Skip to main content

Posts

Hazel's Birth Story

Haii. Anaknya udah lahir tapi seperti biasa baru sempat nulis lagi setelah umurnya sekarang 5 bulan :) Let's do a little flash back~ Kehamilan kedua ini diperkirakan HPL nya jatuh pada pertengahan Juni. Berarti, si ibu harus mulai lebih gencar lagi banyak gerak supaya si baby cepet masuk panggul dan posisinya bagus biar proses lahirannya lancar. Kali ini gw lebih lumayan aktif cari tahu gimana caranya biar lahiran less trauma . Tahu sendiri kan ya salah satu hal yang bikin takut banget punya anak lagi adalah proses lahiran anak pertama yang traumnya naudzubillah. Nah di kehamilan kedua ini jujur trauma itu masih ada banget. Tapi gw berusaha lebih tenang dengan banyak belajar.  Di awal Juni semakin dekat dengan tanggal HPL tentu perasaannya makin deg-degan dan gak karuan. Mulai susah tidur bisa sampai jam 1 malam baru nyenyak. Segala posisi ga ada yang nyaman, badan semakin berat buat bergerak, kenaikan BB bahkan udah sampe 17 kilo aja! Wow. Pluss di akhir Mei (36 minggu) gw batuk b...
Recent posts

Prioritas.

Apa yang membuatku menyerah sementara? Siang itu di hari minggu yang cerah, aku sedang menyimak dengan seksama salah satu webinar untuk perekrutan anggota organisasi profesi pekerjaanku. Pikirku akan sangat menarik dan menambah portofolio plus pengalaman jika aku bisa bergabung menjadi pengurus organisasi tersebut. Saat sedang berdiskusi dengan suamiku, perihal apakah kira-kira aku bisa bergabung di organisasi itu, aku tidak mendengar anakku yang biasanya selalu berisik di sekitarku. Sebuah pertanda ada yang aneh adalah ketika anak yang biasanya ribut dan ramai tiba-tiba hening. Pertanda ada yang sedang fokus dia kerjakan. Benar saja, dia lagi asik buka google dan ketak ketik dengan jari-jari gemasnya. Anakku sudah bisa baca dari umur 4 tahun lebih sedikit, lalu kemudian bisa dan senang sekali menulis. Awalnya hanya di kertas, lama-lama dia bisa menggunakan tombol-tombol huruf yang ada di handphone. Dan sekarang mulai tertarik sekali mengetik di keyboard laptop.  Saat dia sudah bis...

Hello Baby Number 2 :)

Never thought in my mind that i will made such a hugh decision like having a second child... :D Throwback sedikit, gw bahkan sampai membuat list alias daftar sejumlah alasan kenapa gw ga mau punya anak ke-2. Dan alasan-alasan itu bahkan udah gw presentasikan di depan suami juga. Yang paling ngena sih kenapa harus nambah lagi menghadirkan manusia lain ke dunia yang udah semrawut ini kalau dia sendiri ga bisa milih atau minta dilahirkan atau enggak? Gimana kalau misal setelah dilahirkan dia ga bahagia? Kita yang punya kendali memutuskan, jadi kita yang harus benar-benar bijak.  Sampai dia bingung mau membantah apa karena alasan gw valid semua. Wkwkwk. Ujungnya dia cuma bisa bilang : membuat keturunan adalah tujuan manusia hidup di dunia ini, semata-mata untuk meneruskan ajaran Islam sesuai perintah Allah.   Yang mana itu ga bisa gw bantah sih, tapi kan kita udah berhasil nih menelurkan satu orang keturunan yang justru harus kita pastikan dia meneruskan agama Allah di bumi ini....

