Skip to main content

Tentang Menyusui



pic from pinterest.com

Genapnya umur Kenzho dua tahun membuat saya flashback saat momen-momen pertama kali menyusui Kenzho. Menyusui menjadi salah satu penanda awal saya juga ketika memasuki dunia seorang Ibu. 

Sampai hari ke 3 lahir ke dunia, Kenzho belum saya susui secara langsung. Hal itu karena selain kondisi saya yang masih lemah, harus menerima transfusi darah lagi dan masih meminum obat-obatan penunjang pasca demam berdarah. Begitupun Kenzho yang setelah lahir harus segera dibawa ke ruang observasi (NICU) untuk dimonitor. Maklum, Kenzho lahir dengan beberapa proses yang mungkin gak biasa. Selain harus di vacuum, dalam laporannya yang saya baca dia juga sempat meminum air ketubannya. Pantas saja, ketika lahir dia gak langsung menangis seperti bayi pada umumnya. 

Oh ya, di RS tempat saya melahirkan saya kurang paham apakah mengusung konsep rooming-in Ibu dan bayi atau tidak. Gak ada kesempatan dan waktu untuk menanyakan hal tersebut. Karena seperti yang sudah saya ceritakan di postingan sebelumnya, saya memang terpaksa dilarikan ke RS tersebut karena kondisi DBD saya. Jadi ya saat itu saya pasrah saja, gak nuntut macam-macam yang penting saya dan bayi selamat dua-duanya. 

Beberapa jam setelah melahirkan dengan kondisi yang masih linglung Suami sempat dimintai persetujuan apakah akan memberikan susu formula atau tidak. Saat itu kami sepakat menjawab tidak. Dengan asumsi pengetahuan kami sampai hari ke 3 (72 jam) setelah dilahirkan bayi sebetulnya tidak membutuhkan asupan karena masih membawa asupan dari dalam kandungan #cmiiw. Tapi saat hendak menyerahkan form persetujuan Mamah saya "mencegat" Suami dan meminta kami untuk memikirkan ulang. Saat itu Mamah menyarankan apa tidak sebaiknya diberikan sufor saja mengingat kondisi bayi yang lemah. Dan kondisi saya pun belum tahu kapan pulihnya. Selain itu saya juga masih harus mengkonsumsi obat-obatan. Akhirnya dengan berat hati kami meng-IYA-kan pemberian sufor bagi Kenzho.

To be honest, saat itupun kami gak menginstruksikan susu formula apa yang harus diberikan ke Kenzho. Pun gak menanyakan apa merk yang digunakan oleh RS. Semua kami pasrahkan ke pihak RS karena saat itu kami gak kepikiran. Hanya fokus pada pemulihan saya dan Kenzho. Dan sepertinya rasa shock Suami saya setelah memikul beban berhari-hari juga gak memungkinkan dia untuk berpikir detil lagi. Tapi untuk diapers, saya ingat Suami saya sempat membeli popok dengan merk yang lumayan untuk digunakan Kenzho. (Fyi, pas dia menengok ke ruang bayi ternyata Kenzho gak pakai popok tsb. Entahlah dia pakai merk apa. Kalau ingat hal itu rasanya agak kesal kok sudah disiapkan malah gak dipakaikan. Tapi kami selalu bilang ya sudahlah itu anggap saja sumbangan untuk teman-teman Kenzho disana).

Hari ke 2, kondisi saya sudah memungkinkan untuk menengok Kenzho di ruang bayi. Antara penasaran, deg-degan, takut, bahagia, lega, semuanya campur jadi satu. Karena hanya satu orang yang diperbolehkan untuk menengok masing-masing bayi maka saya masuk ke ruangan tersebut sendiri. Dengan kikuk saya mencoba sebisa mungkin menggendong Kenzho dengan benar. Saat itu dia sedang tertidur. Sambil menggendong saya diajarkan teknik menyusui oleh suster. Tapi gak bisa langsung dipraktekkan karena Kenzho gak mau melek. Akhirnya saya pun balik lagi ke kamar perawatan. 

Keesokan harinya kami sudah boleh pulang. Di rumah, saya langsung diajarkan Mamah untuk menyusui Kenzho. Mamah dengan sabar mengajarkan saya sampai air susu keluar dan Kenzho berhasil meminumnya. Setelah pulang ke rumah, Kenzho pure hanya meminum ASI. Memang pengalaman pertama menjadi seorang Ibu itu amazing banget ya. Mulai dari perubahan fisik maupun psikologis semuanya butuh adaptasi. Pun dengan -maaf, kondisi payudara setelah melahirkan. Kalau bisa dideskripsikan rasanya berat sekali, gak nyaman, perih, dan ada rasa risih yang gak biasa. Seakan payudara kita penuh dan kalau tersenggol sedikit sudah langsung bikin cenut-cenut. Bahkan untuk mandi kena air pun rasanya sakit. Tapi hal itu memang gak berlangsung selamanya. Saya sendiri baru merasa nyaman dengan kegiatan menyusui dan perubahan fisik tersebut setelah kurang lebih dua bulan.

