Skip to main content

My Labour story. The Journey to have you.


Jam segini udah kangen sekali sama Kenzho.

Yap gue udah masuk kantor lagi dan udah melahirkan.. yeay! Mau cerita yang mana dulu ya terlalu banyak yang ingin ditulis.

Anyway nama anak gue Aldebaran Muhammad Kenzho (call him Kenzho, ken, or Kendut).
Apa?
Artinya?
Aldebaran itu berarti bintang yang paling bersinar,
Muhammad adalah teladan bagi semua umat,
Kenzho berarti pintar dan kreatif.

Jadi ya silakan artikan sendiri. Muahaha *emak malas!

Sekarang gue mau cerita proses melahirkan doi aja dulu kali ya. Highlight nya sih udah gue ekspos di media sosial kaya facebook , path dan instagram. Tapi gue ingin cerita lebih detil lagi. Supaya (lagi2) nanti kalau sudah besar dia (dan istrinya) bisa baca bagaimana perjuangan ibunya melahirkan dia ke dunia. So here it goes..

Senin, 28 Maret 2016

Kehamilan gue udah masuk minggu ke 37. Gue udah mulai "pindah" sementara ke Serang buat persiapan persalinan. Gue udah survey semua rumah sakit dan klinik yang ada di Serang dan pilihan akhirnya jatuh ke RSIA Puri Gracia. Selain tempatnya nyaman, dokternya pun enak dan lokasinya dekat dari rumah Mamah. 

Minggu malam, gak tahu kenapa perasaan mellow banget karena mau LDR-an sementara sama Abo. Semenjak hamil, Abo selalu setiap malam sebelum tidur pijitin, siapin bantal buat “singgasana” tidur, singkat kata buat gue senyaman mungkin biar bisa tidur dengan tenang. Karena sist hamil tua itu serba salah. Terlentang salah, miring salah, duduk juga salah. Pisah sementara, ketakutan nanti mules tiba2 pas malam, takut tidur sendirian, semuanya bikin gue nangis2 lebay sebelum Abo berangkat kerja.

Paginya, Mamah ngajak jalan pagi keliling komplek. Saat itu posisi bayi sendiri udah bagus, kepala berada di bawah, berat badan gak terlalu besar, air ketuban cukup, dan gak ada tali pusar yang melilit dan membahayakan. Prediksi dokter sebentar lagi mungkin akan lahir secara normal.

Siangnya, karena takut bosan di rumah sampai saatnya melahirkan, gue pun pergi ke toko buku. Sempat keliling mall dulu sebentar lalu pulang. Malamnya, badan gue terasa panas, lemas dan muka memerah. Gue pun tidur agak cepat dengan berpikir mungkin ini cuma gejala hamil tua dimana fisik memang mulai terasa cepat lelah.

 Selasa, 29 Maret 2016

Mamah ngajak jalan pagi lagi, tapi bangun tidur badan gue rasanya gak fit, kepala pusing dan meriang. Gue pikir karena kecapekan setelah weekend yang full dengan acara keluarga, gue pun mencoba istirahat lagi. Sampai siang ternyata kondisi badan semakin ngedrop. Badan mulai panas tinggi, gue mengukur suhu tubuh saat itu 39,4 derajat celcius. Panas tinggi. Karena gak bisa minum obat sembarangan gue pun minta diantarkan ke Klinik kandungan dr. Linda siang itu karena di Puri Gracia kebetulan dokter kandungan gue sedang gak praktik.

Setelah berobat gue diminta untuk istirahat dan kalau sampai 3 hari demamnya belum turun juga maka gue harus cek darah. Dan di hari keempat karena masih demam tanpa disertai gejala flu, gue pun melakukan cek darah. Saat itu kondisi badan udah pusing, mengigil, dan linu. Hasil test menyatakan gue positif tifus. Saat itu dokter menyarankan gue untuk dirawat agar proses penyembuhan berjalan cepat. Karena kondisi gue yang udah hamil tua dikhawatirkan gue akan melahirkan dalam waktu dekat sementara penyakit ini belum sembuh. Berusaha untuk gak panik saat itu gue pun langsung mengiyakan untuk dirawat di klinik tsb. Setelah itu gue baru menghubungi Abo. Saat itu juga dia langsung jalan pulang ke Serang.

