Skip to main content

Trauma Menjadi Orang Baik



Ada ga sih disini yang trauma jadi orang baik? Atau trauma berbuat baik? 

Saya selalu berpikir diri saya ini ga cerdas, cemerlang, talented, cantik luar biasa atau kelebihan lainnya yang biasanya jadi point of view seseorang. 

Makannya ada satu hal yang saya selalu upayakan yaitu bersikap baik. Be kind to each other. Karena cuma itu yang bisa saya perbuat ketika saya ga percaya diri dengan kelebihan-kelebihan diri sendiri. 

Bertahun-tahun saya hidup dengan prinsip itu. 

Mau semarah, sekesal, dan semerana apapun saya selalu berusaha bersikap baik di depan orang lain. 

Kecuali.. dengan orang terdekat saya yang dalam hal ini mungkin suami dan orang tua saya, mereka yang tahu aslinya saya gimana dan ga perlu saya tutup-tutupi. 

Tapi hari ini saya merasa ada sesuatu yang telah merubah saya. Akumulasi dari peristiwa-peristiwa ke belakang yang mungkin membuat trauma. 

Alias kapok bersikap baik. 

Mungkin dari tulisan ini nanti akan muncul nasihat-nasihat kalimat bijak yang biasanya berbunyi : 

"Jangan berhenti jadi orang baik, yakinlah kebaikan itu tidak akan sia-sia. Akan dibalas di kemudian hari dalam bentuk lain dan melalui orang lain."

Yeah i know. 

Tapi boleh ga sih merasa lelah berbuat baik sekali aja? 

I wanna be mean. To the person that entitled to get those mean. 

Saya ga mau lagi disalahkan atas sesuatu yang tidak saya lakukan.
Saya ga mau lagi dimanfaatkan atas kebaikan yang saya berikan.

Saya ga mau lagi dimanfaatkan karena terus berkata : IYA.
Saya akan berkata tidak ketika memang seharusnya saya berkata demikian atas situasi tertentu.

Saya ga mau lagi orang lain merasa senang karena apa yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya dikerjakan orang lain yang bersikap "baik". 

Saya ga mau lagi bersikap baik kepada orang lain sementara orang itu tidak demikian. 
Saya ga mau lagi perduli dan berempati pada kondisi seseorang sementara mereka tidak memikirkan keadaan saya.

Saya ga mau lagi merasa : "ini ga adil, kenapa mereka berbuat seperti itu, kenapa mereka meninggalkan saya begitu aja seakan-akan tidak ada apa-apa."

Saya hanya mau memikirkan diri saya sendiri dan orang yang saya sayangi, without putting myself in others shoe. 

Because thats what people do to ME.

If someone treats you badly, you have every right not to tolerate bullshit. 


Comments

Popular posts from this blog

yess, it's dufan beybeh!

wohh such a busy days coming my way these month.. Padahal dari kemarin pingin banget nulis cerita ini. Singkat kata, jadi akik punya teman yang mana bernama Boni sudah hampir seperempat abad hidup di dunia ini tapi belum pernah ke ... DUFAN! yess, dufan beybeh! Anyhow,  karena beliau berasal dari luar daerah yang jauh dari endonesah sodara2... (read : Madiun), jadilah beliau ini belum pernah menapakkan kaki di dunia fantasi kebanggan milik masyarakat Jakarta itu.  Entah mungkin karena belum sempat, tidak ada yang mengajak, kurang duit karena anak rantau, gengsi atau justru karena rasa nasionalismenya kurang, beliau lebih memilih bertandang ke USS terlebih dahulu. Sayang sekali. Masih ada anak muda seperti beliau yang seharusnya bangga akan produk bangsa sendiri. Jangan ditiru ya.  *prihatin* Beruntunglah Boni karena ia punya teman yang sudah baik, cantik dan tidak sombong lagi... (silahkan kalau mau muntah bak sampah di sebelah kanan). Temannya ini s...

Crap

Kamu cinta dia? Iya. Kamu mau hidup sama-sama dia terus? Mau. Kamu yakin dia bisa bikin kamu bahagia? Ya. Kamu yakin dia mau menjalani hal yang sama seperti kamu? Tidak tahu. Kamu yakin perasaan dia sama kuatnya dengan yang kamu punya? Tidak. Lalu kamu berpegangan sama apa? Tidak tahu. Kadang jatuh cinta dan menjalani hidup bersama-sama seseorang itu dua hal yang berbeda dan tidak bisa berjalan beriringan. Oh crap. Yess. Life is a bunch of crap.

Resign?

Dulu pelarian dari persoalan hidup bisa gue tuangkan dengan menulis, tentang apapun tanpa dibatasi oleh ketakutan bahwa orang lain akan mengganggap tulisan gue itu remeh atau meremehkan masalah tersebut.  Writing is the only way I have to explain my own life to myself Tapi kebiasaan ini berubah setelah gue punya anak alias jadi Ibu. Pertama-tama karena berkurangnya waktu dan (keinginan) untuk menulis karena harus beradaptasi dengan peran baru. Lama-lama banyak hal yang terjadi sampai akhirnya bingung mau cari alasan apalagi untuk membenarkan keengganan gue untuk menulis. Intinya karena ga ada keinginan dan niat. Balancing life between family and work juga ternyata ga semudah yang dibayangkan. Kadang smooth, ga jarang drama. Kalau orang-orang sering bilang keluarga adalah yang nomor satu setiap waktu, buat gue itu ga bisa berlaku. #rhyme Ya adakalanya harus memprioritaskan pekerjaan saat tuntutannya emang tinggi dan anak atau keluarga sedang dalam kondisi baik-baik aja kan. Jadi saa...