Skip to main content

ZONK- Moment

Jadi tiba-tiba keinget cerita absurd ini. Beberapa tahun lalu yang mana saya masih duduk di bangku SMP, saya punya sahabat, cowok. His name is Singgih. Well semoga dia gak baca tulisan ini. Itu anak (sekarang saya benar-benar cemas semoga dia gak nemu blog ini) pendieeem banget nget nget. Kalau boleh dikatakan kaku, penampilannya selalu rapi dari ujung rambut sampai ujung kaki. Klimis dengan minyak rambut abegeh yang kala itu nge-trend. Berteman dengan orang-orang yang itu-itu aja tapi banyak dibicarakan cewek-cewek di sekolah. Kami ketemu ketika duduk di kelas 2. Karena jarak tempat duduk yang cuma selang beberapa bangku, ditambah dia berteman dengan sahabat saya (Lili- cowok) yang dulunya satu sekolah dasar, maka lingkaran pertemanan kami menjadi dekat. Si Singgih ini, selalu terlihat sangat tegang, sulit tertawa, teratur dan sistematis (rrrr, sistematis? ya begitulah pokoknya). Sangat-sangat bertolak belakang kala itu dengan saya yang suka menertawai banyak hal, iseng, spontan dan banyak omong. 

Setelah lama berteman dengan dia, terbitlah jiwa keisengan melanda ingin membuat dia sedikit 'menikmati hidup'. Berbagai perbuatan biadab saya lakukan atas nama keisengan. Mulai dari menaruh es batu dibangkunya saat istirahat (tepat ketika saya tau setelah istirahat ada kelas matematika dimana ia yang harus maju ke depan untuk menyelesaikan sebuah soal. Yang mana bisa ditebak, setelah jam istirahat selesai, dia masuk, duduk, lalu menyadari ada sesuatu yang basah di celananya, namun terlambat untuk bereaksi karena dia harus maju ke depan kelas, dengan muka merah malu karena teman-teman mengira dia mengompol). Pada saat itu dia hanya bertanya kepada  Lili siapa yang menaruh es tersebut di bangkunya. Yang tentu saja di jawab Lili bahwa itu saya. Tapi, reaksi dia hanya geleng-geleng kepala - tanpa ekspresi. 

Keisengan berlanjut. Saya tau kalau dia alergi dengan minyak kayu putih. Karena di berbagai kesempatan ketika di kelas tercium bau minyak tersebut dia langsung menghilang ngibrit entah kemana. Hal ini tentu saja tidak lepas dari target keisengan saya. Sebelum jam olahraga dimulai, saya diam-diam mengambil baju olahraga dilaci mejanya (tentu saja pada saat dia tidak ada dimeja). Lalu, saya olesi minyak kayu putih di sekujur baju tersebut. Alhasil, ketika dia pakai kaos itu bau minyak tersebut tercium menyengat. Akibatnya, sepanjang pelajaran olahraga dia kehilangan fokus, mukanya gak karuan menahan enek, alergi, atau apalah itu. Tapi lagi-lagi dia gak meledak marah. 

Satu kejadian yang saya lihat dia panik banget itu waktu saya dengan sengaja (yaiyalah) menyembunyikan buku tabungannya. Jadi, sekolah kami pada saat itu punya program buku tabungan siswa, dimana kami menyimpan uang kami di administrasi sekolah yang bisa dikatakan 'bank' nya. Saat itu dia baru selesai menabung. Buku tabungan tsb dia simpan di dalam tasnya. Setelah itu dia pergi untuk beristirahat. Buku itupun saya ambil diam-diam dan saya simpan. Dia baru menyadari buku tsb ilang saat jam pelajaran sekolah hari itu selesai. Dengan muka panik dia mencari kemana-mana. Dan dia pun menanyakannya ke saya. Tapi karena bakat iseng saya sudah level akut, saya kekeuh bilang tidak tahu. 

Nah, beberapa menit sebelum dia hendak melapor ke dewan guru, saya yang giliran panik. Gak mau dituduh mencuri, saya kembalikan buku tabungan itu ke dia dan mengakui dosa saya. Dan sudah bisa ditebak, dia legowo aja tuh. 

Dari situ saya mulai sedikit-sedikit berhenti mengisengi dia. Bukan karena dia udah berubah menjadi lebih 'menikmati hidup', tapi lebih karena kasihan dan gak mau dia jadi stress karena berteman dengan saya.

Singkat cerita, setelah pertemanan yang normal beberapa waktu, saya tiba-tiba menerima telepon dari dia. 

Dia   : Ayu, besok lo ada waktu pulang sekolah?
Saya : Hmm ada, emang kenapa nggih?
Dia   : Ada yang mau gue omongin...
Saya : Oh oke.
Dia   : Gue tunggu di pos belakang sekolah ya.
Saya : Sip.

...................................... kemudian saya panik. 

Oke, begini situasinya. Pada saat itu dengan pertemanan kami yang seperti itu, sekalipun dia gak pernah nelepon saya, yang mana nelepon disini artinya menghubungi via telepon rumah karena jaman itu handphone belum eksis. Dan ini sekali-kalinya nelepon, dia bilang mau ngomong. Secupu-cupunya saya pada saat itu, (oke, sekarang juga cupu!) saya cukup ngerti dia mau ngomong apa. Kalau orang mau balas dendam pasti dia gak akan dengan sopannya nelepon ke rumah dulu terus ngajak janjian kan. Ditambah, masalah kami waktu itu udah clear dan tidak ada dendam diantara kita. Dengan berpikir menggunakan logika- alur deduktif-induktif atau apapun itu saya bisa menyimpulkan dia mau nembak saya. OH NO. Hal ini terkonfirmasi setelah saya sibuk mengulik-ulik Lili untuk mau cerita.