Jumat, 1 April 2016

Tiga hari gue dirawat di Klinik Dokter Linda. Suhu tubuh udah normal dan gejala pusing sebenarnya udah hilang. Tapi di hari keempat dokter meminta gue untuk tes darah lagi karena ditakutkan ada gejala demam berdarah. Dan ternyata hasilnya menunjukkan gue positif DBD, dengan trombosit di angka 42.000 saja (normalnya >150.000).  Dokter pun mengharuskan gue untuk “dilarikan” ke rumah sakit umum daerah (RSUD).

Wait, why ya mesti RSUD? Saat itu keluarga gue menolak dan memilih gue untuk dibawa ke RS Sari Asih (rumah sakit swasta yang secara tampak muka lebih menjanjikan). Tapi dokter kekeuh merujuk gue ke RSUD karena katanya disana fasilitas gawat darurat lebih lengkap seantero Serang. Akhirnya kamipun menuruti saran dokter.  Sore itu juga gue dibawa ke RSUD. Sesampainya disana langsung masuk UGD dan ditangani oleh dokter jaga. Seumur hidup di dunia belum pernah gue masuk rumah sakit karena sakit. Baru kali itu gue masuk rumah sakit plus via UGD pula.

Bersama puluhan orang yang menderita macam-macam penyakit gue menunggu disana untuk mendapatkan kamar. Tepat pada pukul 22.00 WIB setelah menunggu kurang lebih 5 jam akhirnya gue pun dapat kamar. Jangankan dapat kamar VIP sesuai permintaan kami, letak kamar yang diberikan ini jauh sekali dari pintu utama.

Didorong kursi roda dengan infus gue berasa sakit beneran.  Raut  panik udah keliatan di muka suami dan keluarga. Mamah malah sampai gak berani masuk UGD. Perasaan gue sebenarnya campur aduk. Antara takut dan bingung. Takut bayi yang ada dalam perut kenapa-kenapa karena semenjak demam tinggi, gerakannya jauh berkurang. Bingung karena badan gue sendiri sebenarnya merasa udah jauh baikan tapi kok malah didiagnosis DBD.

Bukan bermaksud menyepelekan rumah sakit umum daerah, tapi coba bayangkan. Kondisi gue sedang hamil besar, kemudian gue menunggu selama 4 jam di unit gawat darurat umum (gak diperbolehkan masuk ke UGD khusus Ibu Hamil, which is sebenarnya ada. Karena gue masuk dalam keadaan bukan mau melahirkan tapi sakit umum. What a weird reason. Tetap aja kan judulnya GUE HAMIL. IBU HAMIL. #aukah). Lalu gue dapat kamar kelas 2, bersama dengan satu pasien lagi, yang turn out lagi sakit DBD juga. Entah itu kamar AC nya gak hidup atau emang rusak, suhunya gak dingin sist. Sepanjang malam gue kepanasan. Dan yang paling merepotkan adalah, toiletnya berbentuk duduk, tapi untuk membilasnya gak disediakan jet washer alias pakai gayung sist. Manalah perut akik udah segede gentong, gak muat itu gayung ke bagian bawah untuk nyiram. Duh repot pisan itu mah. Jadi, tiap kali ke toilet gue harus ditemani Abo. Ketika jongkok buat maaf, cebok, itu harus dipegangin biar tetap seimbang dan gak ngedubruk (??). Terimakasih lho pemerintah.

Selama menginap di RSUD sampai hari Minggu sore gue cuma diperiksa oleh dokter umum karena memang saat weekend semua dokter spesialis off. Minggu malam, gue merasakan ada yang gak beres. Setiap hampir dua jam sekali gue ingin buang air kecil. Setiap gue ke toilet itu juga Abo selalu siap siaga mengantar.

Senin, 4 April 2016

Senin subuh perut gue mulai terasa tegang dan mulas. Gue pikir itu cuma mulas biasa. Tapi frekuensinya semakin kesini semakin rutin. Gue pun mulai memakai aplikasi contraction timer buat menghitung jeda ketegangan tadi. Ternyata udah setiap sepuluh menit sekali. Yang artinya ini kontraksi beneran bukan cuma mulas biasa. Mulai panik gue pun menelpon Mamah dan menceritakan apa yang gue rasakan. Lalu Abo memanggil suster jaga yang kemudian meminta bidan untuk datang memeriksa gue.

