Mau sedikit cerita (atau banyak)
mengenai kehidupan perkantoran gue sekarang dan segala problematikanya.
Semenjak pelantikan Presiden baru di 2015, kementerian tempat gue bekerja
menjadi salah satu lembaga yang di merger
alias digabungkan dengan satuan kerja lain. Dua organisasi besar menjadi satu,
pun dengan orang-orang di dalamnya. Hmm sudah kebayang kan bagaimana
penyesuaian demi penyesuaian mesti terus dilakukan untuk bisa bekerja dengan
baik, benar dan DAMAI.
Damai, itu suatu kondisi yang
sampai sekarang menurut gue belum bisa dirasakan. Karena selayaknya orang yang
dipaksa pindah rumah yang sudah bertahun-tahun dia tempati, gue pun merasa
seperti itu ketika harus pindah “kantor” ke tempat lembaga satunya berada
selama ini. Hal ini juga dikarenakan gue naik satu level karir. Naik pula porsi kewajiban dan tanggung jawab. Mau gak mau, suka gak
suka, siap gak siap, karena setelah selesai kuliah gue harus memikul amanat
baru. #tsaahhh
Di tempat baru ini, dengan pekerjaan,
ruang lingkup dan orang-orang baru tentunya membutuhkan waktu adaptasi yang gak
sebentar. Dan gak mudah tentunya. Gue masih merasa cuma menjadi "tamu" di kantor yang baru ini. Bahkan sampai saat ini, gue hanya punya
satu-dua orang teman yang rasanya benar-benar bisa dipercaya dan menjadi
layaknya seorang “teman”. If you know what I mean. I feel like everybody in
this place play some game that I couldn’t understand well. Feels like the situation
is full of politics. Where I do not know which one to believe.
Mungkin karena saking banyaknya orang dalam satu ruang lingkup kerja (biro), atau mungkin juga karena kita semua berasal dari latar belakang yang berbeda-beda baik itu usia, pendidikan, pergaulan, dan seterusnya. Setelah kurang lebih running hampir 4 tahun, beberapa co worker gue pun memilih mengundurkan diri, pindah satuan kerja (mutasi), atau sekedar cuti kuliah. Alasannya macam-macam, tapi seperti satu persatu need a break for a while or for good.
Sementara gue? Yeah mencoba bertahan dengan segala tantangan dan kerikil-kerikil centil setiap hari. Ya abis mau gimana lagi sis? Resign? Ku belum sanggup setiap hari di rumah, karena tipikal orang kaya gue yang cepat bosan. Dan gue merasa belum siap jadi full IRT karena sungguh menurut gue ibu rumah tangga itu lebih strong dan sabar dalam mengurusi pekerjaan sehari-hari dibandingkan menjadi working mom yang bisa "kabur" sebentar dari rutinitas.
Jadi opsi resign bukan pilihan. Suami sempat mendorong untuk meminta pindah kota alias mutasi ke Serang. Sebetulnya mau banget. Tapi dipikir-pikir lagi kalau gue mutasi itu artinya harus memulai lagi dari NOL di tempat yang baru, bertemu orang-orang baru dengan pekerjaan baru. Well, sama aja donk. Gambling situation banget. Whether the situation will be better or worst, kita gak pernah tahu. Poin plusnya, memang bisa lebih dekat dengan orang tua yang dititipi Kenzho, jadi kami gak usah bolak-balik Jakarta- Serang lagi setiap hari (mungkin suami masih, idk). Tapi mental aku belum siappp untuk beradaptasi lagi. Huhu.
Jadi sementara jalanin dulu aja deh. Sambil selalu berharap situasi akan membaik, gue akan punya lebih banyak temanyang dapat dipercaya, pekerjaan gue akan lebih lancar dan gak ada banyak drama-drama yang menyita pikiran. Let's say AAMIIIN.
Mungkin karena saking banyaknya orang dalam satu ruang lingkup kerja (biro), atau mungkin juga karena kita semua berasal dari latar belakang yang berbeda-beda baik itu usia, pendidikan, pergaulan, dan seterusnya. Setelah kurang lebih running hampir 4 tahun, beberapa co worker gue pun memilih mengundurkan diri, pindah satuan kerja (mutasi), atau sekedar cuti kuliah. Alasannya macam-macam, tapi seperti satu persatu need a break for a while or for good.
Sementara gue? Yeah mencoba bertahan dengan segala tantangan dan kerikil-kerikil centil setiap hari. Ya abis mau gimana lagi sis? Resign? Ku belum sanggup setiap hari di rumah, karena tipikal orang kaya gue yang cepat bosan. Dan gue merasa belum siap jadi full IRT karena sungguh menurut gue ibu rumah tangga itu lebih strong dan sabar dalam mengurusi pekerjaan sehari-hari dibandingkan menjadi working mom yang bisa "kabur" sebentar dari rutinitas.
Jadi opsi resign bukan pilihan. Suami sempat mendorong untuk meminta pindah kota alias mutasi ke Serang. Sebetulnya mau banget. Tapi dipikir-pikir lagi kalau gue mutasi itu artinya harus memulai lagi dari NOL di tempat yang baru, bertemu orang-orang baru dengan pekerjaan baru. Well, sama aja donk. Gambling situation banget. Whether the situation will be better or worst, kita gak pernah tahu. Poin plusnya, memang bisa lebih dekat dengan orang tua yang dititipi Kenzho, jadi kami gak usah bolak-balik Jakarta- Serang lagi setiap hari (mungkin suami masih, idk). Tapi mental aku belum siappp untuk beradaptasi lagi. Huhu.
Jadi sementara jalanin dulu aja deh. Sambil selalu berharap situasi akan membaik, gue akan punya lebih banyak teman
Comments