Skip to main content

Posts

Showing posts from November, 2013

Gravity

Beruntung Mbak teller yang cantik dengan senyum 3 sentimeter itu gak tanya macam-macam. Beruntung juga gak ada kolom : "tujuan penggunaan uang" di lembar penarikan bank itu. Dia tampak sedikit terkejut melihat seorang perempuan, kalau bisa dikatakan cukup kumel, datang tergesa-gesa dengan lembar kertas tersebut ingin menarik tabungannya senilai sekian puluh juta. Tapi yang dilakukannya cuma meminta kartu identitas, mengecek ulang tanda tangan, melihat kemiripannya, meminta persetujuan otorisasi supervisornya. Standar prosedur yang dilakukan semua bank manapun. Tidak ada yang bakal menanyakan tujuan kegunaan uang. Transaksi itu hanya membutuhkan waktu kurang dari 10 menit. Tapi menghabiskan proses yang panjang sampai perempuan itu mendatangi bank di siang bolong. Transaksi itu hanya terjadi diantara dua orang, si perempuan dan si teller. Tapi melibatkan orang-orang penting dalam hidup si perempuan. Andai saja dia tahu, perempuan itu memutuskan untuk menguras -kalau boleh...

Dibantai TRX

Sekelumit malam : Apa yang bisa gue bantu sekarang? Hmm apa ya. Temenin gue ke psikolog mungkin? Ah elo. Kalau itu gue ga bisa bantu. Hmm mendingan lo ikut yoga deh sekali-kali.  (Yoga? Seni meditasi diri dimana kita lebih banyak berdiam diri dan menyisakan lebih banyak ruang untuk pikiran bekerja? Bukannya tenang bisa-bisa gue histeris ditengah-tengah sesi. Pikir saya dalam hati.) Lo baru balik jam segini? Busyet ngapain aja lo dikantor? Lo tau kan gue bakal ngelakuin apa aja sampe badan gw remuk pun selama itu ga bikin gue inget masalah gue. Yayaya terserah lo deh. Sejentik pagi : Sapaan selamat pagi sehari-hari dalam suatu grup whatss app dijawab singkat : Pagi semua. Gue udah di jalan mau ikut TRX. Hah apaan tuh? Serentak mereka tanya. Ah bingung jelasinnya. Buat saya setelah mengikuti kelas itu yang jelas cuma satu : remuk redam semua badan.  Selesai latihan mereka masih penasaran : Jadi gimana, enak kelasnya?  Saya cuma bisa jawab : kagak...

my weird thought

Ini lucu deh. Sejak berapa bulan lalu ya, rasanya ingin banget selalu dipeluk. Padahal saya udah cerita ke kemana-mana apa masalah saya, gimana ceritanya. Tapi gak ada yang memeluk. Gak lucu sih. Lebih ke menyedihkan. Kita ga salah kan kalau kita jujur bilang apa yang kita inginkan sesekali? Saya pengen banget dipeluk. Sekarang. Cuma untuk meringankan. Tapi masa saya mau bilang ke teman curhat saya tiba-tiba.. Eh peluk gue donk. ZONK.  Lagipula jarak gak bisa kirim virtual hug yang menenangkan.   Simply so sad. Hanya untuk sebuah pelukan aja terkadang kita harus minta. Jangan-jangan nanti mesti berbayar. Jadi ya setiap ada orang yang kelihatan sedih berkeliaran didekat saya, secara spontan rasanya pingin meluk.  Benar lho. Pelukan itu meringankan. Tapi ini malam ini mau minta pelukan siapa coba? Office boy di kantor? Mehehehe...

detik-menit-jam-hari-bulan-tahun

Seberapa perlu anda butuh berkonsultasi ke psikolog? Atau lebih jauh lagi, mendaftar untuk diperiksa ke dokter jiwa di rumah sakit? Apakah jika ada orang yang mengatakan anda : Freak Aneh Konyol Naif Picik Emosional Gak Sopan Keras Kepala Berlebihan  Pandai berakting (dalam artian yang negatif) Gila Apakah anda sudah merasa perlu berkonsultasi ke dokter jiwa? Belum tentu.  Mungkin anda hanya butuh air mata lebih deras untuk membasuh luka-luka. Butuh kaki yang menopang lebih kuat untuk berjalan menuju kewajiban yang harus dilakukan. Butuh bibir yang mampu menarik senyum lebih luas ketika bertemu dengan orang. Butuh harapan yang membuncah agar lupa semua sakit.  Dan untuk memperoleh semua kebutuhan itu, anda perlu apa?  Waktu. Berapa lama anda tanya? Mungkin melalui matematika psikologi anda bisa menjawab.