Disinilah drama dimulai. Saat itu kedua orang tua gue udah datang. Ketika bidan mau memeriksa dalam (istilah untuk melihat seberapa besar pembukaan rahim yang sudah terjadi ketika seseorang akan melahirkan dengan memasukkan jarinya ke dalam lubang vagina Ibu) gue ketakutan. Gue dengan gigih menolak untuk diperiksa. -____-“

Sampai bidan tersebut membujuk-bujuk dulu baru gue mau diperiksa. Ternyata sudah pembukaan 1. Gue pun akhirnya dibawa ke ruangan khusus ibu hamil. Fyi ruangan ini ternyata berupa kamar-kamar yang dibatasi sekat-sekat dimana semua ibu yang akan melahirkan di tempatkan disitu. Dalam kamar ini cuma ada tempat tidur dengan lubang di bagian pantat, satu kursi bakso, dan ‘pintu’ berupa kain yang digerek. Sehingga, suara-suara kesakitan para ibu yang sedang dalam proses melahirkan pun saling terdengar satu sama lain. #stress

Setelah masuk ke ruang persalinan gue langsung diperiksa dan dipantau setiap jam. Hasil tes darah menunjukkan trombosit gue semakin turun dan berada di angka 11.000. Jauh sekali dari normal. Bidan yang menangani gue langsung mengontak dokter kandungan yang saat itu belum datang.
Dengan trombosit serendah itu, proses persalinan gue harus “ditunda” dengan menghentikan kontraksi sampai trombosit gue naik dan mencukupi. Selagi kontraksi dihentikan. Abo diminta untuk   mencari donor darah trombosit. Dokter bilang gue baru bisa melakukan persalinan hanya jika trombosit gue berada di angka minimal 60.000. Abo pun mengontak kakak dan adik gue yang memang bergolongan darah sama (O). Minimal diperlukan tiga orang untuk mendapatkan fresh blood yang nantinya akan diolah menjadi trombosit. Singkat cerita Bapak, adik gue Risa dan sahabat gue Tika yang akan mendonorkan darahnya. Abo pun ke PMI untuk mendapatkan darah tersebut. Saat itu, gue menunggu dengan ditemani Mamah dan mamah mertua secara bergiliran. Karena peraturan RS cuma satu orang saja yang diperbolehkan masuk ke ruang bersalin.

Gue agak gak bisa mengingat kapan Abo kembali ke RS. Mungkin sekitar jam 10 malam. Ternyata dari ceritanya, Bapak dan Tika tidak bisa memberikan darahnya karena alasan medis. Namun, bantuan datang  dari teman-teman Tika dan suaminya dan juga kakak-adik saudara-saudara Abo. Dari broadcast message yang disebarkan mereka melalui bbm dan whats app (yang isinya berupa seorang ibu hamil membutuhkan bantuan darah segera, seperti yang sering kita terima melalui media sosial), orang-orang berdatangan berniat memberikan darahnya untuk didonorkan. Call me shallow, but honestly gue benar-benar terharu. Pasti ada kebaikan yang pernah gue atau suami gue lakukan sehingga Tuhan masih menyayangi gue melalui orang-orang itu yang datang dengan ikhlas mau kasih darahnya. Padahal coba bayangkan, malam-malam di hari kerja, mereka datang ke kantor PMI yang lokasinya aja gak terkenal untuk memberikan darah buat orang yang sama sekali gak dikenal. Ternyata masih banyak orang baik gaes. Bapak cerita kalau kantor PMI itu masih ramai didatangi orang sampai tengah malam. Alhamdulilah darah yang gue butuhkan cukup dan langsung diolah menjadi trombosit.

