Saat semua orang gak berhenti mempertanyakan keputusan kita. Keputusan yang sama yang membawa kita sampai ke satu tempat baru. For any shake, Jakarta only takes 2 hours from my home town.
Mereka selalu bilang :
KENAPA JAKARTA?
Kenapa kamu gak tetap tinggal di kota ini?
Kenapa mesti menantang Jakarta?
Kenapa mesti jauh-jauh?
Kapan pindah ke sini?
Itu pertanyaan latar belakang. Kadang, bentuk pertanyaan seringkali berubah lagi dengan kata tanya "what if"
Gimana kalau nanti udah berkeluarga?
Gimana kalau nanti udah tua gak capek bolak balik terus?
Gimana kalau nanti udah gak ngekos? mau tinggal dimana?
Dan sekian pertanyaan bernada khawatir lainnya yang dilontarkan.
Kenapa? Gimana?
Pertanyaan selanjutnya : APA SAYA TAKUT?
YA, SAYA TAKUT.
Untuk tinggal di kota ini, kita harus punya kaki sepuluh kali lebih kuat, mental seratus kali lebih sabar, mata seribu kali lebih jeli, tenaga seratus ribu kali lebih banyak.
Apa saya punya semua itu? Nggak, saya gak punya.
Saya cuma punya tekad. Tekad bahwa kota ini juga ditinggali ribuan manusianya yang gak menyerah dengan keadaan disini.Tekad bahwa kalau saya mau lihat ke sekeliling saya sekarang banyak yang punya 'jalan hidup' sebagai perantau di kota ini. Tekad untuk gak mendengarkan lontaran pertanyaan dan nada khawatir orang-orang yang tetap tinggal di kota yang nyaman menurut mereka. Tekad untuk gak selalu melihat kenyamanan yang seolah-olah dipamerkan oleh mereka ketika berhasil hidup disana. Tekad kalau selemah-lemahnya saya, kota ini mungkin udah ditakdirkan untuk saya.
Gak ada yang gak bisa dilewatin kalau kita yakin dan berusaha kan. Ini bukan tentang saya yang secara ambisi pergi, atau tentang kepercayaan diri yang luar biasa, atau lebih jauh lagi tentang dorongan hedonisme yang mengiming-imingi impian orang merantau ke Jakarta. Ini sederhana sesederhana orang yang memang rejekinya dijatahkan di suatu kota.
Ini bukan tentang anak yang gak ingin tinggal dekat dengan orang tuanya. Ini tentang didikan orang tuanya yang begitu kuat sehingga si anak gak pernah ragu ataupun takut ketika meninggalkan rumah demi mandiri dan gak bergantung.
Ini bukan tentang orang tua si anak yang ragu ketika melepas anaknya pulang ke kota lain secara berkala. Ini justru tentang orang-orang lain yang tidak berhenti mempertanyakan alasan dan perandaian.
Ini bukan tentang anak yang gak ingin tinggal dekat dengan orang tuanya. Ini tentang didikan orang tuanya yang begitu kuat sehingga si anak gak pernah ragu ataupun takut ketika meninggalkan rumah demi mandiri dan gak bergantung.
Ini bukan tentang orang tua si anak yang ragu ketika melepas anaknya pulang ke kota lain secara berkala. Ini justru tentang orang-orang lain yang tidak berhenti mempertanyakan alasan dan perandaian.
Disaat kamu udah punya tekad sebaja itu, hal terakhir yang sangat kamu sayangkan adalah pertanyaan-pertanyaan itu. Pertanyaan yang sama, tentang kapan saya kembali. Atau malah lebih mundur lagi, kenapa saya gak tetap disana. Saya gak bisa menjawab atau memastikan semua pertanyaan itu karena setiap kali mereka bertanya, mereka tanpa sadar menambahkan setitik kecil sentuhan ragu ditekad yang udah berbentuk lingkaran sempurna.
Saya gak bisa menjawab atau memastikan jawaban yang tepat karena belum tentu mereka ingin dengar setiap penjelasan, latar belakang, alasan, atau faktor lain yang menyebabkan timbulnya pertanyaan tersebut.
Saya gak bisa menjawab atau memastikan jawaban yang tepat karena belum tentu mereka ingin dengar setiap penjelasan, latar belakang, alasan, atau faktor lain yang menyebabkan timbulnya pertanyaan tersebut.
Kalau saja pertanyaan-pertanyaan itu bisa diganti dengan sedikit doa tentang harapan keberhasilan yang bisa mengganti ketakutan atau keraguan, pasti mulut saya tidak akan cuma terkunci, tapi berterima kasih.
Jangan buat saya enggan pulang dan menyesali segala hal tentang kota itu. Jakarta is my new 'home'.
For the rest of my life, maybe?
For the rest of my life, maybe?
ps : next question would be .... do i hate Jakarta? of course i am! sejuta makian dan cacian bisa saya deskripsikan satu-satu. Tapi seriously, mau sampai kapan sih kita ngeluh? Whatever you like it or not, Tuhan udah 'kasih' kota ini buat saya. So, the only option that i have is just... make a peace with it. Deal with Jakarta.
Comments