Skip to main content

Life with Coronavirus



Judul yang sangat... berat. Baru judulnya aja berat, menjalaninya lebih berat lagi. Gue ga tau ya bagaimana dengan orang-orang di luar sana, tapi buat gue dan keluarga sih berat. Kadang berusaha chill, but mostly feeling anxiety. 

Pandemi ini banyak sekali mengubah cara kita hidup. Literally the way we live our life. 

Hampir satu setengah tahun kita hidup di era pandemi virus SARS Cov-2. 

Gue inget banget pertama kali tahu virus ini eksis, waktu itu Januari 2021 awal gue baru pulang dari luar kota. Sampai rumah masih agak sore, kebetulan ART lagi nonton tv lalu ada berita virus ini di China. Saat itu langsung waspada mikir larangan apa aja yang harus gue kasih tau ke ART saat ngasuh Kenzho. Tapi saat itu masih berharap ah mungkin hanya akan kaya kasus flu babi atau flu burung yang penyebarannya ga masif. 

Lalu di awal Maret kasus pertama di Indonesia muncul. Pertengahan Maret gue masih dinas ke luar kota, Bali pula. Agak degdegan, saat itu gue udah mulai pakai masker kain walaupun belum ada kewajiban dan orang-orang masih biasa aja. 

Pulang dari Bali 2 hari kemudian sempat demam dan radang tenggorokan. Langsung ke klinik untuk periksa. Dokter udah mulai screening mobilitas dari mana aja. Tapi alhamdulilah sehari kemudian udah mendingan.  

Setelah itu pemerintah langsung mengumumkan PSBB alias semi lockdown. Stay at home. Awalnya cuma 2 minggu. Lalu berlanjut terus sampai saat ini. Work from home bergiliran. School from home for kids.

Dan per hari ini kasus harian baru udah mencapai 34 ribu orang. Bayangkan. 

Gue masih inget saat pertama kali PSBB yang gue pikirin adalah gimana anak gue nanti sekolah? 

Lalu sebagai kaum anxiety dan overthinker, gue pun mulai mempertanyakan banyak hal. 

Dari sekian banyak puluhan tahun sejak pandemi flu spanyol di tahun 1920, kenapa pandemi muncul lagi di masa gue punya anak kecil? Kenapa anak gue harus merasakan hidup di masa pandemi? 

Pokoknya kesedihan dan perasaan stress terberat yang menyerang gue soal pandemi ini adalah ketika gue mikirin kehidupan anak. Like, mereka ga tahu apa-apa, mereka punya hak sebagai anak untuk sehat, bermain, belajar, bersosialisasi, tapi itu ga bisa mereka rasakan sekarang dengan maksimal. 

Terserah lah ya buat orang dewasa. Gue pikir orang dewasa kaya kita udah cukup merasakan banyak hal.  Dunia normal dimana kita bisa melakukan hal normal yang seharusnya dan yang kita mau di dunia tanpa pandemi.

Tapi anak-anak kecil ini belum. It hits me so hard. 

I don't even know wheter we can go back to our normal life or not. 

Mau nyalahin siapapun ku tak tahu. Tapi nih tapiii, gue biasanya julidin orang-orang yang masih suka kumpul-kumpul ga jelas. 

Dasar gue kaum introvert mungkin ya, jadi dengan adanya pandemi lalu disuruh di rumah aja buat gue bukan masalah besar. Selain introvert gue pun mageran. Jadi diam di rumah adalah hal yang biasa aja, walau ga dipungkiri ada bosannya. But thats not a big deal. 

Nah lain hal kalau orang yang ekstrovert. Yang harus bersosialisasi ketemu orang untuk recharge energinya. Harus keluar rumah karena ga bisa lama-lama diam aja di rumah. Well, gue bisa bayangkan gimana tersiksanya.

But still, kalau paham konsep pandemi ini baru bisa berakhir ketika salah satu faktornya kita memutus penyebaran virus lewat interaksi kita yang harus dibatasi, seharusnya bisa sih menahan diri untuk ga kumpul-kumpul ga jelas.

Entah gue udah berapa kali mungkin diomongin sama keluarga sendiri karena gue dan suami udah sering menolak acara kumpul-kumpul dengan berbagai alasan. 

But we don't give a care, health come first. 

Sejak mulai harus keluar rumah lagi untuk kerja atau ada keperluan lain, kita selalu terapin protokol kesehatan yang sungguh bikin lelah.

Setiap dari luar rumah even itu cuma beli sabun ke warung, harus selalu langsung mandi dan keramas. Pakai masker udah wajib lah ya. 

