"Perempuan itu katanya hanya satu kali jatuh cinta seumur hidupnya. Benarkah?"
"Aku gak tahu. Kamu tahu kan aku berkali-kali ganti pacar"
"Ya aku tahu. Tapi apa kadar cintamu sama terhadap semua pacarmu itu?"
"Aku tidak bisa mengukur. Matematikaku payah!"
"Cinta gak pakai matematika Mba. Tapi perasaan,"
Wanita itu berpikir diam.
"Aku gak bisa jawab. Sebenar-benarnya perasaan, sulit buatku mengukur yang lalu-lalu. Yang jelas, aku merasa yang sekarang segalanya,"
"Kenapa?"
"Karena hanya dia yang mampu bertahan,"
"Cuma itu?"
"Itu sudah lebih dari cukup,"
Sepuluh menit setelah si wanita pergi, si gadis merenung.
"Saya pesan cappucino lagi satu"
Berselancar mengelilingi dunia maya ditengah-tengah kafe yang penuh oleh pasangan muda-mudi menjadi hiburannya tersendiri pada minggu sore seperti ini. Menghabiskan sisa waktu.
Blogwalking. She loves it much.
Diketiknya dengan iseng nama sang penari itu.
"Karyani Soemarno"
Nama penari terkenal itupun muncul beruntun di layar netbooknya. Satu yang seringkali menggugah, diarahkannya mouse ke link tersebut.
karyani-soemarno.wordpress.com
Tulisan si wanita selalu membuatnya terlarut begitu nikmat tertempel di kursi kafe yang empuk.
Rupanya wanita itu lebih banyak bercerita tentang perjalanan karir, kesuksesannya, memotivasi setiap orang yang menyempatkan diri berkunjung.
Sampai di satu artikel, si gadis tertegun.
Title : "Jika suatu hari kamu bertanya"
Publish date : August 2, 2005
Dear kamu,
Aku tahu ini sudah hampir empat tahun sejak hubungan kita benar-benar putus.
Aku tahu sekarang tentangku saja belum tentu terlintas dalam pikiranmu. Tapi tidak dengan tentangmu.
Aku tahu kamu gak tahu kalau kamu masih berkeliaran dalam alam sadarku.
Tahukah kamu?
Setiap teringat satu hal kecil saja tentangmu ,
Membuatku mengerjap barang sedetik dua detik
Kamu belum hilang dari memori aku
tahukah kamu?
Betapa setiap hari aku selalu berdoa agar kamu hilang dari ingatanku
Hilang dari semua hal yang bisa mengingatkanku akan kamu
aku meminta banyak sama Tuhan
Betapa setiap saat aku berharap akan ada orang yang bisa membantuku menjauhkanmu
Membuatku lebih mencintai dia daripada kenanganmu
kenapa kenanganmu?
Karena aku memang lebih menyanjung kenangan sikap, sifat, perlakuan, rasa aman, rasa sayang, yang dulu pernah kamu sajikan manis.
sedangkan dirimu?
Sekarang aku bahkan tidak bisa mengukur mana yang lebih besar rasa benci atau cinta kepadamu,
ya aku mencintai kenanganmu, bukan kamu
tahukah kamu?
Betapa semakin aku memikirkan tentangmu, tentang kita
Betapa aku semakin merasa menyedihkan dan sia-sia
Betapa semua pengorbanan yang aku lakukan (dan mereka tidak tahu) membuatku merasa semakin sia-sia
Betapa aku ingin menjelaskan pada dunia bahwa ada alasan di balik semua perbuatan
Bahwa sampai usaha terakhir pun aku masih memperjuangkan kita
Bahwa sampai aku diinjak-injak dengan caci maki itupun tidak ada rasa malu
Karena aku sedang memperjuangkan kita
Bodoh ya aku
Dear kamu,
Aku menanti saat kesadaranku kembali
Bahwa kamu tidak peduli
Bahwa kamu sudah menjalani hidup kamu yang baru
Bahwa kamu tidak memperjuangkan kita lagi
Bahwa mungkin kita sudah sama-sama berjuang tapi masih belum ada garis yang mengembalikan kita
Kamu bilang suatu saat jika jodoh pasti kembali
Mungkin kamu bodoh juga ya,
Aku bilang jodoh harus berusaha
Kalau kamu menyerah aku menanti saat dimana aku mengerti bahwa semua ini sudah ada yang mengatur
Bukan, bukan cuma hitungan jumlah manusia layak yang patut dicintai
Tapi juga setiap nikmat yang seharusnya ku syukuri
Tentang orang lain yang masih berdiri disana saat aku merendahkan harga diriku mengemis kamu kembali (tapi kamu ternyata gak kembali)
Tentang orang lain yang menerima semua tentang aku dengan toleransi yang begitu besar
Tentang orang lain yang menunggu aku menanti kesadaranku tadi
Tentang orang lain yang begitu besarnya mencintai aku
Aku masih berusaha
Bukan menggantikanmu dengan yang lain
Karena setiap manusia tidak bisa menggantikan satu dan lainnya
Tapi belajar mencintai
menghargai, mensyukuri orang lain karena tuhan mengirimkannya
Siapapun itu
Aku belajar menjalai kenyataan hidup aku yang memang sudah tidak ada kaitannya denganmu ini
Sepahit apapun aku menanti kesadaranku kembali
Sesulit apapun melatih pikiranku agar terhindar dari memori tentang kamu
Aku masih belajar
Aku sudah berulamg kali berterus terang
Tapi punya daya apa aku
Menyuruh pergi orang lain sedang ia tidak mau pergi
Ya memang aku masih belajar
Guruku diriku sendiri
Betapa sampai sekarang disaat kamu tidak memilih akupun aku tidak dan belum juga bisa
sepenuhnya membenci kamu
Mungkin itu anugerah
Karena hatiku memang tidak didesain untuk membenci orang
2 Agustus 2005
Sejam setelah melihat kamu dengan dia didepan hidungku
Si gadis terhenyak.
Teringat kembali percakapannya beberapa jam yang lalu dengan Karyani....
Topeng penari itu benar-benar sempurna
Atau dia memang sepenuhnya sudah menemukan kembali kesadarannya?

Comments