Skip to main content

How does it feel.. to meet a LEGEND?

Setahun kemarin, saya masih sibuk menghitung uang disebuah kota kecil dengan pekerjaan yang tidak saya sukai, pun di bidang yang gak saya sukai. Gak pernah ada di benak saya sekalipun untuk bisa berbincang dengan seseorang seperti Prof. Dr. Ing, BJ Habibie. Tapi ternyata nasib memang ada. I'm the lucky one.

Saat atasan saya menelepon dihari sabtu pagi, terus terang yang ada dalam pikiran saya adalah "urusan sepenting apa yang mengharuskan saya mengangkat telepon ini?"

Ternyata, saya diminta mempersiapkan pertanyaan dan perlengkapan untuk menemui Presiden RI ke 3 yang sekaligus Mantan Menteri instansi tempat saya bekerja sekarang. Dan saya punya waktu dua hari.  

Nervous, senang, takut, dan merasa bingung jadi domimant feeling. Satu hari terakhir pun saya pakai untuk memikirkam pertanyaan apa yang mau saya ajukan kepada Bapak Teknologi itu. Lima pertanyaan akhirnya rampung dengan bantuan fact finding dan minta pendapat sama-sini.

Singkat cerita, bersama seoramg teman yang sampai saat ini belum punya pacar, sebut saja namanya Boni Agusta, dan 3 orang Tim dari media, kamipun sampai dikediaman pribadi Pak Habibie. Karena baru pertamakalinya mau ketemu langsung dengan beliau face to face, kami berangkat 2 jam sebelum pertemuan dimulai. Padahal jarak dari kantor ke kediamannya cuma 15 menit.  -___-

Selama 2 jam lebih 30 menit kami duduk sabar diruang tunggu sambil membahas gimana kalau suatu waktu si Boni keduluan adiknya nikah duluan yang jarak umur nya sekitar 10 tahun itu. *oke Ini gak penting*

Tapi mudah-mudahan Boni cepat dapet jodoh….  #teteup  #gakpenting

Setelah menunggu cukup lama, asisten pribadi Pak Habibie mempersilakan kami untuk masuk ke persputakaan pribadinya.

Maaaaan! Waktu dikasih tahu kalau nanti kami diterima Bapak di perpustakaan pribadinya, yang ada dalam benak saya adalah cuma perpustakaan dengan beberapa kursi sofa nyaman dan beberapa lemari buku. Ya selayaknya ruangan pribadi yamg comfort buat leyeh2 baca buku.

Ternyata.....

jreng jreng...

Tempatnya keren abis! *pingsan*

Dekorasinya dominan dengan warna coklat kayu dan ukiran-ukiran Jawa. Ada ribuan buku yang terpajang disana. Dua pintu besar lagi ditemui didalam ruangan. Belakangan saya baru tau kalau pintu itu menuju ruang kerja Pak Habibie dan Bu Ainun. Saya dan teman-teman buru-buru setting alat sambil diperhatikan terus oleh pengawal Bapak. Gak lama setelah mengkonfirmasi semuanya sudah siap, mereka pun menjemput Pak Habibie.

*damn cool, isn't it?*



Perasaan tegang kembali datang karena saat itu atasan-atasan kami para pejabat yang seharusnya menampakkan muka lebih dahulu dihadapan Pak Habibie, malah belum sampai di tempat.

Gak lama...
The legend came in... He's there.
BJ Habibie masuk ruangan dan ketika melihat kami yang terbengong-bengong, dengan hangat beliau menyapa :

"Halo!"

Oh Tuhan. What should we do?
Dengan mengumpulkan segala tampang “gw-gak-nyangka-ini-bakal-terjadi”, saya pun maju memperkenalkan diri.

Beliau itu orang hebat sekali. Tapi baru kali itu ada orang hebat saat menjabat tangan lawan bicaranya beliau menanyakan ulang nama saya agar tidak salah dengar, dengan tidak melepaskan genggaman tangannya.

And the best part is.. He said i'm pretty just like my name..:)
Okey man just tell me that wasn't dream..!

Sayangnya saksi hidup pada waktu itu yang melihat langsung kejadian tersebut cuma Boni, yang dibayar berapapun pasti bakal bilang kejadian itu gak pernah ada.

Sikamfret..  x))

Anyway, gak lama, para pejabat itu pun datang. Tugas saya waktu itu cuma mendampingi sesi wawancara dan menyimak pernyataan beliau dengan para pejabat itu. Tapi, saya jadi punya kesempatan duduk satu meja dengan mereka karena harus mendengarkan apa aja yang dibicarakan.