Selasa, 5 April 2016

Jam 2 dini hari, trombosit diinfuskan ke badan gue. Gak lama setelah itu, gue diinduksi untuk mengembalikan kontraksi yang sebelumnya dihentikan. Dari situ perjalanan menyakitkan dimulai. Duh ya demi apa sakitnya minta ampun sist! Gelombang mulasnya berangsur-angsur semakin dekat. Frekuensinya udah setiap berapa detik sekali, bukan lagi hitungan menit. Buat gue, yang paling susah adalah menahan keinginan untuk mengejan alias ngeden! Itu susah sekali for God’s shake. Kepala si bayi rasanya menekan-nekan area bawah untuk keluar. Selama gue kontraksi Abo gak gue bolehin kemana2. Even buat ke toilet. Muka dia udah gak berbentuk juga sih. Habis gue cakar, cubit, pukul, dan sebagainya. Sesekali dia merem karena mungkin capek dan ngantuk berat. Setiap kali dia merem gue tampar pipinya. Haha maafkan aku yank.

Setelah kontraksi dimulai kembali gue benar-benar gak bisa makan apapun. Asupan yang masuk ke tubuh cuma teh manis dan susu. Itupun dipaksa untuk minum. Setelah berjam-jam bidan datang untuk memeriksa sudah pembukaan berapa. Ternyata udah sakit sesakit itu pembukaan baru beranjak ke 4. Jadi dari pembukaan 1 ke 4 itu lama ternyata. Diantara pembukaan 5 ke 7 rupanya gue merasa diri gue ketiduran. Which is.. sebenarnya gue gak ketiduran, tapi pingsan.

Gue pingsan selama kurang lebih 2 menit. Saat gak sadarkan diri itu, menurut cerita Abo (yang baru dia ceritakan di ruang observasi setelah proses melahirkan selesai) badan gue itu mengigil, shaking, lalu semua selang-selang infus lepas sehingga darah bercucuran dari tangan. Dan yang lebih mengkhawatirkan katanya keluar busa dari mulut gue. Mungkin mirip orang epilepsy to be exact. Disitu Abo panik. Tenaga medis pun panik dan langsung memanggil semua dokter. Ruang bersalin pun seketika dipenuhi oleh berbagai dokter mulai dari dokter kandungan, dokter penyakit dalam, dokter jantung dan entahlah dokter apalagi Abo pun gak paham.  Setelah diperika ternyata gue mengalami apa yang disebut sebagai eklampsia.

Eklampsia adalah suatu kondisi akut yang mengancam nyawa kehamilan dengan timbulnya kejang tonik klonik pada pasien Preeklampsia yang tidak tertangani. Preeklampsia sendiri adalah hipertensi yang terjadi pada kehamilan di atas 20 minggu dengan disertai adanya protein di urin dan pembengkakan di sekitar wajah atau ekstremitas (kaki). Sehingga Preeklamsia sering disebut keracunan pada kehamilan (toksemia gravidarum). Eklampsia bisa terjadi saat kehamilan, persalinan ataupun pada saat nifas.
Tekanan darah saat gue mengalami kejang itu mencapai 220mmHg something lah pokoknya. Yang jelas tinggi banget. Dan it was very dangerous. Alhamdulilah gue sadar. Rasanya “cuma” seperti habis bangun tidur. Malah pada saat itu gue sempat mikir, loh gue ketiduran toh, enak juga ya bisa tidur istirahat sebentar.

-____-

Setelah sadar, kontraksi semakin terasa, tapi seingat gue gak lama kemudian pembukaan udah masuk 8. Para bidan dan dokter pun segera menyiapkan persalinan di ruangan sebelah. Sebelumnya Abo sempat memberitahu bahwa nanti persalinan akan dibantu dengan prosedur vakum. Saat itu gue gak bertanya lebih lanjut atau bawel kenapa mesti di vakum. Yang gue ingat alasannya hanya karena gue lagi sakit dan dalam kondisi lemah sehingga takut tidak kuat mengejan. Gue pasrah dan manut. Anything, yang penting selamat.

Setelah semuanya siap gue dipindahkan ke ruangan sebelah. Lalu proses ngeden pun dimulai. Suara mesin vakum mulai dinyalakan. Gue gak bisa cerita detil disini karena I don’t really know what happened down there. Gue hanya fokus ngeden sekuat tenaga. Sekitar 4 kali ngeden gak lama dokter dan bidang bersyukur dengan mengucap Alhamdulilaah. Disitu gue tahu kalau si bayi udah berhasil keluar. Jadi, sebenarnya gue gak merasa kalau bayi itu udah keluar dari perut. Aneh juga ya. -___-

But wait, kenapa bayi gue gak nangis? 

