Kesalahan kamu menggantungkan kebahagiaan pada seseorang itu, ketika kamu kehilangan dia, kamu jadi seperti zombie. Tapi bernafas dan punya otak waras.
It's been a while since then. But still feels like a zombie. Kemanjaan yang ditanamkan di diri sendiri tanpa sadar sudah membuat pincang sebelah kaki.
Saya 'rajin' absen mengadu dan meratap di kursi depan kendaraan suzuki sahabat saya ini. Aneh, setiap membuka pintu, duduk, menghela napas, rentetan keluhan mulai dari A sampai Z selalu keluar ketika masuk mobil dia. Semacam ada alat penghipnotis atau jampi2 dari Sukabumi. (Maklum, teman saya ini keturunan Sunda, jadi ya siapa tahu saja ajian berasal dari tanah Jampang Kulon.) Padahal, obrolan belum sampai 15 menit. Tanpa tahu siapa yang memulai, saya seakan bisa menumpahkan apa saja di kursi empuk dengan diiringi lagu-lagu yang diputar ketika itu di radio. Sembari dia menyetir, atau ketika 'ngumpet' di basement parkiran sebuah mall.
Ketidakteraturan frekuensi bertemu tidak menghalangi kuantitas dan kualitas 'tumpahan' cerita saya. Yang saya tahu, ketika masuk, dan kami saling bertanya : how's life ? Tidak ada jeda diantara frekuensi-frekuensi yang hilang itu.
Beberapa bulan yang lalu, ternyata sahabat saya ini menjual kendaraannya itu. Sekelebat secuil momen-momen 'bego' nangis didalam kendaraan itu, menunggu kendaraan itu datang untuk bersembunyi dari sesuatu, atau ketika kendaraan itu mengantarkan saya selamat sampai di rumah sebelum tengah malam pun muncul.
Bukan kendaraan itu yang ajaib. Tapi sahabat saya yang dengan sudi membuat momen itu tercipta. Dengan sudi mengikuti rangkaian perjalanan love-life or career-life, atau random hal lainnya. Semoga masih ada lagi yang bisa dilakukan dengan kendaraan yang lain. Dengan cerita yang lain.
PS : Mungkin bukan mobil itu yang punya ajian, jangan-jangan elo nya Boy... Hahahah...me miss you bestie!

Comments