Akhirnya saya merasakan juga,
titik ini dimana saya sampai pada perasaan cukup yang amat berlebih. Cukup
sudah saya melihat semuanya, cukup sudah saya memberi kesempatan, cukup sudah
saya menengok ke belakang, cukup sudah saya bergantung pada janji manusia,
cukup sudah saya mengharap perubahan, cukup sudah saya meyakinkan diri saya
semua akan baik2 saja.
Anehnya saya tidak lagi merasakan
sedih yang teramat dalam seperti sebelumnya. mungkin karena entah dengan cara
bagaimana Tuhan menyembuhkan saya dengan memberikan lagi saya perasaan untuk berharap, memberi lagi
kesempatan pada saya untuk percaya bahwa ada sesuatu yang akan baik menunggu
didepan. Saya selalu berkata pada diri sendiri bahwa keadaan buruk tidak akan
berlangsung selamanya. Karena Tuhan sangat adil. Akhirnya saya merasakan apa
yang orang pernah bilang, bahwa ketika hati kamu sudah terlalu lelah, dia punya
mekanisme sendiri untuk memperbaki sistem.
Saya benar2 tidak berpegangan
terhadap apapun selain pada rasa percaya dan bersyukur saya akhirnya bisa kembali
berharap karena perasaan yang saya miliki untuk seseorang. Terapi saya selama
ini adalah menulis, tapi tidak semua perasaan saya bisa tuangkan begitu saja.
Saya lebih memilih menceritakan kisah2 absurd yang terjadi di sekitar
dibandingkan mencoba menulis jujur mengenai apa yang saya rasakan. Semata karena saya merasa tidak ada keuntungannya menjelaskan mengenai apa yang terjadi sebenarnya. Sungguh
diwaktu ini ketakutan dan ketidakpercayaan saya untuk bahagia ketika menjatuhi
perasaan kepada seseorang hilang perlahan. Saya belajar bahwa perasaan kita
ketika merasa menyukai seseorang itu bisa kita nikmati sendiri. Saya belajar
untuk tidak peduli dengan situasi. Saya belajar mencintai diri saya sendiri
dengan mencoba berhenti terpuruk dan bimbang ditengah jalan.
Jadi berhentilah menahan hidup
saya, mengobrak abrik pertahanan saya, mencoba memberi sejuta keyakinan yang
bahkan tidak bisa kamu penuhi. Berhentilah merasa ada harapan untuk merubah
pendirian saya, merasa sudah memperlakukan saya dengan begitu bijak, melindungi
saya sedemikian rupa. Berhentilah membuat saya merasa bersalah karena
seolah-olah saya tidak memperlakukan kamu dengan baik, tidak bersedia berkorban
dengan seimbang, tidak mau berusaha memperbaiki perbedaan. Saya sudah sadar itu semua. Berhentilah memberi saya
alasan dan bayangan ketakutan. Berhentilah berpegang pada keyakinan kamu
sendiri yang bahkan tidak bisa saya pahami. Karena sungguh saya tidak
mendasarkan keputusan saya pada asumsi semata, tapi apa –apa yang baik untuk
saya sendiri kedepannya, sekali lagi saya memang berusaha lebih menyayangi diri
saya sendiri setelah apa yang telah saya lewati. Ketakutan saya untuk hidup
sendiri berusaha saya tepis karena saya kembali menyerahkan semuanya pada NYA,
dibanding harus menjalani sesuatu yang harus dipaksakan dan kembali berulang
menyakitkan. Berhentilah memberi saya rasa jera, karena saya kembali memiliki
harapan. Berhentilah perlahan-lahan, memberi saya kembali nafas.
So if you read
this post somehow, yess i think i'm being in love right now. With myself, and
someone who maybe never know, but gave me a lot of reasons to be happy as much as i can
possibly do.
Mungkin
saya terlalu banyak meminta pada Tuhan, atau semua orang juga mengalami hal
yang sama berulang kali sebelum benar-benar bahagia. Saya memang belum bahagia
sepenuhnya Tuhan, tapi saya diliputi perasaan damai dan tenang. Saya bisa
melihat kedepan dan perlahan mulai sedikit mengurangi pertanyaan tentang
mengapa cerita saya seperti ini dan tidak seperti kebanyakan cerita teman-teman
saya. Saya tidak ingin menyesali yang sudah terjadi dan bahkan tidak ingin pula
memungkiri yang nanti akan terjadi. Saya hanya ingin menuangkan apa yang saya
rasakan dan inginkan sekarang. Insya Allah ikhlas dan tidak berlebihan.
Comments