Skip to main content

Selamat Hari Ibu :)

Ini mungkin perayaan hari ibu dimana saya belum bisa memberikan apa yang ibu saya impikan. Atau setidaknya apa yang membuat beliau tenang. Selama bertahun-tahun hidup mandiri jauh dari ibu, beliau tidak pernah terlihat cemas berlebihan atau ketakutan akan status dan kondisi kemandirian saya. Sampai moment terakhir saya melihat ibu saya mencemaskan keadaan saya adalah ketika saya jatuh sakit beberapa bulan lalu. Waktu itu, sakit saya memang lumayan lama, cukup lama untuk mengidentifikasi penyakitnya, dan ibu saya khawatir karena saya  sendiri. (Atau khawatir karena muka anak perempuannya jadi bengkak gak jelas ya) 

Hampir tiap beberapa jam beliau menanyakan keadaan saya. Sampai akhirnya saya sembuh. Dulu setiap berangkat kuliah, saya sangat jarang melihat kecemasan di wajah mamah ketika melambai melepaskan anaknya untuk belajar dikota lain. Pun ketika saya harus pergi untuk bekerja di kota paling tidak toleran bernama Jakarta ini.

Sampai suatu saat, beberapa minggu yang lalu, di wajah mamah tergambar jelas kekhawatiran sehingga beliau sampai turun dari mobil untuk menemani saya menunggu bis yang akan membawa saya ke Jakarta. Umur saya 26 tahun, saya sudah pergi ke beberapa tempat, tapi baru kali itu saya ditemani mamah kembali, berdampingan kembali bertahun-tahun setelah saya ditemani beliau saat di sekolah dasar.

Saya tahu mamah sangat cemas, khawatir, mungkin takut. Karena sejak beberapa kejadian belakangan. Ingin sekali saya bilang ke beliau, meskipun hal-hal yang terjadi belakangan ini menggerus sedikit demi sedikit kesehatan mental saya, tapi saya masih bisa seperti biasa, menjadi kuat, menjadi mandiri dihadapan Mamah.

Belum bisa saya membuat beliau bahagia dan tenang. Banyak hal yang menyakitkan bagi beliau belakangan ini. Bukan mereka yang bertanya tanpa henti, bukan mereka yang menyindir, bukan pula mereka yang menyakiti, yang menorehkan irisan luka saya.

Tapi ketika mendengar Mamah mengucap : "Cuma itu yang buat mamah bahagia. Bukan sepatu, bukan tas, bukan dibelikan ini dan itu. Tapi dengan tidak mencemaskan kamu dan kalian bertiga semua perempuan dikota besar, Jakarta, jauh dari kami, tidak ada disini setiap hari, tidak seperti ibu-ibu lain yang anak-anaknya tinggal dekat. Dengan mengetahui kamu ada yang akan menjaga disana, itu yang buat tenang, bahagia. "

Dan kalimat itu mengiris hati anak perempuan manapun.

Selamat hari ibu, Mah. Kalau hal yang paling sering saya minta adalah doa, maka saat ini, hal yang paling dapat saya berikan untuk mamah adalah juga doa. Tiada henti untuk segala kebaikan Mamah.

Comments

Popular posts from this blog

yess, it's dufan beybeh!

wohh such a busy days coming my way these month.. Padahal dari kemarin pingin banget nulis cerita ini. Singkat kata, jadi akik punya teman yang mana bernama Boni sudah hampir seperempat abad hidup di dunia ini tapi belum pernah ke ... DUFAN! yess, dufan beybeh! Anyhow,  karena beliau berasal dari luar daerah yang jauh dari endonesah sodara2... (read : Madiun), jadilah beliau ini belum pernah menapakkan kaki di dunia fantasi kebanggan milik masyarakat Jakarta itu.  Entah mungkin karena belum sempat, tidak ada yang mengajak, kurang duit karena anak rantau, gengsi atau justru karena rasa nasionalismenya kurang, beliau lebih memilih bertandang ke USS terlebih dahulu. Sayang sekali. Masih ada anak muda seperti beliau yang seharusnya bangga akan produk bangsa sendiri. Jangan ditiru ya.  *prihatin* Beruntunglah Boni karena ia punya teman yang sudah baik, cantik dan tidak sombong lagi... (silahkan kalau mau muntah bak sampah di sebelah kanan). Temannya ini s...

Crap

Kamu cinta dia? Iya. Kamu mau hidup sama-sama dia terus? Mau. Kamu yakin dia bisa bikin kamu bahagia? Ya. Kamu yakin dia mau menjalani hal yang sama seperti kamu? Tidak tahu. Kamu yakin perasaan dia sama kuatnya dengan yang kamu punya? Tidak. Lalu kamu berpegangan sama apa? Tidak tahu. Kadang jatuh cinta dan menjalani hidup bersama-sama seseorang itu dua hal yang berbeda dan tidak bisa berjalan beriringan. Oh crap. Yess. Life is a bunch of crap.

Resign?

Dulu pelarian dari persoalan hidup bisa gue tuangkan dengan menulis, tentang apapun tanpa dibatasi oleh ketakutan bahwa orang lain akan mengganggap tulisan gue itu remeh atau meremehkan masalah tersebut.  Writing is the only way I have to explain my own life to myself Tapi kebiasaan ini berubah setelah gue punya anak alias jadi Ibu. Pertama-tama karena berkurangnya waktu dan (keinginan) untuk menulis karena harus beradaptasi dengan peran baru. Lama-lama banyak hal yang terjadi sampai akhirnya bingung mau cari alasan apalagi untuk membenarkan keengganan gue untuk menulis. Intinya karena ga ada keinginan dan niat. Balancing life between family and work juga ternyata ga semudah yang dibayangkan. Kadang smooth, ga jarang drama. Kalau orang-orang sering bilang keluarga adalah yang nomor satu setiap waktu, buat gue itu ga bisa berlaku. #rhyme Ya adakalanya harus memprioritaskan pekerjaan saat tuntutannya emang tinggi dan anak atau keluarga sedang dalam kondisi baik-baik aja kan. Jadi saa...