Dulu dan Sekarang

Struggling -nya setiap orang berbeda, sadar gak sih kita akan hal itu? Ada yang pernah nyeletuk ke saya :  "Ah kamu mah ga pernah kan ngerasain kerja bawa barang jualan sekarung besar naik motor, panas2an dari sini ke sana?" Terus dia ketawa sombong, merasa penderitaannya lebih menyedihkan dibanding saya. Yang sebenarnya aneh juga sih, kenapa penderitaan perlu dibandingkan? Kaya ga ada hal lain aja, lol.  Terlepas dari keanehan itu, saya cuma mau bilang apa yang kita lihat atas pencapaian seseorang saat ini, ga pernah kita tahu bagaimana perjuangan mereka sampai di titik itu. Kalau misal orang lihat saya dan keluarga saat ini hidup "agak" enak selayaknya kaum menengah ngehe di kota besar, percayalah ada proses yang sebelumnya kami lalui sampai bisa seperti ini. Kalau mau flashback , saat masih kuliah saya udah kerja jadi sales promotion girl (SPG). Keliling kota masukin CV dan lamaran demi dapat uang tambahan untuk jajan.  Orang tua saat itu 'cuma' kasih ua...

Trauma Menjadi Orang Baik

Ada ga sih disini yang trauma jadi orang baik? Atau trauma berbuat baik?  Saya selalu berpikir diri saya ini ga cerdas, cemerlang, talented, cantik luar biasa atau kelebihan lainnya yang biasanya jadi point of view seseorang.  Makannya ada satu hal yang saya selalu upayakan yaitu bersikap baik. Be kind to each other . Karena cuma itu yang bisa saya perbuat ketika saya ga percaya diri dengan kelebihan-kelebihan diri sendiri.  Bertahun-tahun saya hidup dengan prinsip itu.  Mau semarah, sekesal, dan semerana apapun saya selalu berusaha bersikap baik di depan orang lain.  Kecuali.. dengan orang terdekat saya yang dalam hal ini mungkin suami dan orang tua saya, mereka yang tahu aslinya saya gimana dan ga perlu saya tutup-tutupi.  Tapi hari ini saya merasa ada sesuatu yang telah merubah saya. Akumulasi dari peristiwa-peristiwa ke belakang yang mungkin membuat trauma.  Alias kapok bersikap baik.  Mungkin dari tulisan ini nanti akan muncul nasihat-nasih...

Life with Coronavirus

Judul yang sangat... berat. Baru judulnya aja berat, menjalaninya lebih berat lagi. Gue ga tau ya bagaimana dengan orang-orang di luar sana, tapi buat gue dan keluarga sih berat. Kadang berusaha chill, but mostly feeling anxiety.  Pandemi ini banyak sekali mengubah cara kita hidup. Literally the way we live our life.  Hampir satu setengah tahun kita hidup di era pandemi virus SARS Cov-2.  Gue inget banget pertama kali tahu virus ini eksis, waktu itu Januari 2021 awal gue baru pulang dari luar kota. Sampai rumah masih agak sore, kebetulan ART lagi nonton tv lalu ada berita virus ini di China. Saat itu langsung waspada mikir larangan apa aja yang harus gue kasih tau ke ART saat ngasuh Kenzho. Tapi saat itu masih berharap ah mungkin hanya akan kaya kasus flu babi atau flu burung yang penyebarannya ga masif.  Lalu di awal Maret kasus pertama di Indonesia muncul. Pertengahan Maret gue masih dinas ke luar kota, Bali pula. Agak degdegan, saat itu gue udah mulai pakai masker...

International Women's Day

Baru-baru ini setelah hampir 7 tahun berumah tangga saya sempat sedikit "mengeluh" ke Ibu saya sendiri. Soal bagaimana saya dan kakak adik saya yang semuanya perempuan, tidak pernah diajarkan memasak, beres-beres rumah, ataupun urusan domestik lainnya yang lazimnya stigma masyarakat dikerjakan oleh kaum perempuan.  Kenapa saya protes? Karena jujur, ketika memasuki kehidupan berumah tangga, saya sempat mengalami clueless o n how to manage our house . Saya ga punya pengetahuan apalagi skill masak, bahkan harus googling dulu untuk bisa membuat sayur sop, ikan goreng, atau masakan apapun itu yang mungkin buat sebagian orang sepele. Tentu saja protes saya ini ga membuahkan hasil apa-apa. Ibu saya ga kalah nge-gas donk, membela apa yang menjadi t he way she raise her children s. Saya mengerti dan ga berusaha untuk mendapatkan jawaban sebaliknya. Cuma ingin ibu saya tahu aja bahwa saya mengalami kesulitan itu, dan mungkin akan berbeda hasilnya jika she teach us in a different way b...