Gue pun langsung teriak-teriak menanyakan kenapa anak gue kok diem aja??

Si bayi pun dibawa ke belakang tirai dan gak lama kemudian terdengar suara tangisannya. Menurut Abo saat dibawa itu bidan memasukkan tangannya ke mulut bayi dan gak lama dia menangis.

Masih berusaha mengingat apa aja yang harus gue lakukan setelah si bayi lahir, gue pun buru2 meminta untuk dilakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD). Fyi, para bidan dan perawat gak langsung menawarkan untuk melakukan IMD. Pfftt. Akhirnya bayi pun ditaruh di dada gue. Tapi dia diam aja, gak berusaha mencari puting atau merambat seperti yang gue baca di artikel-artikel. Gue tanya kenapa bayi saya diam saja ke dokter dan bidan. Mereka bilang mungkin dia sudah kelelahan karena proses persalinan yang panjang. Gue pun pasrah. Gak lama dia diambil oleh suster karena katanya takut kedinginan. Kenzho pun segera dibawa ke ruang observasi. Kami “terpaksa” harus dipisah diobservasi di ruangan masing-masing karena kondisi saya yang masih sakit dan dikhawatirkan bayinya pun mengalami masalah. Entah berapa kali saya harus berpasrah dan gak bisa mikir apa-apa lagi sehingga harus menyerahkan semua keputusan kepada suami dan tenaga medis yang menolong kami.

Selagi IMD, bidan dan dokter pun melakukan proses jahit-menjahit down there. Hmm setelah berpuluh-puluh kali baca artikel dan cerita orang-orang yang melahirkan normal gue meneguhkan hati untuk sugesti diri sendiri kalau dijahit nanti gak akan semenyakitkan yang dibayangkan. Dengan adanya bius, kelegaan karena bayi sudah lahir, dan kontraksi yang sudah mulai hilang, katanya proses menjahit gak akan semenyakitkan itu. 

TERNYATA. SAKIT.

Gue sampai harus gigit handuk untuk nahan sakitnya. Entahlah apa karena yang dijahit sedemikian banyak sehingga obat bius harus disuntikan sampai tiga kali, atau karena kondisi gue yang sedang sangat lemah. Yang jelas intinya sakit. Setelah selesai dijahit, gue dipasangkan kateter, cairan infus dan infus trombosit. Tidak lama kemudian gue dipindahkan ke ruang observasi. Setiap jam tekanan darah gue dimonitor untuk melihat apakah gejala eklampsia akan menyerang kembali atau tidak. Di situ sih gue udah lega dan seperti punya feeling kalau anak gue akan baik-baik aja. Sementara sebenarnya masih banyak kemungkinan yang bakal terjadi. Tapi alhamdulilah he’s doing fine. Di ruang observasi gue ditemani Abo dan satu persatu secara bergiliran orang tua dan saudara-saudara datang menjenguk.  Keesokan harinya gue baru diperbolehkan pindah ke ruang perawatan umum. Hal yang pertama sangat ingin gue lakukan setelah pindah ke kamar adalah… keramas. Udah seminggu gue gak bisa keramas, coba bayangkan! 

Karena kondisi gue yang belum bisa berjalan terlalu lama (kata siapa melahirkan normal dalam beberapa jam sudah bisa jalan normal? KOK GUE ENGGA??) maka gue belum bisa melihat si jabang bayi. Setelah agak kuat gue pun berjalan ke ruang perawatan bayi, dan untuk pertama kalinya bisa menggendong anak sendiri. Jujur sebelum masuk ke ruangan itu perasaan gue campur aduk. Penasaran, senang, takut, cemas, dan lain-lain. I mean, tiba-tiba ada manusia kecil yang keluar dari perut dan sekarang udah ada diruangan lain.

I just couldn’t describe it well.

