Skip to main content

Pekerjaan Rumah untuk Ayah Ibu

Wow lama sekalii gak nulis apapun.

Actually ini tulisan pertama setelah mulai mood menulis lagi akibat kemalasan berkepenjangan dan beban pekerjaan kantor yang menumpuk. 

Terus tiba-tiba ingat, im not really good to keep my memory still in my head. Alias anaknya gampang banget LUPA, kecuali sama kesalahan-kesalahan Abo. :p

Jadi mulai sekarang mau rajin nulis lagi, demi menjaga kenangan-kenangan tentang si Kendut dan kehidupan jungkir balik ibu bapaknya. 

Bulan depan bocah itu tepat dua tahun. Wah GAK KERASA YA. (BOHONG BANGET SIH INI).
Buat gue dan suami mah kerasa sebenarnya. Karena hari demi hari pundi-pundi rupiah masih bertebaran ke pom bensin dan jasa marga demi ongkos pulang pergi Jakarta Serang. HAHAHA. Demi ketemu si buah hati. Agar tidak ada satu pun momen perkembangannya yang kami lewatkan. #OKESIP

Well, semakin besar usia si anak maka semakin kami menyadari bahwasanya PR menjadi orang tua MAKIN BANYAK YA BAPAK IBU. *fyuuuhh*. 

Waktu masih bayi semua milestonenya harus dipantau dan di cek list. Tengkurap, duduk, merangkak, berdiri, berjalan. Checked. Sekarang selain perkembangan fisik dan motorik, mental dan karakternya juga harus mulai dikembangkan supaya doa jadi anak soleh, pintar dan menyejukkan hati bisa terwujud. 

Mendidik karakter jauuh lebih susah dari melatih fisik sih sebenarnya. Di umur 23 bulan ini Kenzho sudah bisa menguasai lebih dari 90 kata (ini literally kami hitung lho saking takutnya dia speech delay), sudah bisa merangkai dua kata menjadi kalimat (walaupun masih yang basic banget kaya : "ibu, bangun..") , sudah bisa disuruh ambil sesuatu (kalau lagi manis banget), sudah bisa bilang makasih ke orang lain (sambil harus tetap ditanya dulu, bilang apa kenzho?), sudah mulai diajarkan konsep menolong orang lain (yang paling sering berhasil adalah kalau diminta tolong pijitin ibu, hihihi #somuchwin), dan lain sebagainya. 

Yang paling berkesan adalah tiap kali dia panggil Ibu. Sampai sekarang dia belum bisa dengan benar kata I-BU. Jadi kalau manggil masih BU atau A-BU. Tapi itu aja udah the sweetest and heart warming banget buat gue setiap kali dia manggil. Lucunya, kalau gue marah dia langsung ngerasa dan buru-buru manggil Bu, bu.. dengan intonasi super lembut dan tatapan mata super gemas dan sayu yang berujung ibunya gak jadi marah. Hmm kecil-kecil udah cerdik kamu Ken! 

Oh ya keaktifan Kenzho juga semakin menjadi. Tiap kali ketemu semua anak laki-laki yang seumuran atau beda beberapa tahun diatas dia itu pasti diajak gulet. Kalau gak, dikejar-kejar didorong-dorong disuruh main lari-larian sama dia (ini untuk anak yang gak dia kenal ketemu di Mall atau di kondangan, #sokikrib). 

Beberapa kali ibunya harus meminta maaf karena anak yang jadi sasaran dia kadang ketakutan atau gak nyaman karena diajak gulet, atau di towel-towel -___-.  

Kadang khawatir sih kenapa dia aktif banget menjurus anarkis padahal masih piyik gitu. Tapi diyakinkan sama bapaknya kalau anak laki wajar kelakuannya kaya begitu. Dan ibunya udah kebayang-bayang jangan-jangan nanti kalau udah sekolah sering dipanggil sama gurunya karena berantem terus sama temannya. Duh ya semoga makin besar kamu makin jinak ya Ken...

PR yang paling berat banget untuk gue dan Kenzho (juga bapaknya) sekarang adalah lepas nenen alias weaning. Membayangkannya aja udah bikin stress duluan. Gimana enggak, dengan masih nenen kaya sekarang aja dia itu tidurnya masih gelisah banget tiap malam. Bisa 3-4 kali rewel bangun. Kalau beruntung, cukup dengan kasih nenen aja dia mau tidur lagi dengan anteng. Kalau lagi apes, mau dibolak-balik nenen juga gak akan mempan. Paling bisa tidur lagi dengan digendong atau dipindahkan ke gursi goyang andalannya. Btw, di rumah memang ada kursi goyang yang biasa dipakai dia dari kecil untuk tidur. Dan kebiasaan itu berlanjut sampai umur sekarang. Kalau tidur siang harus di kursi goyang! Kalau malam ya itu tadi, kadang di kasur kadang di kursi. 