Siomay, Nescafe, dan "Everything Has Changed" nya Taylor Swift

You have no idea how many nights i spent to use my logic just to figure out what is it.  What the hell happen.  Why this is happen.  And how.  Kalau saja saya gak kenal konsep meng-enol-kan hati, tubuh, pikiran semata-mata hanya untuk ikhlas, memantapkan keyakinan ini hanya ujian naik kelas di mata Tuhan,  rasa-rasanya saat ini saya mungkin berakhir di sebuah klub malam, atau gila-gilaan pergi ke suatu tempat, menjadi orang yang tidak dikenal, mencoba-coba kehidupan baru selama beberapa saat.  Bukannya duduk didepan meja komputer kantor menulis ini semua. Hanya dengan ditemani sebungkus siomay. Makanan pertama yang masuk sejak tadi pagi. Selain sekaleng minuman berkafein Nescafe yang dibeli dimini market. Either itu Tuhan sedang menaikkan derajat untuk lulus di ujian ini, atau Tuhan sedang bercanda dengan cara-Nya. This is so funny i mean. Masa untuk masalah seberat ini penawar saya cuma siomay? Come on!  Sedikit lebih mendingan because t...

Crap

Kamu cinta dia? Iya. Kamu mau hidup sama-sama dia terus? Mau. Kamu yakin dia bisa bikin kamu bahagia? Ya. Kamu yakin dia mau menjalani hal yang sama seperti kamu? Tidak tahu. Kamu yakin perasaan dia sama kuatnya dengan yang kamu punya? Tidak. Lalu kamu berpegangan sama apa? Tidak tahu. Kadang jatuh cinta dan menjalani hidup bersama-sama seseorang itu dua hal yang berbeda dan tidak bisa berjalan beriringan. Oh crap. Yess. Life is a bunch of crap.

Biar Saja

kamu masih baca blog ini? iya kamu. kamu masih mau tau apa yang ada dalam pikiran saya dan ingin saya tumpahin lewat tulisan disini? atau apa yang terjadi dengan saya belakangan ini? ah kamu pasti gak terlalu peduli. Lebih baik memikirkan tentang jalan kamu sendiri untuk melalui ini semua kan. Sebutlah saya orang paling galau, labil, menyedihkan yang pernah kamu kenal. Biar saja orang lain bilang saya begitu, mereka gak pernah ngerasain jadi saya. Kamu juga. Biar saja. Hampir dua bulan lebih setelah saya duduk dirumah tamu rumah saya dan rumah calon keluarga mertua saya. Diminta menjelaskan tentang apa yang terjadi. Sudah, saya lewati itu semua. Hampir satu bulan setengah setelah saya dibawa ke 'orang pintar', Pak Kyai, atau sebutlah namanya siapa. Diminta menjelaskan sekali lagi, disuruh membersihkan diri, diklaim bersalah atas suatu hal yang diapun hanya bisa menebak-nebak  saja itu apa. Saya menurut saja atas nama tidak ingin melawan orang tua. Hampir sat...

ZONK- Moment

Jadi tiba-tiba keinget cerita absurd ini. Beberapa tahun lalu yang mana saya masih duduk di bangku SMP, saya punya sahabat, cowok. His name is Singgih. Well semoga dia gak baca tulisan ini. Itu anak (sekarang saya benar-benar cemas semoga dia gak nemu blog ini) pendieeem banget nget nget. Kalau boleh dikatakan kaku, penampilannya selalu rapi dari ujung rambut sampai ujung kaki. Klimis dengan minyak rambut abegeh yang kala itu nge-trend. Berteman dengan orang-orang yang itu-itu aja tapi banyak dibicarakan cewek-cewek di sekolah. Kami ketemu ketika duduk di kelas 2. Karena jarak tempat duduk yang cuma selang beberapa bangku, ditambah dia berteman dengan sahabat saya (Lili- cowok) yang dulunya satu sekolah dasar, maka lingkaran pertemanan kami menjadi dekat. Si Singgih ini, selalu terlihat sangat tegang, sulit tertawa, teratur dan sistematis (rrrr, sistematis? ya begitulah pokoknya). Sangat-sangat bertolak belakang kala itu dengan saya yang suka menertawai banyak hal, iseng, spontan dan...