Sempat nyubit tangan berkali-kali saking gak percayanya berkesempatan duduk satu meja dengan beliau. I’m kind afraid that was just dream.. hahaha.. *norak*

Dari awal sudah diberitahu kalau beliau itu senang mengobrol. Belum ada satupun dari kami yang membuka percakapan, beliau sudah cerita panjang lebar.

His  story

begins with a flashback at 1994 …

Ada satu organisasi internasional bernama International Civil Aviation Organization (ICAO) yaitu asosiasi penerbangan dunia yang saat itu merupakan organisasi terbesar, terkaya dan berpengaruh di bidang penerbangan. ICAO didirikan di Chicago, AS, pada 7 Desember 1944, yang kemudian menjadi salah satu Badan PBB.

Diulang tahunnya yang ke-50 pada 1994, ICAO memberikan penghargaan bernama Edward Wanner Award. Sebuah penghargaan yang untuk pertama kalinya diberikan tahun itu pada seseorang yang berjasa dan kompeten dibidang penerbangan. Penghargaan tersebut hanya diberikan 50 tahun sekali, medali berikutnya baru akan diberikan tahun 2044. Penilaian dilakukan dengan melibatkan pihak pemerintah (PBB), akademisi dan pihak perusahaan penerbangan di seluruh dunia. Dan BJ Habibie, masuk dalam salah satu daftar nominatornya.

Beliau, yang saat itu menjabat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi datang memenuhi undangan ICAO dengan istri dan anak-anaknya.

And he’s won the award. Dia terpilih.
Indonesian man won international prestigious award that only given every 50 year. More than a noble, more than just award. Jerman, Amerika, Rusia, nominator dari seluruh dunia ada. Tapi ICAO memilih orang INDONESIA.

Ketika menyampaikan ceritanya atas penghargaan yang diperoleh, ini sepenggal kalimat beliau :

“Saya mau menyampaikan satu, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi bukan hak prerogatif dari ras tertentu, agama tertentu, etnik tertentu, dari miskin atau kaya. Tapi adalah hak dari semua umat manusia,” –Habibie-

Ada tiga pertanyaan yang disepakati harus dijawab saya ketika melakukan konferensi pers. Pertanyaan itu adalah : Waktu tanggal 7 Desember 1944 ICAO didirikan jam 10 pagi di Washington,

anda usia berapa?
Kedua, anda dimana?
Ketiga, anda sedang membuat apa?

Saya lahir 1936, pada 1944 saya umur 8 tahun. Waktu itu orang tua saya sedang ditawan mau dibunuh oleh Jepang dan kami tinggal dipinggir hutan dirumah dari kayu. Pagi-pagi saya sedang memandikan kuda karena saya tidak sekolah hanya sekolah ngaji. Jam 10 pagi di Washington berarti 10 malam di Sulawesi, saya biasanya habis solat isya dan sedang mengaji.

Finish.

Kalau 50 tahun yang lalu ada orang yang mengatakan anak itu yang tinggal di rumah bugis pakai sarung sedang baca alquran umur 8 tahun, nanti 50 tahun kemudian dia akan mewakili umat manusia mendapatkan penghargaan, orang bilang kamu sinting.

Disitu kebesaran Tuhan.

Saya bilang ini sama anda kenapa?
It could be yourself.
 
Saya bukan keturunan Arab, Jepang, Belanda, darah saya bugis, melayu, jawa, saya asli Indonesia. Jadi apa yang saya alami membuktikan bahwa kita tidak ada bedanya dengan yang lain. That is the message, I have to tell you.

Tidak ada manusia manapun di dunia ini yang berhak meragukan kemampuanmu berilmu pengetahuan.

Dalam 2 jam setengah obrolan dengan beliau, banyak hal yang sangat menginspirasi, memotivasi sekaligus mengilhami. Disana, masih kelihatan sedikit ‘luka’ masa lalu yang beliau alami yang disampaikan lewat cerita-ceritanya.
Seperti penolakan MPR atas laporan pertanggungjawaban jabatan Presidennya, lepasnya Timor Timur di waktu kepemerintahannya, dan obsesinya membangun industri pesawat terbang yang seringkali disepelekan.

Penolakan MPR :

Sepenggal kalimat beliau….
Kalau saja waktu itu 51% suara menerima pertanggungjawaban saya, saya mau mencalonkan diri kembali menjadi Presiden. Tapi ternyata sebaliknya, mereka menolak. So do it yourself.  Saya cerita ini sama anda-anda itu, supaya kita jangan takabur, jangan lupa daratan.
Masih banyak yang bisa dilakukan selain menjadi Presiden.