Oke, back to the story, di hari ke 5, badan Kenzho demam tinggi dan agak kuning. Dengan berat hati kami pun membawanya ke dokter spesialis anak. Sampai disana, saya sungguh sedih. Dokter bilang Kenzho demam karena kekurangan cairan which is mean air susu saya kemungkinan belum mencukupi kebutuhan dia. Dan posisi menyusui saya SALAH. Eng ing eeng... Atau kemungkinan lainnya kadar bilirubinnya tinggi sehingga kulitnya agak kuning. Dokter meminta kami untuk melakukan cek darah. Apabila memang tinggi maka Kenzho harus disinar.. Huhu apalagi ini, pikir saya dalam hati. Alhamdulilah nya ternyata bukan bilirubin penyebabnya. Tapi kemungkinan memang karena dia kekurangan cairan. Dengan beraaaat hatiii akhirnya kami merelakan Kenzho kembali meminum susu formula. Tapi gak lama hanya sampai umur 2 mingguan, dengan modal nekat saya lepas dia untuk hanya meminum ASI. Dan syukurlah semuanya berjalan lancar dan dia sehat-sehat aja. Di umur satu bulan berat badannya sudah naik 1 kg dari BBL (berat badan lahir). Artinya, ASI saya mencukupi kebutuhan konsumsi dia.

Sampai usia satu bulan, Kenzho menyusui hampir setiap jam sekali. Kalau malam, setelah usia dua minggu, polanya mulai 2 jam sekali. Makin besar kebutuhan ASI nya semakin banyak. Menjelang 2,5 bulan saya harus masuk kantor (waktu itu saya harus masuk kantor saat usia Kenzho 5 bulan, tepat setelah masa cuti tugas belajar saya berakhir), akhirnya saya pun mulai bertekad mengisi stok ASIP untuk diminum Kenzho selama saya bekerja nanti. Sampai umur Kenzho 2,5 bulan itu memang saya belum punya stok ASIP. Hal itu karena saya merasa kewalahan tidak memiliki waktu untuk memompa. Fyi, Kenzho tipikal bayi rewel yang sulit tidur dan anteng, apalagi tidur dikasur. Setiap ditaruh di atas kasur dia tiba-tiba bangun dan menangis. Alhasil agar dia bisa tdur nyenyak saya harus menggendong atau memangkunya SELAMA dia tidur. Bahkan untuk mandi dan makan pun Omah Opah nya harus gantian menggendong. Repot sangat sudah pasti. Tapi karena sudah niat mau ASI Ekslusif sampai 6 bulan saya pun mulai mengumpulkan stok ASIP bagaimanapun caranya. Selama 2,5 bulan memompa akhirnya berhasil terkumpul 75 botol @100 ml ASIP.  Lumayan untuk bisa dikonsumsi Kenzho selama saya kerja disamping saya tetap memompa setiap harinya di kantor untuk dibawa pulang.

Yang menjadi petualangan selanjutnya dari masa-masa pumping ini adalah ketika saya harus dinas ke luar kota. Saat usia Kenzho sudah 6 bulan, saya mulai ditugaskan untuk bekerja ke luar kota. Artinya peralatan perang (pumping) harus selalu saya bawa. Saat itu, tugas saya juga harus mobile meliput ke daerah manapun bukan hanya duduk rapat2 dalam ruangan ber AC. Kalau dalam kamar hotel tidak tersedia kulkas maka saya harus menitipkan ice gel beserta ASIP ke freezer dapur hotel. Pernah suatu kali karena terburu-buru harus berangkat ke lokasi pagi-pagi buta, ASIP saya tertinggal di kulkas hotel! Untungnya, masih ada teman yang stay di hotel yang sama dan mau dimintai tolong untuk membawakan ASIP tersebut. Fyuuhh....



Seringkali juga saya harus pumping di kendaraan.. Karena sempitnya waktu dari satu lokasi ke lokasi selanjutnya. Untungnya, tidak pernah sampai harus melakukannya di kendaraan umum, semuanya di mobil dinas. Kalau di dalam mobil terdapat laki-laki (yang mana drivernya pasti laki-laki) saya melipir duduk di pojokan paling belakang dengan ditutupi apron. Beres.

