Prett. Judul diatas udah kayak kajian skripsi! Jadi begini, sebentar lagi saya menginjak usia seperempat
abad alias 25 tahun dan saya masih rancu sebenarnya mau dibawa kemana
kehidupan saya ini? Berat ya. *sigh*
I shouldn't take it seriously. My life should be fun. Aha. You wish, ayu.
Tapi,
terpangaruh oleh status-status nan bahagia dewasa ini dari teman-temin
tercinta, saya mulai berpikir jernih (atau terimpulsif) untuk mikirin
yang serius-serius.
Entah awalnya gimana, saya dari kecil sudah dididik untuk menjadi perempuan pekerja. Pendidikan minimal harus sarjana. Mungkin karena saya bersaudara perempuan semua, maka bagi orang tua saya, semua anaknya ya sama seperti anak laki-laki. Alhamdulilah semua anak mereka sarjana. Oh yang terakhir sekarang sedang skripsi.
Mamah itu wanita karir. Senin- sabtu kerja di luar. Untungnya karena pegawai negeri didaerah, mamah bisa pulang jam 1 dari kantor. Sehabis itu masak, atau beli makanan jadi dari luar. Beruntung buat kami karena jam kerja mamah seperti itu, memungkinkan punya waktu lebih untuk di rumah. Sampai akhir-akhir ini, saya gak melihat ada pilihan lain selain menjadi wanita karir plus ibu rumah tangga. Then my sister did so. Tapi Jakarta ini emang keras. My sister work from 08.30 AM to ...... till drop. Jam pulang dia sebenarnya jam 5, tapi seringnya lebih dari itu.
Singkat kata, dia baru bisa nyampe rumah jam 8-9 an malam. I see that she's enjoy it so far. And she really did a great progress in her career. An outstanding one. Tapi pikiran mengenai 'kasian keponakan saya yang harus ditinggal setiap hari' gak berhenti ada. Belum lagi kalau orang tuanya harus berpergian ke luar kota/negeri, terpaksa dia ditinggal atau dititipkan ke kakek & neneknya. Jelas apa yang dialami kakak dengan ibu saya gak bisa dikatakan sama. Berbeda situasi, jaman dan tempat.
Well, selain tuntutan hidup yang semakin berat dan membutuhkan banyak materi, keterlibatan perempuan di dunia kerja juga mostly disebabkan karena trend. Gimana enggak, rata-rata perempuan di negara maju/berkembang sekarang bekerja. Indonesia, -thanks to RA Kartini-, become one of that country. Katanya, banyak manfaatnya kalau perempuan bekerja.
Apa? prestise? memback-up suami? membuka wawasan dan pergaulan? apalagi? i kindly mention a lot of benefit of woman's working. But, i think i don't need to do that.
Saya kemarin cuma berhasil merenung kalau ternyata saya sadar, bukan itu tugas seorang perempuan. Semua manfaat tadi memang benar, tapi bukan disitu pahala saya sebagai perempuan. Saya gak dapat pahala lebih banyak ketika berhasil mengumpulkan penghasilan di tempat kerja dibandingkan dengan saya sekedar (misalnya) membuatkan sarapan untuk suami (amin) saya nanti.
Agama saya ternyata sangat menyayangi kaum perempuan sedemikian rupa sehingga gak perlu susah bagi perempuan untuk mencari pahala. Gak perlu sejajar dengan laki-laki untuk bisa mendapatkan tempat dimata Tuhan dalam agama saya. Gak perlu menjadi sangat pintar untuk mengetahui cara-cara sederhana menyiapkan keperluan keluarga. Gak perlu bersaing dengan banyak orang untuk menjadi seorang Ibu dalam satu rumah seperti bersaing untuk mendapatkan suatu jabatan tertentu (yang baru-baru ini saya jalani).
Kenapa saya menulis semua hal diatas? ya, karena saya baru saja, seperti yang saya sebutkan diatas, menjalani sejumlah ujian dalam rangka memperoleh suatu jabatan dikantor. And the test went really-really-really sucks. Ciyus deh. Sehabis tes yang pertama, saya mikir : "Book, koq gue jadi perempuan susah amat ya mesti mikir buat ngejawab soal-soal tadi. Rasanya pingin jadi ibu rumah tangga aja deh. -_____-" Kemudian sehabis tes yang kedua : "AMPUN DEH. UDAH LAH GUE JADI IBU RUMAH TANGGA AJA".
Entah awalnya gimana, saya dari kecil sudah dididik untuk menjadi perempuan pekerja. Pendidikan minimal harus sarjana. Mungkin karena saya bersaudara perempuan semua, maka bagi orang tua saya, semua anaknya ya sama seperti anak laki-laki. Alhamdulilah semua anak mereka sarjana. Oh yang terakhir sekarang sedang skripsi.
Mamah itu wanita karir. Senin- sabtu kerja di luar. Untungnya karena pegawai negeri didaerah, mamah bisa pulang jam 1 dari kantor. Sehabis itu masak, atau beli makanan jadi dari luar. Beruntung buat kami karena jam kerja mamah seperti itu, memungkinkan punya waktu lebih untuk di rumah. Sampai akhir-akhir ini, saya gak melihat ada pilihan lain selain menjadi wanita karir plus ibu rumah tangga. Then my sister did so. Tapi Jakarta ini emang keras. My sister work from 08.30 AM to ...... till drop. Jam pulang dia sebenarnya jam 5, tapi seringnya lebih dari itu.
