Skip to main content

Apa yang bisa kamu tulis saat Hujan maka Jadilah Begini....


Akhirnya saya merasakan juga, titik ini dimana saya sampai pada perasaan cukup yang amat berlebih. Cukup sudah saya melihat semuanya, cukup sudah saya memberi kesempatan, cukup sudah saya menengok ke belakang, cukup sudah saya bergantung pada janji manusia, cukup sudah saya mengharap perubahan, cukup sudah saya meyakinkan diri saya semua akan baik2 saja. 

Anehnya saya tidak lagi merasakan sedih yang teramat dalam seperti sebelumnya. mungkin karena entah dengan cara bagaimana Tuhan menyembuhkan saya dengan memberikan lagi saya perasaan untuk berharap, memberi lagi kesempatan pada saya untuk percaya bahwa ada sesuatu yang akan baik menunggu didepan. Saya selalu berkata pada diri sendiri bahwa keadaan buruk tidak akan berlangsung selamanya. Karena Tuhan sangat adil. Akhirnya saya merasakan apa yang orang pernah bilang, bahwa ketika hati kamu sudah terlalu lelah, dia punya mekanisme sendiri untuk memperbaki sistem. 

Saya benar2 tidak berpegangan terhadap apapun selain pada rasa percaya dan bersyukur saya akhirnya bisa kembali berharap karena perasaan yang saya miliki untuk seseorang. Terapi saya selama ini adalah menulis, tapi tidak semua perasaan saya bisa tuangkan begitu saja. Saya lebih memilih menceritakan kisah2 absurd yang terjadi di sekitar dibandingkan mencoba menulis jujur mengenai apa yang saya rasakan. Semata karena saya merasa tidak ada keuntungannya menjelaskan mengenai apa yang terjadi sebenarnya. Sungguh diwaktu ini ketakutan dan ketidakpercayaan saya untuk bahagia ketika menjatuhi perasaan kepada seseorang hilang perlahan. Saya belajar bahwa perasaan kita ketika merasa menyukai seseorang itu bisa kita nikmati sendiri. Saya belajar untuk tidak peduli dengan situasi. Saya belajar mencintai diri saya sendiri dengan mencoba berhenti terpuruk dan bimbang ditengah jalan.

Jadi berhentilah menahan hidup saya, mengobrak abrik pertahanan saya, mencoba memberi sejuta keyakinan yang bahkan tidak bisa kamu penuhi. Berhentilah merasa ada harapan untuk merubah pendirian saya, merasa sudah memperlakukan saya dengan begitu bijak, melindungi saya sedemikian rupa. Berhentilah membuat saya merasa bersalah karena seolah-olah saya tidak memperlakukan kamu dengan baik, tidak bersedia berkorban dengan seimbang, tidak mau berusaha memperbaiki perbedaan. Saya sudah sadar itu semua. Berhentilah memberi saya alasan dan bayangan ketakutan. Berhentilah berpegang pada keyakinan kamu sendiri yang bahkan tidak bisa saya pahami. Karena sungguh saya tidak mendasarkan keputusan saya pada asumsi semata, tapi apa –apa yang baik untuk saya sendiri kedepannya, sekali lagi saya memang berusaha lebih menyayangi diri saya sendiri setelah apa yang telah saya lewati. Ketakutan saya untuk hidup sendiri berusaha saya tepis karena saya kembali menyerahkan semuanya pada NYA, dibanding harus menjalani sesuatu yang harus dipaksakan dan kembali berulang menyakitkan. Berhentilah memberi saya rasa jera, karena saya kembali memiliki harapan. Berhentilah perlahan-lahan, memberi saya kembali nafas.  

So if you read this post somehow, yess i think i'm being in love right now. With myself, and someone who maybe never know, but gave me a lot of reasons to be happy as much as i can possibly do.


Mungkin saya terlalu banyak meminta pada Tuhan, atau semua orang juga mengalami hal yang sama berulang kali sebelum benar-benar bahagia. Saya memang belum bahagia sepenuhnya Tuhan, tapi saya diliputi perasaan damai dan tenang. Saya bisa melihat kedepan dan perlahan mulai sedikit mengurangi pertanyaan tentang mengapa cerita saya seperti ini dan tidak seperti kebanyakan cerita teman-teman saya. Saya tidak ingin menyesali yang sudah terjadi dan bahkan tidak ingin pula memungkiri yang nanti akan terjadi. Saya hanya ingin menuangkan apa yang saya rasakan dan inginkan sekarang.  Insya Allah ikhlas dan tidak berlebihan.


 

Comments

Popular posts from this blog

yess, it's dufan beybeh!

wohh such a busy days coming my way these month.. Padahal dari kemarin pingin banget nulis cerita ini. Singkat kata, jadi akik punya teman yang mana bernama Boni sudah hampir seperempat abad hidup di dunia ini tapi belum pernah ke ... DUFAN! yess, dufan beybeh! Anyhow,  karena beliau berasal dari luar daerah yang jauh dari endonesah sodara2... (read : Madiun), jadilah beliau ini belum pernah menapakkan kaki di dunia fantasi kebanggan milik masyarakat Jakarta itu.  Entah mungkin karena belum sempat, tidak ada yang mengajak, kurang duit karena anak rantau, gengsi atau justru karena rasa nasionalismenya kurang, beliau lebih memilih bertandang ke USS terlebih dahulu. Sayang sekali. Masih ada anak muda seperti beliau yang seharusnya bangga akan produk bangsa sendiri. Jangan ditiru ya.  *prihatin* Beruntunglah Boni karena ia punya teman yang sudah baik, cantik dan tidak sombong lagi... (silahkan kalau mau muntah bak sampah di sebelah kanan). Temannya ini s...

Crap

Kamu cinta dia? Iya. Kamu mau hidup sama-sama dia terus? Mau. Kamu yakin dia bisa bikin kamu bahagia? Ya. Kamu yakin dia mau menjalani hal yang sama seperti kamu? Tidak tahu. Kamu yakin perasaan dia sama kuatnya dengan yang kamu punya? Tidak. Lalu kamu berpegangan sama apa? Tidak tahu. Kadang jatuh cinta dan menjalani hidup bersama-sama seseorang itu dua hal yang berbeda dan tidak bisa berjalan beriringan. Oh crap. Yess. Life is a bunch of crap.

Resign?

Dulu pelarian dari persoalan hidup bisa gue tuangkan dengan menulis, tentang apapun tanpa dibatasi oleh ketakutan bahwa orang lain akan mengganggap tulisan gue itu remeh atau meremehkan masalah tersebut.  Writing is the only way I have to explain my own life to myself Tapi kebiasaan ini berubah setelah gue punya anak alias jadi Ibu. Pertama-tama karena berkurangnya waktu dan (keinginan) untuk menulis karena harus beradaptasi dengan peran baru. Lama-lama banyak hal yang terjadi sampai akhirnya bingung mau cari alasan apalagi untuk membenarkan keengganan gue untuk menulis. Intinya karena ga ada keinginan dan niat. Balancing life between family and work juga ternyata ga semudah yang dibayangkan. Kadang smooth, ga jarang drama. Kalau orang-orang sering bilang keluarga adalah yang nomor satu setiap waktu, buat gue itu ga bisa berlaku. #rhyme Ya adakalanya harus memprioritaskan pekerjaan saat tuntutannya emang tinggi dan anak atau keluarga sedang dalam kondisi baik-baik aja kan. Jadi saa...