Skip to main content

International Women's Day



Baru-baru ini setelah hampir 7 tahun berumah tangga saya sempat sedikit "mengeluh" ke Ibu saya sendiri. Soal bagaimana saya dan kakak adik saya yang semuanya perempuan, tidak pernah diajarkan memasak, beres-beres rumah, ataupun urusan domestik lainnya yang lazimnya stigma masyarakat dikerjakan oleh kaum perempuan. 

Kenapa saya protes? Karena jujur, ketika memasuki kehidupan berumah tangga, saya sempat mengalami clueless on how to manage our house. Saya ga punya pengetahuan apalagi skill masak, bahkan harus googling dulu untuk bisa membuat sayur sop, ikan goreng, atau masakan apapun itu yang mungkin buat sebagian orang sepele.

Tentu saja protes saya ini ga membuahkan hasil apa-apa. Ibu saya ga kalah nge-gas donk, membela apa yang menjadi the way she raise her childrens. Saya mengerti dan ga berusaha untuk mendapatkan jawaban sebaliknya. Cuma ingin ibu saya tahu aja bahwa saya mengalami kesulitan itu, dan mungkin akan berbeda hasilnya jika she teach us in a different way back then. 

Ibu saya sejak dulu memilih untuk mengerjakan semuanya sendiri. Tanpa ART. Bekerja di kantor sekaligus mengurus kebutuhan rumah tangga. Ada beberapa urusan rumah yang pekerjaannya dibantu oleh Ayah saya, seperti mengepel dan menyetrika baju. Ayah saya sama sekali tidak keberatan dan (masih) melakukan itu sampai detik ini. Walaupun usia sudah tidak muda. 

Saya ingat beberapa kali ketika awal pernikahan setiap kali berkunjung ke rumah mertua ada hal yang jadi bahan kritik kepada saya tentu. Walaupun secara tidak langsung, kerap kali secara bergurau. Ga selalu dari mertua tapi kadang dari ipar-ipar. Tapi lucunya, saya ga pernah ambil hati. Anggap saja angin lalu. Saya pun ga pernah menyalahkan mereka apalagi menyerang balik. Karena saya paham, mungkin kami dibesarkan dalam lingkungan dan tata cara didikan yang berbeda. Apa yang menurut mereka lazim mungkin berbeda dengan cara saya dibesarkan. 

Dalam diri saya percaya, mungkin ada yang saya tidak mampu lakukan sebagai perempuan, tapi ada pula yang saya mampu lakukan dan mereka tidak bisa lakukan. Seperti menghasilkan uang sebagai tambahan pemasukan bagi keluarga misalnya. Kalau saya sering baca quote : Perempuan bisa lakukan segalanya, or woman can do it all. I don't buy it. I mean it's very ok if we couldn't tho'.  

Kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau, menjadi apapun yang kamu inginkan, tapi belum tentu kamu bisa melakukan SEGALANYA. And it's FINE.  

Jadi saya ga pernah tersinggung atau marah kalau ada komen-komen kaya : 

"ih kuku nya kok bagus, keliatan nih ciri-ciri tangan yang ga pernah megang dapur"

(in fact, padahal emang kuku tangan saya ga diapa-apain juga dari sananya udah begini. Mau masak terus juga balik lagi kukunya kaya gini. Second fact, yup saya jwarang banget megang dapur. Hmm ini maksudnya masak kali ya? Karena kalau megang doank mah ya bingung apa yang mau dipegang. Wkwkwk) 

Biasanya sih saya cukup jawab : iya emang jarang, abis gimana ya sibuk cari uang. Atau sibuk ngurus negara (ini karena saya PNS). Period. Case closed. 

Ibu saya memang ga pernah mengajarkan anak-anaknya melakukan pekerjaan rumah tangga, tapi she's the one who pushed us to get our education as higher as we could. She would do anything to pay our tuition fee. Walaupun semua anaknya perempuan, dia bilang kami minimal harus jadi sarjana. :') 

Dia mengajarkan kami untuk meraih APA yang kami mau sebagai perempuan, mengeluarkan kami dari kotak pemikiran bahwa perempuan harus mengerjakan semua urusan domestik. 