Yang repot ketika selesai pompa dan harus memasukkan asip ke botol-botol kaca atau kantong asip nya. Khawatir tumpah karena mobil goyang-goyang. Perlu keterampilan khusus supaya semua ASIP tidak ada yang terbuang. Hehehe. Dan satu lagi, yang repot juga adalah mencuci dan mensterilkan peralatan pumping setelah digunakan ketika berada di luar ruangan. Sementara saat itu dalam sehari saya bisa dua sampai tiga kali pumping. Artinya, peralatan pompa harus segera dicuci (di steril) saat itu juga setelah selesai pakai karena akan digunakan kembali. Biasanya saya akan meminta air panas ke pengelola gedung dimanapun kegiatan berlangsung. Atau terpaksa menunggu sampai ke hotel kembali, yang artinya menunda kegiatan memompa, huhu.. Kalau dipikir-pikir repot sekali. Tapi semuanya terbayarkan karena Kenzho bisa meminum asi saya walaupun Ibu nya tidak bersama dia setiap saat.

Hasil dari googling sana sini dan ngobrol dengan Ibu-ibu yang sudah berpengalaman lainnya, katanya bayi akan mulai berkurang menyusu ketika sudah MPASI. Well ya, itu betul sekali. Setelah 6 bulan, Kenzho makin sedikit minum asi.. Tapi kalau untuk urusan tidur lain lagi ceritanya. Dari apa yang saya baca dan dengar, katanya memasuki usia 1 tahun seorang bayi sudah jauuuuuuuh berkurang bangun malam karena ingin menyusu. Well sepertinya gak demikian dengan Kenzho. Sampai saat ini bahkan, di umur yang ke 2 tahun dia masih tetap bangun malam sekitar 2-3 kali untuk menyusu...

                                                            --_______________________________--


Jadi saya dan suami kebingungan sendiri bagaimana caranya menyapih dia. Akhirnya kami sepakat untuk menggunakan metode Weaning with Love (WWL) alias menyapih dengan cinta. Pelan-pelan menyampaikan ke Kenzho kalau sudah waktunya dia tidak menyusu ke Ibu lagi. Kalau dia harus bisa tidur sendiri gak tergantung dengan susu Ibu. Huhu doakan kami mampu menghadapi segala dramanya ya.

Will update on this later. 

Thanks for reading anyway!


Comments

Popular posts from this blog

Crap

Kamu cinta dia? Iya. Kamu mau hidup sama-sama dia terus? Mau. Kamu yakin dia bisa bikin kamu bahagia? Ya. Kamu yakin dia mau menjalani hal yang sama seperti kamu? Tidak tahu. Kamu yakin perasaan dia sama kuatnya dengan yang kamu punya? Tidak. Lalu kamu berpegangan sama apa? Tidak tahu. Kadang jatuh cinta dan menjalani hidup bersama-sama seseorang itu dua hal yang berbeda dan tidak bisa berjalan beriringan. Oh crap. Yess. Life is a bunch of crap.

yess, it's dufan beybeh!

wohh such a busy days coming my way these month.. Padahal dari kemarin pingin banget nulis cerita ini. Singkat kata, jadi akik punya teman yang mana bernama Boni sudah hampir seperempat abad hidup di dunia ini tapi belum pernah ke ... DUFAN! yess, dufan beybeh! Anyhow,  karena beliau berasal dari luar daerah yang jauh dari endonesah sodara2... (read : Madiun), jadilah beliau ini belum pernah menapakkan kaki di dunia fantasi kebanggan milik masyarakat Jakarta itu.  Entah mungkin karena belum sempat, tidak ada yang mengajak, kurang duit karena anak rantau, gengsi atau justru karena rasa nasionalismenya kurang, beliau lebih memilih bertandang ke USS terlebih dahulu. Sayang sekali. Masih ada anak muda seperti beliau yang seharusnya bangga akan produk bangsa sendiri. Jangan ditiru ya.  *prihatin* Beruntunglah Boni karena ia punya teman yang sudah baik, cantik dan tidak sombong lagi... (silahkan kalau mau muntah bak sampah di sebelah kanan). Temannya ini s...

Turning 25

I'm blessed. Because i have so many and see everything. I've been traveling that much, i've so many experiences, i met a lot of people, i feel so many culture, food, challenge, view, atmospher, i had so many things in my life to thankful for.  At the beginning you'd wish for everything. You wish for a great life, perfect house, cool vehicle, best opportunities. As i through this year, in the end, everything that i could thank for is i had so many problem which makes me more mature, tough, strong, and grown as a human being. i dont have that perfect life, i (still) not getting married, i had the up-side down mental problem, sometimes i mess up. But that what you should do in your life, get messed up. And then you can learn. Anehnya, setelah sebelumnya takut dan deg-degan menjelang usia ini, ketika harinya tiba saya merasa sangaat bersyukur. Bersyukur punya keluarga yang lengkap dan menyayangi, bersyukur punya teman-teman yang baik hati, bersyukur punya peker...