Dengan diajari oleh perawat yang ada di ruangan tersebut gue pun menggendong dengan kaku. Kemudian minta diajarkan bagaimana menyusui dengan benar. Tapi gak langsung bisa dipraktekkan, karena kenzho sedang tidur saat itu. He’s so tinny, little and cute. And I wish he live well. Btw, yang bisa masuk ke ruang observasi bayi itu lagi2 hanya satu orang. Jadi gak ada itu moment berpelukan dengan bapaknya bersama si bayi bertiga kaya orang-orang. Apalagi foto keluarga.

Syit, sedih amat sik ya.

Akhirnya setelah menginap satu hari lagi di rumah sakit, kami pun diperbolehkan pulang (berkat terror yang terus menerus kami lontarkan ke para dokter dan perawat kapan kami boleh pulang).

Alhamdulilah, we’re going home. Sehat dan selamat keduanya. Maka nikmat Tuhan yang mana yang bisa kami dustakan.. Terimakasih Allah, suamiku, orang tuaku, ibu mertuaku, kakak-kakaku, adik-adikku, sahabat, teman, para tenaga medis dan orang asing yang belum saya kenal tapi sudah tulus memberikan darahnya untuk kelangsungan hidupku dan anakku.

Semoga Allah membalas semua kebaikan kalian dengan pahala berkali lipat sebagai tabungan di akhirat kelak.

Doakan kami bisa menjadikan Kenzho sebagai pengikut Muhammad yang paling bersinar.

Hiduplah sebaik-baiknya Aldebaran Muhammad Kenzho… karena kamu adalah pejuang.. 


Kenzho, 1 month old




Comments

Popular posts from this blog

Crap

Kamu cinta dia? Iya. Kamu mau hidup sama-sama dia terus? Mau. Kamu yakin dia bisa bikin kamu bahagia? Ya. Kamu yakin dia mau menjalani hal yang sama seperti kamu? Tidak tahu. Kamu yakin perasaan dia sama kuatnya dengan yang kamu punya? Tidak. Lalu kamu berpegangan sama apa? Tidak tahu. Kadang jatuh cinta dan menjalani hidup bersama-sama seseorang itu dua hal yang berbeda dan tidak bisa berjalan beriringan. Oh crap. Yess. Life is a bunch of crap.

yess, it's dufan beybeh!

wohh such a busy days coming my way these month.. Padahal dari kemarin pingin banget nulis cerita ini. Singkat kata, jadi akik punya teman yang mana bernama Boni sudah hampir seperempat abad hidup di dunia ini tapi belum pernah ke ... DUFAN! yess, dufan beybeh! Anyhow,  karena beliau berasal dari luar daerah yang jauh dari endonesah sodara2... (read : Madiun), jadilah beliau ini belum pernah menapakkan kaki di dunia fantasi kebanggan milik masyarakat Jakarta itu.  Entah mungkin karena belum sempat, tidak ada yang mengajak, kurang duit karena anak rantau, gengsi atau justru karena rasa nasionalismenya kurang, beliau lebih memilih bertandang ke USS terlebih dahulu. Sayang sekali. Masih ada anak muda seperti beliau yang seharusnya bangga akan produk bangsa sendiri. Jangan ditiru ya.  *prihatin* Beruntunglah Boni karena ia punya teman yang sudah baik, cantik dan tidak sombong lagi... (silahkan kalau mau muntah bak sampah di sebelah kanan). Temannya ini s...

Turning 25

I'm blessed. Because i have so many and see everything. I've been traveling that much, i've so many experiences, i met a lot of people, i feel so many culture, food, challenge, view, atmospher, i had so many things in my life to thankful for.  At the beginning you'd wish for everything. You wish for a great life, perfect house, cool vehicle, best opportunities. As i through this year, in the end, everything that i could thank for is i had so many problem which makes me more mature, tough, strong, and grown as a human being. i dont have that perfect life, i (still) not getting married, i had the up-side down mental problem, sometimes i mess up. But that what you should do in your life, get messed up. And then you can learn. Anehnya, setelah sebelumnya takut dan deg-degan menjelang usia ini, ketika harinya tiba saya merasa sangaat bersyukur. Bersyukur punya keluarga yang lengkap dan menyayangi, bersyukur punya teman-teman yang baik hati, bersyukur punya peker...