Suprisingly saya pun dapat suami yang ga keberatan sama sekali istrinya leha-leha  jarang masak atau beberes. He's willingly to do it as long as he could. Kalau tengah malam lapar dia ga akan bangunin saya untuk sekadar minta digorengin telur. Dia akan bangun dan goreng sendiri.  Menurut saya dapat suami seperti itu bukan karena semata-mata berkah atau keberuntungan ya. Maksudnya, saya ga tiba-tiba berjodoh tanpa tahu sifatnya suami kaya begitu. Tapi, saya sudah tahu dan screening dari awal mengenal satu sama lain bahwa oh kami bisa sejajar dan sepemikiran dalam hal prinsip berumah tangga. Coba bayangkan kalau saya ketemu suami yang pemikirannya masih konvensional alias mengganggap bahwa semua urusan domestik adalah urusan perempuan. Apa ga mau kabur aja pake sapu terbang bun? 

Nah jadi, di momen hari perempuan internasional yang diperingati setiap tanggal 8 Maret saya ingin menunjukkan bahwa kita, perempuan, itu sangat beragam. Punya pemikiran, sikap, cara pandang, tujuan, pencapaian, privilege, didikan, lingkungan, support system dan lain sebagainya yang sangat berbeda antara satu dan yang lainnya. And everything is fine. Ga perlu mencoba menyeragamkan itu semua, we can live with all of those diversity. 

Dan jangan berkecil hati ketika kita ga mampu melakukan sesuatu yang menurut society itu lazim dikerjakan kaum perempuan. Sampai saat ini saya masih ga suka masak, ibarat kata ga ada seneng-senengnya ketika saya harus masak. (Kecuali baking, saya masih agak lebih suka melakukannya). 

Di waktu luang, saya lebih memilih untuk belajar desain grafis, sesuatu yang saya ga mengerti tapi INGIN saya ketahui dan lakukan. Padahal, bisa saja karena tuntutan society saya belajar masak dan menghafal nama-nama bumbu dapur. But i didn't do it for the shake of society (or in law family). 

I'll do it because i want to. 

Lalu, apakah sekarang saya sudah bisa masak? Bisa. Masih dengan bantuan cookpad tentunya, haha. 

Happy International Women's Day!

Comments

Popular posts from this blog

Crap

Kamu cinta dia? Iya. Kamu mau hidup sama-sama dia terus? Mau. Kamu yakin dia bisa bikin kamu bahagia? Ya. Kamu yakin dia mau menjalani hal yang sama seperti kamu? Tidak tahu. Kamu yakin perasaan dia sama kuatnya dengan yang kamu punya? Tidak. Lalu kamu berpegangan sama apa? Tidak tahu. Kadang jatuh cinta dan menjalani hidup bersama-sama seseorang itu dua hal yang berbeda dan tidak bisa berjalan beriringan. Oh crap. Yess. Life is a bunch of crap.

yess, it's dufan beybeh!

wohh such a busy days coming my way these month.. Padahal dari kemarin pingin banget nulis cerita ini. Singkat kata, jadi akik punya teman yang mana bernama Boni sudah hampir seperempat abad hidup di dunia ini tapi belum pernah ke ... DUFAN! yess, dufan beybeh! Anyhow,  karena beliau berasal dari luar daerah yang jauh dari endonesah sodara2... (read : Madiun), jadilah beliau ini belum pernah menapakkan kaki di dunia fantasi kebanggan milik masyarakat Jakarta itu.  Entah mungkin karena belum sempat, tidak ada yang mengajak, kurang duit karena anak rantau, gengsi atau justru karena rasa nasionalismenya kurang, beliau lebih memilih bertandang ke USS terlebih dahulu. Sayang sekali. Masih ada anak muda seperti beliau yang seharusnya bangga akan produk bangsa sendiri. Jangan ditiru ya.  *prihatin* Beruntunglah Boni karena ia punya teman yang sudah baik, cantik dan tidak sombong lagi... (silahkan kalau mau muntah bak sampah di sebelah kanan). Temannya ini s...

Turning 25

I'm blessed. Because i have so many and see everything. I've been traveling that much, i've so many experiences, i met a lot of people, i feel so many culture, food, challenge, view, atmospher, i had so many things in my life to thankful for.  At the beginning you'd wish for everything. You wish for a great life, perfect house, cool vehicle, best opportunities. As i through this year, in the end, everything that i could thank for is i had so many problem which makes me more mature, tough, strong, and grown as a human being. i dont have that perfect life, i (still) not getting married, i had the up-side down mental problem, sometimes i mess up. But that what you should do in your life, get messed up. And then you can learn. Anehnya, setelah sebelumnya takut dan deg-degan menjelang usia ini, ketika harinya tiba saya merasa sangaat bersyukur. Bersyukur punya keluarga yang lengkap dan menyayangi, bersyukur punya teman-teman yang baik hati, bersyukur punya peker...