Nah kebayang donk kalau dia lepas nenen nanti akan seperti apa perjalanan tidur tiap malam kami bertiga? Huwahahuhu. Jadi sampai detik ini gue dan Abo masih perlu memikirkan dengan matang kapan kami akan melepaskan nenen dari Kenzho. *diskusi alot*.

Lalu PR lainnya adalah melancarkan bicaranya. Gue takut banget dia terlambat bicara karena itu milestone yang sangat penting di tahap ini. Tiap malam gue ajak ngobrol terus dan ngoceh-ngoceh gak jelas meskipun dia seperti abai dan acuh tak acuh. Biarlah. Yang penting usaha terus. 😅😅

Toilet training? Hmm apa itu? Hahaha itu nanti dulu deh, biar satu per satu PR yang lebih penting terlewati dulu. Emak bapaknya masih rela kok beliin dia pampers. Demi kewarasan hidup kami saat ini. Lol.


Kita lihat nanti apakah PR kami diatas semua akan selesai tepat pada waktunya atau tidak.

                                                                    See you at the another post!

Comments

Popular posts from this blog

yess, it's dufan beybeh!

wohh such a busy days coming my way these month.. Padahal dari kemarin pingin banget nulis cerita ini. Singkat kata, jadi akik punya teman yang mana bernama Boni sudah hampir seperempat abad hidup di dunia ini tapi belum pernah ke ... DUFAN! yess, dufan beybeh! Anyhow,  karena beliau berasal dari luar daerah yang jauh dari endonesah sodara2... (read : Madiun), jadilah beliau ini belum pernah menapakkan kaki di dunia fantasi kebanggan milik masyarakat Jakarta itu.  Entah mungkin karena belum sempat, tidak ada yang mengajak, kurang duit karena anak rantau, gengsi atau justru karena rasa nasionalismenya kurang, beliau lebih memilih bertandang ke USS terlebih dahulu. Sayang sekali. Masih ada anak muda seperti beliau yang seharusnya bangga akan produk bangsa sendiri. Jangan ditiru ya.  *prihatin* Beruntunglah Boni karena ia punya teman yang sudah baik, cantik dan tidak sombong lagi... (silahkan kalau mau muntah bak sampah di sebelah kanan). Temannya ini s...

Crap

Kamu cinta dia? Iya. Kamu mau hidup sama-sama dia terus? Mau. Kamu yakin dia bisa bikin kamu bahagia? Ya. Kamu yakin dia mau menjalani hal yang sama seperti kamu? Tidak tahu. Kamu yakin perasaan dia sama kuatnya dengan yang kamu punya? Tidak. Lalu kamu berpegangan sama apa? Tidak tahu. Kadang jatuh cinta dan menjalani hidup bersama-sama seseorang itu dua hal yang berbeda dan tidak bisa berjalan beriringan. Oh crap. Yess. Life is a bunch of crap.

Resign?

Dulu pelarian dari persoalan hidup bisa gue tuangkan dengan menulis, tentang apapun tanpa dibatasi oleh ketakutan bahwa orang lain akan mengganggap tulisan gue itu remeh atau meremehkan masalah tersebut.  Writing is the only way I have to explain my own life to myself Tapi kebiasaan ini berubah setelah gue punya anak alias jadi Ibu. Pertama-tama karena berkurangnya waktu dan (keinginan) untuk menulis karena harus beradaptasi dengan peran baru. Lama-lama banyak hal yang terjadi sampai akhirnya bingung mau cari alasan apalagi untuk membenarkan keengganan gue untuk menulis. Intinya karena ga ada keinginan dan niat. Balancing life between family and work juga ternyata ga semudah yang dibayangkan. Kadang smooth, ga jarang drama. Kalau orang-orang sering bilang keluarga adalah yang nomor satu setiap waktu, buat gue itu ga bisa berlaku. #rhyme Ya adakalanya harus memprioritaskan pekerjaan saat tuntutannya emang tinggi dan anak atau keluarga sedang dalam kondisi baik-baik aja kan. Jadi saa...