggunakan mobil! Waktu liburan yang cuma 3 hari akhirnya habis satu hari dipake dalam perjalanan doank. Berangkat dengan ngabisin sekitar 13 jam di jalan akhirnya saya pun melihat Jogja. Ah kota itu. Jawa, asli dan budaya. Itu yang pengen saya rasain ketika berada di Jogja.

Anyway, ada warna yang mengiringi liburan saya disana. Karena saya berangkat bareng rombongan si Abo dan teman-teman kantornya yang bawa pasangannya masing-masing otomatis ada banyak kepala yang mau gak mau punya ‘konsep’ liburannya masing-masing. Plus ditambah saya baru ketemu mereka pertama kali ya waktu itu.


Kalau saya, pergi ke suatu tempat atau kota yang belum pernah dikunjungi itu kesempatan buat jalan-jalan keliling sepuas-puasnya ke objek wisata yang terkenal dari daerah tsb. Mm kuliner? Boleh, sebagai kewajiban biar tetep ada tenaga untuk jalan. Hmm belanja? Boleh, tapi nanti. Kalau episode jalan-jalannya udah pol dan semua tempat yang mesti dikunjungi udah dijamah. Sementara, konsep liburan mereka itu adalah…. belanja, belanja dan BELANJA. Pfffttt.

Singkat kata, rencana yang udah dibuat oleh si Abo berantakan karena mereka semua lebih memilih leyeh2 di hotel dan belanja dibanding harus berkorban dikit capek2 untuk keliling Jogja. Akhirnya, kita jalan masing2. :/

Mungkin semua tau Jogja itu kaya akan budaya. Kalausaya dikasih pilihan bisa lahir dimana, saya pengen deh lahir di Jogja. Budayanya kental banget. Pas masuk keraton Jogja, hawa keningratan dan kebudayaan Jogja itu masih kerasa banget. Ditengah gempuran kebudayaan baru yang datang dari luar, Jogja bahkan masih menerapkan pemerintah Kesultanannya. Saking cintanya rakyat Jogja sama adat istiadat daerahnya dan kepercayaan mereka akan kepemimpinan kesultanan yang turun menurun. 

Jogja itu punya semuanya. Kemodernan itu berdampingan dengan kemurnian budaya Jawa. Wisata alam ada, wisata budaya ada, wisata sejarah pun Jogja punya. Waktu sekian belas jam duduk di bangku mobil dan pertengkaran sengit yang sempat mewarnai liburan saya disana ternyata gak merubah warna asli saya sama Jogja. Justru warna-warni itu bergradasi jadi untaian pelangi. Looking forward to see you soon, Jogja. :))

Borobudur Temple

Kereta Sultan Hamengku Buwono VII @ Keraton

ps : i'm looking forward to see Raja Ampat, Papua. wish it will come true someday. xD




Comments

Popular posts from this blog

Crap

Kamu cinta dia? Iya. Kamu mau hidup sama-sama dia terus? Mau. Kamu yakin dia bisa bikin kamu bahagia? Ya. Kamu yakin dia mau menjalani hal yang sama seperti kamu? Tidak tahu. Kamu yakin perasaan dia sama kuatnya dengan yang kamu punya? Tidak. Lalu kamu berpegangan sama apa? Tidak tahu. Kadang jatuh cinta dan menjalani hidup bersama-sama seseorang itu dua hal yang berbeda dan tidak bisa berjalan beriringan. Oh crap. Yess. Life is a bunch of crap.

yess, it's dufan beybeh!

wohh such a busy days coming my way these month.. Padahal dari kemarin pingin banget nulis cerita ini. Singkat kata, jadi akik punya teman yang mana bernama Boni sudah hampir seperempat abad hidup di dunia ini tapi belum pernah ke ... DUFAN! yess, dufan beybeh! Anyhow,  karena beliau berasal dari luar daerah yang jauh dari endonesah sodara2... (read : Madiun), jadilah beliau ini belum pernah menapakkan kaki di dunia fantasi kebanggan milik masyarakat Jakarta itu.  Entah mungkin karena belum sempat, tidak ada yang mengajak, kurang duit karena anak rantau, gengsi atau justru karena rasa nasionalismenya kurang, beliau lebih memilih bertandang ke USS terlebih dahulu. Sayang sekali. Masih ada anak muda seperti beliau yang seharusnya bangga akan produk bangsa sendiri. Jangan ditiru ya.  *prihatin* Beruntunglah Boni karena ia punya teman yang sudah baik, cantik dan tidak sombong lagi... (silahkan kalau mau muntah bak sampah di sebelah kanan). Temannya ini s...

Turning 25

I'm blessed. Because i have so many and see everything. I've been traveling that much, i've so many experiences, i met a lot of people, i feel so many culture, food, challenge, view, atmospher, i had so many things in my life to thankful for.  At the beginning you'd wish for everything. You wish for a great life, perfect house, cool vehicle, best opportunities. As i through this year, in the end, everything that i could thank for is i had so many problem which makes me more mature, tough, strong, and grown as a human being. i dont have that perfect life, i (still) not getting married, i had the up-side down mental problem, sometimes i mess up. But that what you should do in your life, get messed up. And then you can learn. Anehnya, setelah sebelumnya takut dan deg-degan menjelang usia ini, ketika harinya tiba saya merasa sangaat bersyukur. Bersyukur punya keluarga yang lengkap dan menyayangi, bersyukur punya teman-teman yang baik hati, bersyukur punya peker...