Pada kenyataannya, tentu tidak.
Ternyata, memang menghadirkan mahluk hidup ke dunia ini butuh persiapan dan pembelajaran yang sebaik-baiknya. Salahnya gue, dulu waktu hamil gue terlalu fokus pada bagaimana menjalani kehamilan dengan baik, mempersiapkan gizi dan kesehatan jabang bayi yang ada dalam perut, dan mempersiapkan proses persalinan dengan baik pula. Gue lupa dan jumawa, gak belajar bagaimana nanti mengurus mahluk kecil yang nanti gue lahirkan dengan baik. Padahal, setelah ia hadir di dunia, keberlangsungan hidupnya sangat sangat bergantung pada bagaimana kita merawat dan membesarkannya.
Saat membawa Kenzho pulang ke rumah, gue the clueless mother on earth, sangat mengandalkan Mamah untuk mengajarkan semua tetek bengek tentang cara mengurus bayi. Mulai dari menyusui, memandikan, menggendong, menidurkan, dan lain-lain.
Pada awalnya, Kenzho sering sekali menangis, lalu diikuti dengan suhu tubuh yang demam. Di usia satu minggu kami pun membawa Kenzho buat kontrol ke dokter anak. Dokter anak mengatakan memang ia demam dan badannya sedikit kuning. Sepertinya karena kekurangan cairan. Alhasil kami disarankan untuk menambah susu formula karena khawatir ASI gue gak mencukupi kebutuhan minumnya. Pasrah, gue pun manut. Untuk mengetahui apakah Kenzho perlu diberikan bantuan sinar atau tidak, dokter menyarankan ia untuk di tes darah.
Huhu harus melihat bayi sekecil itu disuntik rasanya gak tega..Tapi alhamdulilah nya, ternyata kadar bilirubinnya tidak kurang dari seharusnya sehingga dia tidak perlu menjalai perawatan sinar di rumah sakit. Hanya perlu asupan cairan agar demamnya berkurang.
Di masa-masa awal merawat Kenzho, gue mengalami apa yang sejuta ibu-ibu lainnya alami : BABY BLUES. Hampir setiap hari gue menangis karena berbagai alasan. Mulai dari gak bisa ngurusnya, gak sanggup karena dia menangis terus, capek karena dia gak mau tidur dikasur alias harus tidur sambil digendong, berantem terus sama Mamah sendiri, jauh dari suami (yang kerja di Jakarta sementara gue di Serang), dan berbagai alasan lainnya.
Di masa-masa awal merawat Kenzho, gue mengalami apa yang sejuta ibu-ibu lainnya alami : BABY BLUES. Hampir setiap hari gue menangis karena berbagai alasan. Mulai dari gak bisa ngurusnya, gak sanggup karena dia menangis terus, capek karena dia gak mau tidur dikasur alias harus tidur sambil digendong, berantem terus sama Mamah sendiri, jauh dari suami (yang kerja di Jakarta sementara gue di Serang), dan berbagai alasan lainnya.
Alhasil setiap hari kerjaan gue menerror bapaknya dengan berbagai keluhan. Sampai gue ingat banget, pernah saking frustasinya gue bilang ke suami gimana kalau Kenzho dititipkan saja dulu sampai besar, nanti kalau sudah besar baru kita ambil lagi. :(((
See? Baby blues could attack that bad.
(Mungkin) terutama pada new mom yang baru memiliki anak pertama. Yang awalnya kemana-mana bisa sendiri (dengan bayi masih di dalam perut belum bisa protes A-B-C-D :p ), bebas mau ngapain aja kapan aja, gak perlu menyesuaikan waktu dengan ritme tertentu, begitu punya anak semuanya BERUBAH.
Ada rutinitas baru setiap jam nya yang mesti dilakukan, semua hal harus menyesuaikan dengan si jabang bayi, gak ada lagi judulnya melakukan hal yang diinginkan sesuai mau kita. Not to mention beberapa hal harus dipelajari dulu, gak bisa langsung bisa begitu saja. Menyusui, mengganti popok, membersihkan poop, even itu menggendong! Well, for some people mungkin bisa dengan sendirinya mampu melakukan hal-hal tsb. Tapi buat gue, it takes some time for me to able doing those things. Kaget? Pasti. Bingung apalagi. Feels like... kemana hidup gue yang dulu (
Tapi seperti kata pepatah : YOU'LL GET USED TO IT. Alias LAMA-LAMA JUGA BISA KARENA BIASA.
HAHAHA.
Dari apa yang udah gue rasain, syndrom itu gak boleh disepelakan begitu saja sih. Thats why kalau ada Ibu atau teman yang baru melahirkan lalu dia mencoba untuk membuka percakapan, gue selalu berusaha jujur dan terbuka sehingga dia tahu kalau baby blues itu normal dan lambat laun bisa hilang. Supaya dia gak merasa sendirian.
Beruntungnya gue, kedua orang tua dan suami sangat support dalam membimbing gue sebagai Ibu baru. Walaupun banyak banget drama dengan Mamah sendiri, tapi gak dipungkiri keberadaan Mamah sangat memudahkan gue ketika baru menjadi seorang Ibu. Pun dengan Bapak. Beliau lah yang sigap gendong-gendong, menjemur, ngajak jalan-jalan sore si bayi setiap hari sementara gue bisa melakukan aktifitas lain (mandi, makan,
Fase baby blues berhasil gue lewatin sampai sekitar Kenzho umur 3-4 bulanan. Di bulan ke-5 gue udah harus kembali bekerja. Dan perasaan itu pun hilang dengan sendirinya,
Karena menjadi orang tua berarti akan selalu ada drama setelah drama yang satu selesai. Hahaha maka setelah itu drama menjadi working mom pun dimulai.
See you at another stories!

Comments