Apa yang membuatku menyerah sementara?
Siang itu di hari minggu yang cerah, aku sedang menyimak dengan seksama salah satu webinar untuk perekrutan anggota organisasi profesi pekerjaanku.
Pikirku akan sangat menarik dan menambah portofolio plus pengalaman jika aku bisa bergabung menjadi pengurus organisasi tersebut.
Saat sedang berdiskusi dengan suamiku, perihal apakah kira-kira aku bisa bergabung di organisasi itu, aku tidak mendengar anakku yang biasanya selalu berisik di sekitarku.
Sebuah pertanda ada yang aneh adalah ketika anak yang biasanya ribut dan ramai tiba-tiba hening. Pertanda ada yang sedang fokus dia kerjakan.
Benar saja, dia lagi asik buka google dan ketak ketik dengan jari-jari gemasnya. Anakku sudah bisa baca dari umur 4 tahun lebih sedikit, lalu kemudian bisa dan senang sekali menulis. Awalnya hanya di kertas, lama-lama dia bisa menggunakan tombol-tombol huruf yang ada di handphone. Dan sekarang mulai tertarik sekali mengetik di keyboard laptop.
Saat dia sudah bisa mengetik di handphone kami belum begitu khawatir. Karena paling sebatas mengirimkan pesan-pesan di whatss app ke kaka sepupunya, tante atau nenek-neneknya. Tapi ketika dia sudah bisa mengerti cara menggunakan google, disitu kami mulai waspada. Memang salahku yang memperkenalkan google ke kehidupannya, mungkin terlalu dini. Hiks.
Jadi ketika dia bertanya akan sesuatu terus aku mentok ga punya jawaban, daripada mengarang bebas dan berujung salah jawab, biasanya aku akan ajak dia untuk bersama-sama mencari jawaban yang tepat dengan menggunakan google. Lambat laut, dia mulai mengerti apa itu google.
Nah balik ke hari minggu tadi.
Ketika kami menyadari dia tidak se'berisik' biasanya disitulah kami biasanya curiga. Entah dia sedang asyik ngapain. Benar saja, di pojok tembok dia sudah memegang handphone dan membuka google. Setelah kami tangkap basah mukanya sedikit ketakutan. Hmm makin mencurigakan, sebenarnya apa yang dia cari di kolom search. Ternyata di situ dia mengetik :
"ibu pee"
"ibu poop"
"ibu hamil"
Wow ternyata anakku penasaran karena sudah merasa ada banyak yang berbeda antara manusia berwujud perempuan dan laki-laki. Sebuah tamparan kecil bagi kami karena masih kurang aware memberikan sex education untuk dia. Rasa penasarannya ternyata sudah sampai sejauh itu.
Akhirnya di situ aku tersadar, aku harus lebih lagi memberikan pemahaman dan perhatian ekstra ke si anak. Jujur aku bukan tipikal orang yang bisa full 100% ke berbagai hal di saat yang bersamaan. Artinya, aku sadar kapasitas diriku yang harus membagi-bagi porsi perhatian dan fokus ini. Karir & pekerjaan, rumah tangga (suami) dan anak. Ada 3 peran yang membutuhkanku.
Jadi apa yang membuatku menyerah sementara? Atau mengambil pilihan "pause"?
Prioritas. Buatku prioritas bukan tentang membagi keseimbangan diantara peran-peran tadi. Tapi mengalokasikan pikiran dan waktu yang lebih dominan sesuai dengan kebutuhannya. Dan untuk saat ini, aku menekan tombol pause pada karir dan pekerjaan karena prioritas membuatku memilih mencurahkan perhatian jauh lebih banyak pada keluarga. Apalagi dengan adanya 2 anak kecil yang sedang "lucu-lucu". Buatku, karir bisa menunggu. Akhirnya aku memutuskan untuk take a break dari dunia pekerjaan.
At the same time sebetulnya lingkungan kerja pun "ndilalah" mendukung keputusanku ini. Saat itu terjadi perubahan organisasi yang sangat besar di tempat kerja, di mana semua orang berubah posisi, tugas, jabatan, dan lain sebagainya. Lumayan chaos. Masing-masing orang seperti mencoba berdiri di atas kaki sendiri tapi sambil diterjang angin kencang. Yang gak kuat otomatis bisa ketiup alias terombang-ambing. Aku saat itu sangat mungkin untuk bertahan. Bahkan diberi amanah baru yang notabene lebih tinggi. Tapi setelah diskusi, mencari tahu, merasakan separuh jalan, melihat lebih dalam, aku memilih untuk mundur. Ibarat kata lebih banyak mudharat daripada manfaatnya. Bulat, aku putuskan untuk "gave up".
Prioritas. Sejak 2021 sampai saat ini aku fokuskan untuk keluarga. Tetap bekerja seperti biasa tapi tanpa punya cita-cita. ###

Comments