kamu masih baca blog ini?
iya kamu.
kamu masih mau tau apa yang ada dalam pikiran saya dan ingin saya tumpahin lewat tulisan disini?
atau apa yang terjadi dengan saya belakangan ini?
ah kamu pasti gak terlalu peduli.
Lebih baik memikirkan tentang jalan kamu sendiri untuk melalui ini semua kan.
Sebutlah saya orang paling galau, labil, menyedihkan yang pernah kamu kenal.
Biar saja orang lain bilang saya begitu, mereka gak pernah ngerasain jadi saya. Kamu juga. Biar saja.
Hampir dua bulan lebih setelah saya duduk dirumah tamu rumah saya dan rumah calon keluarga mertua saya. Diminta menjelaskan tentang apa yang terjadi. Sudah, saya lewati itu semua.
Hampir satu bulan setengah setelah saya dibawa ke 'orang pintar', Pak Kyai, atau sebutlah namanya siapa. Diminta menjelaskan sekali lagi, disuruh membersihkan diri, diklaim bersalah atas suatu hal yang diapun hanya bisa menebak-nebak saja itu apa. Saya menurut saja atas nama tidak ingin melawan orang tua.
Hampir satu bulan setelah saya tiba-tiba didatangi saudara kandung di tengah malam, hanya karena saya melapor tengah histeris ketakutan atas sesuatu hal. Diajak bicara dari hati ke hati kemudian tiba pada satu solusi : saya tidak boleh mengambil resiko. Pikirkan dengan matang.
Hampir dua minggu setelah saya mengetahui perilaku dan reaksi seseorang atas masalah ini. Orang yang katanya mendukung saya sepenuhnya didepan. Tapi ternyata paling hebat menyakiti setelah saya mengetahui semuanya.
Hampir satu minggu setelah saya dicaci maki karena marah atas sesuatu hal, disalahkan balik, dibilang picik dan naif. Saya menyimpulkan : tidak berhak marah, lupakan, maafkan.
Hampir satu hari, setelah saya mengetahui, ternyata belum cukup hukuman atas tindakan saya. Mengetahui sesuatu hal yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan bisa dilakukannya. Memilih mencari cara lain untuk menyakiti saya balik. Memilih mengenal orang lain. Apa saya berhak marah? Tidak. Semua kembali lagi, salah saya.
Biar saja orang bilang saya manusia yang selalu galau. Biar saja orang bilang saya menyedihkan. Biar saja karena mereka gak pernah tahu apa yang sudah dan masih saya jalanin. Tuhan sayang sama saya.
Saya gak tahu gimana caranya memaafkan, atau bahkan melupakan. Yang saya tahu saya ingin sekali-kali menyalahkan bukan terus disalahkan. Tapi Tuhan sayang sama saya. Biar saja.
iya kamu.
kamu masih mau tau apa yang ada dalam pikiran saya dan ingin saya tumpahin lewat tulisan disini?
atau apa yang terjadi dengan saya belakangan ini?
ah kamu pasti gak terlalu peduli.
Lebih baik memikirkan tentang jalan kamu sendiri untuk melalui ini semua kan.
Sebutlah saya orang paling galau, labil, menyedihkan yang pernah kamu kenal.
Biar saja orang lain bilang saya begitu, mereka gak pernah ngerasain jadi saya. Kamu juga. Biar saja.
Hampir dua bulan lebih setelah saya duduk dirumah tamu rumah saya dan rumah calon keluarga mertua saya. Diminta menjelaskan tentang apa yang terjadi. Sudah, saya lewati itu semua.
Hampir satu bulan setengah setelah saya dibawa ke 'orang pintar', Pak Kyai, atau sebutlah namanya siapa. Diminta menjelaskan sekali lagi, disuruh membersihkan diri, diklaim bersalah atas suatu hal yang diapun hanya bisa menebak-nebak saja itu apa. Saya menurut saja atas nama tidak ingin melawan orang tua.
Hampir satu bulan setelah saya tiba-tiba didatangi saudara kandung di tengah malam, hanya karena saya melapor tengah histeris ketakutan atas sesuatu hal. Diajak bicara dari hati ke hati kemudian tiba pada satu solusi : saya tidak boleh mengambil resiko. Pikirkan dengan matang.
Hampir dua minggu setelah saya mengetahui perilaku dan reaksi seseorang atas masalah ini. Orang yang katanya mendukung saya sepenuhnya didepan. Tapi ternyata paling hebat menyakiti setelah saya mengetahui semuanya.
Hampir satu minggu setelah saya dicaci maki karena marah atas sesuatu hal, disalahkan balik, dibilang picik dan naif. Saya menyimpulkan : tidak berhak marah, lupakan, maafkan.
Hampir satu hari, setelah saya mengetahui, ternyata belum cukup hukuman atas tindakan saya. Mengetahui sesuatu hal yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan bisa dilakukannya. Memilih mencari cara lain untuk menyakiti saya balik. Memilih mengenal orang lain. Apa saya berhak marah? Tidak. Semua kembali lagi, salah saya.
Biar saja orang bilang saya manusia yang selalu galau. Biar saja orang bilang saya menyedihkan. Biar saja karena mereka gak pernah tahu apa yang sudah dan masih saya jalanin. Tuhan sayang sama saya.
Saya gak tahu gimana caranya memaafkan, atau bahkan melupakan. Yang saya tahu saya ingin sekali-kali menyalahkan bukan terus disalahkan. Tapi Tuhan sayang sama saya. Biar saja.
Comments