" If two people were meant to be together, eventually they will find their way back"
No. Gue bukan balikan sama mantan pacar. Jangan tertipu dengan kalimat diatas. *apeu*
Okey, here's the story. Gue udah berbulan-bulan benar-benar gak saling kontak, saling nanya kabar, saling nyapa melalui bentuk media apapun, bahkan lebaran pun gak maaf-maafan sama sahabat gue dari jaman gue masih pake kaos kaki panjang sebelah (baca: jaman masih cupu banget). Tapi tiba-tiba kemarin, sahabat gue yang mana bernama Tika datang ke rumah dengan membawa undangan pernikahan. (kayak sinetron yee bo). Tapi memang seperti itulah kejadiannya.
Jadi gini, tujuh bulan yang lalu, gue ceritanya berantem berat sama Tika karena suatu sebab (yang klise banget). Dari situ gue sedih sekali, karena kita udah sahabatan selama sepuluh tahun dan tiba-tiba karena masalah sepele itu jadi kayak orang gak kenal sama sekali. I begin not trusting every girl friend i have around. Dan memilih lebih banyak berteman dan bergaul dengan teman-teman cowo. Yess, gue pernah tidak merasa percaya lagi dengan teman cewe. Gue pernah seapatis itu dengan bersikap tertutup dan gak mau ribet dengan tetek bengek cewe. Gue bersikap ramah, ngobrol, becanda, do talk about girl stuff, gossiping, but still i couldn't trust anymore. That friendship really did exist. Bukan karena masalah yang sedang gue hadapi pada saat itu. Tapi karena gue mulai gak percaya sama diri gue sendiri kalau gue bisa jadi sahabat yang baik lagi untuk orang lain. Karena gue gak yakin akan kemampuan gue mempertahankan persahabatan. Karena gue punya ketakutan bahwa sahabat gue itu would someday in any possible way hate me accidentally because of ME, MYSELF. Maka secara gak sadar gue pun membangun tembok itu. It might sound too much, but it did happen AT THAT TIME.
Bicara punya bicara, as i know we've both under the same Sagittarius sign, which is sama keras kepalanya, sama gak mau mengalahnya, sama gengsinya. Fyi, tanggal lahir gue sama Tika cuma beda satu hari. Cuma sekarang dia lebih beruntung aja karena berhasil nikah duluan (HAHAHA IYA GUE TAU INI GAK NYAMBUNG). Jadilah selama masa gencatan senjata itu gak ada yang mau inisiatif dan penuh sukarela mengajak baikan duluan.
Tapi, gue sempat bilang begini ke seseorang : "Gue tahu walaupun kita sekarang kayak begini, gue yakin ntar juga kalo gue ketemu muka sama dia (Tika) paling kita cengar cengir. This is just about the time aja. Ntar juga ada waktunya. Kalo perlu ntar gue dateng deh tuh bawa boneka winnie the pooh ke rumahnya. Tenang..."
Apakah gue dateng? Enggak. Undangan pernikahan Tika duluan yang keburu datang. Bahahahahak. *teman macam apa* *disambit si Tikong*
Dan waktu dia datang bawa undangan, gue yang sedang dalam level mengenaskan (baca : belum mandi, bau, abis lari pagi, keringetan, cuma pake celana pendek dan kaos butut buat lari) terbengong-bengong. Gue gak mikir apa-apa. All i knew, i just came to hug her and cengengesan. And i said i miss her damn much.
Done. We made it. Gak ada itu adegan teriak-teriak marah-marah jambak-jambakan berlinangan air mata segalon kayak di sinetron.
Gue gak mikir mau mengklarifikasi semua yang udah terjadi, mengoreksi mana yang salah, mana yang bukan salah gue, mana yang seharusnya kita berdua lakukan dari awal, mana yang mau gue konfirmasi, nope. I'm just glad that she came. And it's all that matter. And all i wanna know only about her wedding. Because i'm too happy! I'm too excited. This is my bestfriend wedding. She's gonna married in a few weeks!
Why am i so excited? Because we grew up together. Menghabiskan masa-masa abege cupu sama-sama. Meniup liling ulang tahun yang ke 17 sama-sama. Dimarahin guru sama-sama. dimarahin orang tua masing-masing sama-sama, berandai-andai sama-sama, dibilang lesbian sama-sama (anjis!hello everyone... if we dont have
boyfriend for too long at the same time that doesn't mean we're lesbian
anywaaay!), punya visi misi yang sama dalam mengemban tugas ngerjain orang (gue selalu ingat gimana kami naik ke atab kubah sekolah terus manggil-manggil cowo-cowo kece dari situ, kemudian ngumpet dan menyisakan cowo-cowo itu kebingungan, gimana kami waktu kelas 3 malakin adek-adek kelas dikantin dengan muka melas dan bilang "kami belum sarapan maka kasihanilah", gimana kami niat banget bikin tantangan 30 Days Looking For Love, gimana gue pernah hampir kehilangan nyawa (lebay version) karena si Tika nekat nganterin gue pulang pake motor dan hasilnya nabrak tukang ojek di selokan, gimana kami sering naroh sisa-sisa selotip dihidung supaya itu nampak seperti upil dan orang-orang yang melihatnya langsung ilfil seumur hidup dan gimana-gimana lainnya). Kalau salah satu dari kami gak ada, orang-orang pasti nanya Tikong, mana tongky? Tongky, mana tikong? That's happen all the time.
And now SHE'S GETTING MARRIED. Eh belum ya, baru AKAN MENIKAH. :D
How happy i am to know that :)
You mean a lot to me and on those special day of your life, I would like to pray God to fullfill all your dreams and wishes. You two are one of the best couples, may God grant you a happy married life. Wishing you the joy and happiness that you both deserve. You'll become a great wife and soon an amazing mother for your child.
i am so glad that eventually we're back together, here on the right track. We don't need that kind of drama anymore. Better like this Tikong! So much better....
And now i'm practically learn, that no matter how strange it might be, kalau sesuatu sudah seperti seharusnya begitu, ya bakal begitu lagi akhirnya. *maksudnyee* Yah begitulah.
![]() | |
| Eka, Tika, Ayu, jaman Jahiliyah :)) |
![]() | |||
| remember when we used to talk and cry di tempat nista bernama PIZZA HUT |
![]() |
| pasangan yang berbahagia..Dea&TIka. HAPPY FOR BOTH OF YOUUU :* |
![]() |
| OH MY. KENAPA FOTO INI MESTI ADA??? -___- |
PS : sekarang gue lagi bingung nyari kostum warna hijau melon or silver dan salon yang super kece untuk ke kondangan. Kali aja ada yang mau langsung nikahin gue disitu. :))) *toyor kepala sendiri*






Comments