Skip to main content

Siomay, Nescafe, dan "Everything Has Changed" nya Taylor Swift

You have no idea how many nights i spent to use my logic just to figure out what is it. 

What the hell happen. 

Why this is happen. 

And how. 

Kalau saja saya gak kenal konsep meng-enol-kan hati, tubuh, pikiran semata-mata hanya untuk ikhlas, memantapkan keyakinan ini hanya ujian naik kelas di mata Tuhan,  rasa-rasanya saat ini saya mungkin berakhir di sebuah klub malam, atau gila-gilaan pergi ke suatu tempat, menjadi orang yang tidak dikenal, mencoba-coba kehidupan baru selama beberapa saat. 

Bukannya duduk didepan meja komputer kantor menulis ini semua. Hanya dengan ditemani sebungkus siomay. Makanan pertama yang masuk sejak tadi pagi. Selain sekaleng minuman berkafein Nescafe yang dibeli dimini market.

Either itu Tuhan sedang menaikkan derajat untuk lulus di ujian ini, atau Tuhan sedang bercanda dengan cara-Nya. This is so funny i mean. Masa untuk masalah seberat ini penawar saya cuma siomay? Come on! 

Sedikit lebih mendingan because there's a good music.


'Cause all I know is we said "Hello" 
And your eyes look like coming home 
All I know is a simple name 
Everything has changed 
All I know is you held the door 
You'll be mine and I'll be yours 
All I know since yesterday is everything has changed



Comments

Popular posts from this blog

yess, it's dufan beybeh!

wohh such a busy days coming my way these month.. Padahal dari kemarin pingin banget nulis cerita ini. Singkat kata, jadi akik punya teman yang mana bernama Boni sudah hampir seperempat abad hidup di dunia ini tapi belum pernah ke ... DUFAN! yess, dufan beybeh! Anyhow,  karena beliau berasal dari luar daerah yang jauh dari endonesah sodara2... (read : Madiun), jadilah beliau ini belum pernah menapakkan kaki di dunia fantasi kebanggan milik masyarakat Jakarta itu.  Entah mungkin karena belum sempat, tidak ada yang mengajak, kurang duit karena anak rantau, gengsi atau justru karena rasa nasionalismenya kurang, beliau lebih memilih bertandang ke USS terlebih dahulu. Sayang sekali. Masih ada anak muda seperti beliau yang seharusnya bangga akan produk bangsa sendiri. Jangan ditiru ya.  *prihatin* Beruntunglah Boni karena ia punya teman yang sudah baik, cantik dan tidak sombong lagi... (silahkan kalau mau muntah bak sampah di sebelah kanan). Temannya ini s...

Crap

Kamu cinta dia? Iya. Kamu mau hidup sama-sama dia terus? Mau. Kamu yakin dia bisa bikin kamu bahagia? Ya. Kamu yakin dia mau menjalani hal yang sama seperti kamu? Tidak tahu. Kamu yakin perasaan dia sama kuatnya dengan yang kamu punya? Tidak. Lalu kamu berpegangan sama apa? Tidak tahu. Kadang jatuh cinta dan menjalani hidup bersama-sama seseorang itu dua hal yang berbeda dan tidak bisa berjalan beriringan. Oh crap. Yess. Life is a bunch of crap.

Resign?

Dulu pelarian dari persoalan hidup bisa gue tuangkan dengan menulis, tentang apapun tanpa dibatasi oleh ketakutan bahwa orang lain akan mengganggap tulisan gue itu remeh atau meremehkan masalah tersebut.  Writing is the only way I have to explain my own life to myself Tapi kebiasaan ini berubah setelah gue punya anak alias jadi Ibu. Pertama-tama karena berkurangnya waktu dan (keinginan) untuk menulis karena harus beradaptasi dengan peran baru. Lama-lama banyak hal yang terjadi sampai akhirnya bingung mau cari alasan apalagi untuk membenarkan keengganan gue untuk menulis. Intinya karena ga ada keinginan dan niat. Balancing life between family and work juga ternyata ga semudah yang dibayangkan. Kadang smooth, ga jarang drama. Kalau orang-orang sering bilang keluarga adalah yang nomor satu setiap waktu, buat gue itu ga bisa berlaku. #rhyme Ya adakalanya harus memprioritaskan pekerjaan saat tuntutannya emang tinggi dan anak atau keluarga sedang dalam kondisi baik-baik aja kan. Jadi saa...