Jadi, saya memutuskan untuk gak pernah datang menemui dia kala itu. Kenapa? Because i never like him the way as like as a boyfriend. Bahkan saya ga kepikiran bisa pacaran dengan seseorang waktu itu. Dan saya gak mau dia malu kalau sampai saya menolak dia (anjir anak SMP pikirannya berat banget). 

Setelah keabsenan saya di pos belakang sekolah pada waktu itu, pertemanan kami berubah. Well, dia mungkin sebenarnya yang berubah. Sampai dia akhirnya punya pacar adik junior (ish kecil-kecil udah pada pacaran aja deh) yang selalu nongkrongin dia didepan kelas saat jam pelajaran selesai. Dari situ dia mulai bersikap normal. Dan kami pun berpisah kelas saat memasuki tahun terakhir di SMP. 

Lama setelah lulus dari SMP, gak pernah kami saling bertukar kabar. Sampai tiba-tiba, saat liburan semester kuliah, saya pulang ke rumah. Saya yang waktu itu lagi tidur menunggu pacar (oke sekarang sudah mantan)  dibangunkan oleh Mamah karena katanya ada teman datang. Hebatnya si Mamah, dia gak tanya siapa nama teman saya itu. Akhirnya saya langsung turun menuju ruang tamu dan bingung melihat dua orang tidak dikenal duduk di kursi. 

Saya  : Maap kalian siapa ya?
Tamu : Ayu apa kabar?
Saya : Baik
Tamu : Gak kenal saya? Lupa ya? Saya Singgih..
Saya : ZONK! *speechless*

Dan pada saat itu si (mantan) pacar datang. Singgih yang bersilaturahmi (di malam minggu) tanpa pemberitahuan apa-apa pun setelah berbasa-basi ngobrol-ngobrol singkat pun kemudian pamit. 

Dan sampai hari ini saya gak pernah sekalipun mendengar kabar apa-apa lagi dari dia.

Jadi apa ya intisari cerita ini? Gak ada sih cuma mau cerita aja dulu saya sempat terbengong-bengong kedatangan tamu tiba-tiba tapi ternyata dia sahabat SMP saya. Semoga dia dalam keadaan baik-baik saja dimanapun berada.



Comments

Popular posts from this blog

Crap

Kamu cinta dia? Iya. Kamu mau hidup sama-sama dia terus? Mau. Kamu yakin dia bisa bikin kamu bahagia? Ya. Kamu yakin dia mau menjalani hal yang sama seperti kamu? Tidak tahu. Kamu yakin perasaan dia sama kuatnya dengan yang kamu punya? Tidak. Lalu kamu berpegangan sama apa? Tidak tahu. Kadang jatuh cinta dan menjalani hidup bersama-sama seseorang itu dua hal yang berbeda dan tidak bisa berjalan beriringan. Oh crap. Yess. Life is a bunch of crap.

yess, it's dufan beybeh!

wohh such a busy days coming my way these month.. Padahal dari kemarin pingin banget nulis cerita ini. Singkat kata, jadi akik punya teman yang mana bernama Boni sudah hampir seperempat abad hidup di dunia ini tapi belum pernah ke ... DUFAN! yess, dufan beybeh! Anyhow,  karena beliau berasal dari luar daerah yang jauh dari endonesah sodara2... (read : Madiun), jadilah beliau ini belum pernah menapakkan kaki di dunia fantasi kebanggan milik masyarakat Jakarta itu.  Entah mungkin karena belum sempat, tidak ada yang mengajak, kurang duit karena anak rantau, gengsi atau justru karena rasa nasionalismenya kurang, beliau lebih memilih bertandang ke USS terlebih dahulu. Sayang sekali. Masih ada anak muda seperti beliau yang seharusnya bangga akan produk bangsa sendiri. Jangan ditiru ya.  *prihatin* Beruntunglah Boni karena ia punya teman yang sudah baik, cantik dan tidak sombong lagi... (silahkan kalau mau muntah bak sampah di sebelah kanan). Temannya ini s...

Turning 25

I'm blessed. Because i have so many and see everything. I've been traveling that much, i've so many experiences, i met a lot of people, i feel so many culture, food, challenge, view, atmospher, i had so many things in my life to thankful for.  At the beginning you'd wish for everything. You wish for a great life, perfect house, cool vehicle, best opportunities. As i through this year, in the end, everything that i could thank for is i had so many problem which makes me more mature, tough, strong, and grown as a human being. i dont have that perfect life, i (still) not getting married, i had the up-side down mental problem, sometimes i mess up. But that what you should do in your life, get messed up. And then you can learn. Anehnya, setelah sebelumnya takut dan deg-degan menjelang usia ini, ketika harinya tiba saya merasa sangaat bersyukur. Bersyukur punya keluarga yang lengkap dan menyayangi, bersyukur punya teman-teman yang baik hati, bersyukur punya peker...