Setiap benda dari luar yang masuk ke rumah harus dicuci pakai sabun atau disemprot disinfektan. Semua benda ya tanpa terkecuali. Kebayang ga tuh kalau belanja bulanan PR nya kaya apa. 

Setiap pesan makanan dari luar harus langsung dipindahkan dari bungkusnya ke piring, lalu dihangatkan di oven/air fryer. 

Kalau menginap di hotel, sebelum masuk semua bagian hotel harus di semprot dulu pakai disinfektan.

Kalau kerja di kantor ataupun meeting di luar, gue ga pernah makan bareng sama siapapun itu. Makan harus jauh-jauhan karena di saat itulah kita harus buka masker jadi rentan sekali tertular kan. 

Dari awal pandemi sampai saat ini kita ga pernah sekalipun makan di luar (resto/food court/warung makan). Karena gue sangat takut, too risky. Beberapa kali pernah makan di resto hotel untuk sarapan, kita selalu pilih tempat duduk outdoor dan yang terjauh dari orang lain.  Meja, kursi dan peralatan makannya kita semprot dulu pakai disinfektan. 

See how this virus really change the way we live? Yes, this is our survival mechanism to adapt with this pandemic. 

Kita ga bisa lagi mikir hidup kita masih sama dengan sebelumnya. No. We can't. Dunia ini udah benar-benar berbeda dan kita yang harus adaptasi. Kita ga bisa ignore dan pura-pura dunia ini masih sama kaya dulu. Itu denial namanya. 

Jadi ingat pada dasarnya manusia adalah mahluk yang selalu beradaptasi. 

Dan sekarang adalah benar-benar definisi yang sesungguhnya dari adaptasi itu sendiri. 

Semoga virus ini segera bermutasi menjadi semakin lemah, dan semoga sampai saat itu kita semua masih bisa bertahan dan hidup sehat. 





Comments

Popular posts from this blog

Crap

Kamu cinta dia? Iya. Kamu mau hidup sama-sama dia terus? Mau. Kamu yakin dia bisa bikin kamu bahagia? Ya. Kamu yakin dia mau menjalani hal yang sama seperti kamu? Tidak tahu. Kamu yakin perasaan dia sama kuatnya dengan yang kamu punya? Tidak. Lalu kamu berpegangan sama apa? Tidak tahu. Kadang jatuh cinta dan menjalani hidup bersama-sama seseorang itu dua hal yang berbeda dan tidak bisa berjalan beriringan. Oh crap. Yess. Life is a bunch of crap.

yess, it's dufan beybeh!

wohh such a busy days coming my way these month.. Padahal dari kemarin pingin banget nulis cerita ini. Singkat kata, jadi akik punya teman yang mana bernama Boni sudah hampir seperempat abad hidup di dunia ini tapi belum pernah ke ... DUFAN! yess, dufan beybeh! Anyhow,  karena beliau berasal dari luar daerah yang jauh dari endonesah sodara2... (read : Madiun), jadilah beliau ini belum pernah menapakkan kaki di dunia fantasi kebanggan milik masyarakat Jakarta itu.  Entah mungkin karena belum sempat, tidak ada yang mengajak, kurang duit karena anak rantau, gengsi atau justru karena rasa nasionalismenya kurang, beliau lebih memilih bertandang ke USS terlebih dahulu. Sayang sekali. Masih ada anak muda seperti beliau yang seharusnya bangga akan produk bangsa sendiri. Jangan ditiru ya.  *prihatin* Beruntunglah Boni karena ia punya teman yang sudah baik, cantik dan tidak sombong lagi... (silahkan kalau mau muntah bak sampah di sebelah kanan). Temannya ini s...

Turning 25

I'm blessed. Because i have so many and see everything. I've been traveling that much, i've so many experiences, i met a lot of people, i feel so many culture, food, challenge, view, atmospher, i had so many things in my life to thankful for.  At the beginning you'd wish for everything. You wish for a great life, perfect house, cool vehicle, best opportunities. As i through this year, in the end, everything that i could thank for is i had so many problem which makes me more mature, tough, strong, and grown as a human being. i dont have that perfect life, i (still) not getting married, i had the up-side down mental problem, sometimes i mess up. But that what you should do in your life, get messed up. And then you can learn. Anehnya, setelah sebelumnya takut dan deg-degan menjelang usia ini, ketika harinya tiba saya merasa sangaat bersyukur. Bersyukur punya keluarga yang lengkap dan menyayangi, bersyukur punya teman-teman yang baik hati, bersyukur punya peker...