Dulu pelarian dari persoalan hidup bisa gue tuangkan dengan menulis, tentang apapun tanpa dibatasi oleh ketakutan bahwa orang lain akan mengganggap tulisan gue itu remeh atau meremehkan masalah tersebut.
Writing is the only way I have to explain my own life to myself
Tapi kebiasaan ini berubah setelah gue punya anak alias jadi Ibu. Pertama-tama karena berkurangnya waktu dan (keinginan) untuk menulis karena harus beradaptasi dengan peran baru. Lama-lama banyak hal yang terjadi sampai akhirnya bingung mau cari alasan apalagi untuk membenarkan keengganan gue untuk menulis. Intinya karena ga ada keinginan dan niat.
Balancing life between family and work juga ternyata ga semudah yang dibayangkan. Kadang smooth, ga jarang drama. Kalau orang-orang sering bilang keluarga adalah yang nomor satu setiap waktu, buat gue itu ga bisa berlaku. #rhyme
Ya adakalanya harus memprioritaskan pekerjaan saat tuntutannya emang tinggi dan anak atau keluarga sedang dalam kondisi baik-baik aja kan. Jadi saat-saat itu guilty feeling karena ga mikirin keluarga saat harus mikirin kerjaan menjadi lebih kecil. Karena tau keluarga kita akan baik-baik aja. Lain hal kalau misal anak lagi sakit, terus kerjaan numpuk, wah ga tau deh bebannya kaya gimana. Yang mana alhamdulilah sih itu jarang terjadi. Dan kalau lagi kaya begini biasanya gue pun akan memprioritaskan kesehatan anak lah.
Anyway kenapa jadi jauh ya bahas keseimbangan antara kehidupan berkeluarga dan berkarir. Haha karena ga lain dan ga bukan adalah keinginan buat resign alias keluar dari pekerjaan semakin besarrr. Gue ga tau sih harus cerita ke siapa karena kalau gue cerita ke orang-orang rasanya gue pengen resign dari kerjaan gue yang notabene adalah seorang PNS, pasti reaksi mereka udah bisa diprediksi. Like, are you out of your mind??? Why the hell??
Why?
Why?
Why?
Karena gue udah lelah dengan drama kantor yang datang silih berganti.
Kebijakan pimpinan yang ga jelas? Checked
Sikap dan kemampuan atasan ga jelas? Checked
Staf ga bisa diatur? Checked
Rekan kerja yang ga bisa kerja dan carmuk? Checked
Gue juga ga ngerti sih apakah keinginan untuk resign ini muncul karena akumulasi dari macam-macam sebab juga selain persoalan kantor kaya kondisi pandemi Covid-19 yang lagi kita alami ini, ART gue yang cabut gitu aja, atau sebab lainnya.
Pokoknya muncul terbesit keinginan ap ague resign aja ya?
Tapi masih logis mikir terus habis itu mau ngapain? Full time IRT? Bisnis? Siap ga?
Lalu masih mentok kayanya belum sanggup deh bisnis, kira-kira kalau jadi IRT aja bisa ga ya, makin stress ga, dst.
Mungkin orang-orang berpikir PNS itu profesi yang paling aman, apalagi di masa pandemi gini dimana banyak banget orang lain yang pekerjaannya terdampak sehingga penghasilan jadi ga menentu, yang punya usaha pun banyak yang bangkrut. Kalau mikir kesitu iya banget sih jadi ragu mau resign. Sayang setelah pencapaian selama ini.
Padahal kalau dipikir-pikir keadaan posisi gue di kantor pun sebenernya lagi ga jelek-jelek banget.
Alhamdulilah masih jadi pegawai yang bisa diandalkan, prestasi pun ga bisa dibilang jelek. Malah akhir-akhir ini gue (herannya) berhasil jadi peringkat pertama lulusan diklat jabatan gitu, diikutkan test assessment jabatan, ya semacam itu lah. Yang mana gue pun jujur heran kok bisa padahal kondisi mental dan motivasi gue lagi ambruk banget.
Tapi kenapa rasanya mau nyerah aja ya? Tolong sepertinya gue butuh motivasi…
*buka shoppee*
*auto termotivasi*
Sudahlah cukup sekian dan terima motivasi.

Comments