Singkat kata, dia baru bisa nyampe rumah jam 8-9 an malam. I see that she's enjoy it so far. And she really did a great progress in her career. An outstanding one. Tapi pikiran mengenai 'kasian keponakan saya yang harus ditinggal setiap hari' gak berhenti ada. Belum lagi kalau orang tuanya harus berpergian ke luar kota/negeri, terpaksa dia ditinggal atau dititipkan ke kakek & neneknya. Jelas apa yang dialami kakak dengan ibu saya gak bisa dikatakan sama. Berbeda situasi, jaman dan tempat.
Well, selain tuntutan hidup yang semakin berat dan membutuhkan banyak materi, keterlibatan perempuan di dunia kerja juga mostly disebabkan karena trend. Gimana enggak, rata-rata perempuan di negara maju/berkembang sekarang bekerja. Indonesia, -thanks to RA Kartini-, become one of that country. Katanya, banyak manfaatnya kalau perempuan bekerja.
Apa? prestise? memback-up suami? membuka wawasan dan pergaulan? apalagi? i kindly mention a lot of benefit of woman's working. But, i think i don't need to do that.
Saya kemarin cuma berhasil merenung kalau ternyata saya sadar, bukan itu tugas seorang perempuan. Semua manfaat tadi memang benar, tapi bukan disitu pahala saya sebagai perempuan. Saya gak dapat pahala lebih banyak ketika berhasil mengumpulkan penghasilan di tempat kerja dibandingkan dengan saya sekedar (misalnya) membuatkan sarapan untuk suami (amin) saya nanti.
Agama saya ternyata sangat menyayangi kaum perempuan sedemikian rupa sehingga gak perlu susah bagi perempuan untuk mencari pahala. Gak perlu sejajar dengan laki-laki untuk bisa mendapatkan tempat dimata Tuhan dalam agama saya. Gak perlu menjadi sangat pintar untuk mengetahui cara-cara sederhana menyiapkan keperluan keluarga. Gak perlu bersaing dengan banyak orang untuk menjadi seorang Ibu dalam satu rumah seperti bersaing untuk mendapatkan suatu jabatan tertentu (yang baru-baru ini saya jalani).
Kenapa saya menulis semua hal diatas? ya, karena saya baru saja, seperti yang saya sebutkan diatas, menjalani sejumlah ujian dalam rangka memperoleh suatu jabatan dikantor. And the test went really-really-really sucks. Ciyus deh. Sehabis tes yang pertama, saya mikir : "Book, koq gue jadi perempuan susah amat ya mesti mikir buat ngejawab soal-soal tadi. Rasanya pingin jadi ibu rumah tangga aja deh. -_____-" Kemudian sehabis tes yang kedua : "AMPUN DEH. UDAH LAH GUE JADI IBU RUMAH TANGGA AJA".
Dari
situlah tekad saya semakin bulat. Semenjak rencana saya dari hari ke
hari cuma secepatnya bisa pulang
kerja, nonton dvd Grey's Anatomy, ngabisin utang baca novel-novel yang
menumpuk, dan bermimpi (pada akhirnya nanti) bisa liburan, saya secara
sepihak memutuskan untuk gak punya rencana besar. I don't have any
plans, or even a goal. Gak ada kesulitan atau masalah dikantor aja buat
saya itu udah bersyukur banget. Saya memutuskan untuk berpikir dengan
cara sederhana. Pun dengan hidup yang kurang lebih seperti itu. Saya gak
punya ambisi apa-apa lagi terhadap peruntungan saya didunia perkariran.
Pelan-pelan mungkin mata saya kebuka, kalau nanti ketika berkeluarga,
bukan itu yang nomor 1 bagi seorang perempuan. You might said, ini cuma
denial saya ketika emang saya malas untuk mengembangkan diri di karir.
Or, saya nya aja emang yang gak mau kerja lebih keras. Apapun deh. I
dont give a damn care. :))
Saya berusaha bekerja sebaik mungkin disemua tugas yang diberikan. Tapi saya mulai membekukan ambisi saya untuk mendapatkan apa yang buat kebanyakan orang ingin raih. Kalau kata orang Jawa gak ngoyo. (bener gak deh itu). I just let it flow.
Saya berusaha bekerja sebaik mungkin disemua tugas yang diberikan. Tapi saya mulai membekukan ambisi saya untuk mendapatkan apa yang buat kebanyakan orang ingin raih. Kalau kata orang Jawa gak ngoyo. (bener gak deh itu). I just let it flow.
ps (1) : apakah saya lulus ujiannya? alhamdulilah iya. God works in very strange way this time. That, what would happen when i'm not expecting.
anyway dari tanya sana sini dan browsing2 cantik, ini beberapa 'kemudahan' pahala yang diistimewakan Islam untuk kaum perempuan :
- Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutup pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu syurga. Masuklah dari mana-mana pintu yang dia kehendaki dengan tidak dihisab.
- Wanita yang taat akan suaminya, semua ikan-ikan di laut, burung di udara, malaikat di langit, matahari dan bulan, semuanya beristighfar baginya selama mana dia taat kepada suaminya dan direkannya (serta menjaga sembahyang dan puasanya)
- Wanita yang melayani dengan baik suami yang pulang ke rumah di dalam keadaan letih akan mendapat pahala jihad.
- Jika wanita melayani suami tanpa khianat akan mendapat pahala 12 tahun solat.
- Jika wanita memicit/mijat suami tanpa disuruh akan mendapat pahala 7 tola emas dan jika wanita memicit suami bila disuruh akan mendapat pahala 7 tola perak.
Comments