Lepasnya Timor-timur :

Batasan Indonesia ditentukan oleh batasan penjajah. Ada garis pemisah karena yang satu bekas jajahan Belanda, yang satu bekas jajahan Portugal, dan lain sebagainya. Jadi yang mempersatukan kita adalah status quo yang diberikan penjajah itu. Oleh karena itu, kita bisa mengatakan yang merekatkan kita adalah karena mengalami nasib yang sama yaitu dijajah oleh orang lain. Karena itu pada kata pembuka Undang-undang 45 kita jelas sebutkan tidak akan tolerir suatu bangsa di muka bumi ini dijajah oleh orang lain. Jadi dalam hal ini Timtim jangan disamakan dengan Papua, Aceh, Maluku, atau mana saja. Setiap orang berhak menentukan kemerdekaannya atas suatu hal. Termasuk juga kebangsaan. Tapi, tidak boleh ada satu negara kecil pun tetangga kita yang memperlakukan, menganggap kita sebagai penjajah. Oleh karena itu saya bilang sama Timtim, mau ikut dengan saya jangan neko-neko, tapi kalau tidak, maka kita berpisah sebagai kawan.

For me, its like he’s try to make a clarification about what he’s done in the past. He’s try to make a point, to make us understand, all of them is the right decision for this country.  But you know what Sir? You don’t have to. We’ve already trust you.

And now i know, how really feels to met a legend. Thank you Sir! :)

*all the photos taken by Boni






Comments

Anonymous said…
This is just KEWL yuuu... Keep writing! Muah muahh :D
a.p.s said…
Thankk youuu mba.... :DD

Popular posts from this blog

Crap

Kamu cinta dia? Iya. Kamu mau hidup sama-sama dia terus? Mau. Kamu yakin dia bisa bikin kamu bahagia? Ya. Kamu yakin dia mau menjalani hal yang sama seperti kamu? Tidak tahu. Kamu yakin perasaan dia sama kuatnya dengan yang kamu punya? Tidak. Lalu kamu berpegangan sama apa? Tidak tahu. Kadang jatuh cinta dan menjalani hidup bersama-sama seseorang itu dua hal yang berbeda dan tidak bisa berjalan beriringan. Oh crap. Yess. Life is a bunch of crap.

yess, it's dufan beybeh!

wohh such a busy days coming my way these month.. Padahal dari kemarin pingin banget nulis cerita ini. Singkat kata, jadi akik punya teman yang mana bernama Boni sudah hampir seperempat abad hidup di dunia ini tapi belum pernah ke ... DUFAN! yess, dufan beybeh! Anyhow,  karena beliau berasal dari luar daerah yang jauh dari endonesah sodara2... (read : Madiun), jadilah beliau ini belum pernah menapakkan kaki di dunia fantasi kebanggan milik masyarakat Jakarta itu.  Entah mungkin karena belum sempat, tidak ada yang mengajak, kurang duit karena anak rantau, gengsi atau justru karena rasa nasionalismenya kurang, beliau lebih memilih bertandang ke USS terlebih dahulu. Sayang sekali. Masih ada anak muda seperti beliau yang seharusnya bangga akan produk bangsa sendiri. Jangan ditiru ya.  *prihatin* Beruntunglah Boni karena ia punya teman yang sudah baik, cantik dan tidak sombong lagi... (silahkan kalau mau muntah bak sampah di sebelah kanan). Temannya ini s...

Turning 25

I'm blessed. Because i have so many and see everything. I've been traveling that much, i've so many experiences, i met a lot of people, i feel so many culture, food, challenge, view, atmospher, i had so many things in my life to thankful for.  At the beginning you'd wish for everything. You wish for a great life, perfect house, cool vehicle, best opportunities. As i through this year, in the end, everything that i could thank for is i had so many problem which makes me more mature, tough, strong, and grown as a human being. i dont have that perfect life, i (still) not getting married, i had the up-side down mental problem, sometimes i mess up. But that what you should do in your life, get messed up. And then you can learn. Anehnya, setelah sebelumnya takut dan deg-degan menjelang usia ini, ketika harinya tiba saya merasa sangaat bersyukur. Bersyukur punya keluarga yang lengkap dan menyayangi, bersyukur punya teman-teman yang baik hati, bersyukur punya peker...