Skip to main content

Posts

Showing posts from 2013

Selamat Hari Ibu :)

Ini mungkin perayaan hari ibu dimana saya belum bisa memberikan apa yang ibu saya impikan. Atau setidaknya apa yang membuat beliau tenang. Selama bertahun-tahun hidup mandiri jauh dari ibu, beliau tidak pernah terlihat cemas berlebihan atau ketakutan akan status dan kondisi kemandirian saya. Sampai moment terakhir saya melihat ibu saya mencemaskan keadaan saya adalah ketika saya jatuh sakit beberapa bulan lalu. Waktu itu, sakit saya memang lumayan lama, cukup lama untuk mengidentifikasi penyakitnya, dan ibu saya khawatir karena saya  sendiri. (Atau khawatir karena muka anak perempuannya jadi bengkak gak jelas ya)  Hampir tiap beberapa jam beliau menanyakan keadaan saya. Sampai akhirnya saya sembuh. Dulu setiap berangkat kuliah, saya sangat jarang melihat kecemasan di wajah mamah ketika melambai melepaskan anaknya untuk belajar dikota lain. Pun ketika saya harus pergi untuk bekerja di kota paling tidak toleran bernama Jakarta ini. Sampai suatu saat, beberapa ming...

Forget to forgive

We’ve all done things we aren’t proud of. I understand that. I know nobody’s perfect. But how do you live with it? How do you get up every morning and face the world knowing you could have done better? That you should have done better? Is being sorry enough? Can an apology actually heal our wounds, ease our pain? Can it undo the hurt that somebody caused?

Tentang tanggal ini

Tahun ini, jatuh bangun, naik turun. Menahan nafas sampai di penghujung tahun.  Tidak ada bayangan mengenai ujungnya.  Setelah separuh dari tahun ini dilalui dengan sangat susah payah.  Tahun ini, hitam putih, abu-abu.  Mencicipi semua rasa sampai di titik beku.  Mungkin tahun ini memang banyak batu, kerikil sampai batu kali. Mungkin tahun ini memang banyak angin, badai sampai semilir. Mungkin tahun ini memang banyak belajar belajar sulit, belajar senang,  belajar memberi, belajar menerima, belajar melepaskan, belajar menemui hal baru,  Tapi yang paling penting, belajar percaya, belajar bersyukur Percaya kalau bisa bersyukur. Alhamdulilah.. tentang tanggal ini, tentang orang yang  mengingat tanggal ini. Tentang dia yang mengingat dan membiarkan saya mengetahuinya. Tentang dia yang mengingat tapi enggan membiarkan saya mengetahuinya.  Tentang pagi yang penuh syukur, tentang siang yang berjalan bia...

Gravity

Beruntung Mbak teller yang cantik dengan senyum 3 sentimeter itu gak tanya macam-macam. Beruntung juga gak ada kolom : "tujuan penggunaan uang" di lembar penarikan bank itu. Dia tampak sedikit terkejut melihat seorang perempuan, kalau bisa dikatakan cukup kumel, datang tergesa-gesa dengan lembar kertas tersebut ingin menarik tabungannya senilai sekian puluh juta. Tapi yang dilakukannya cuma meminta kartu identitas, mengecek ulang tanda tangan, melihat kemiripannya, meminta persetujuan otorisasi supervisornya. Standar prosedur yang dilakukan semua bank manapun. Tidak ada yang bakal menanyakan tujuan kegunaan uang. Transaksi itu hanya membutuhkan waktu kurang dari 10 menit. Tapi menghabiskan proses yang panjang sampai perempuan itu mendatangi bank di siang bolong. Transaksi itu hanya terjadi diantara dua orang, si perempuan dan si teller. Tapi melibatkan orang-orang penting dalam hidup si perempuan. Andai saja dia tahu, perempuan itu memutuskan untuk menguras -kalau boleh...

Dibantai TRX

Sekelumit malam : Apa yang bisa gue bantu sekarang? Hmm apa ya. Temenin gue ke psikolog mungkin? Ah elo. Kalau itu gue ga bisa bantu. Hmm mendingan lo ikut yoga deh sekali-kali.  (Yoga? Seni meditasi diri dimana kita lebih banyak berdiam diri dan menyisakan lebih banyak ruang untuk pikiran bekerja? Bukannya tenang bisa-bisa gue histeris ditengah-tengah sesi. Pikir saya dalam hati.) Lo baru balik jam segini? Busyet ngapain aja lo dikantor? Lo tau kan gue bakal ngelakuin apa aja sampe badan gw remuk pun selama itu ga bikin gue inget masalah gue. Yayaya terserah lo deh. Sejentik pagi : Sapaan selamat pagi sehari-hari dalam suatu grup whatss app dijawab singkat : Pagi semua. Gue udah di jalan mau ikut TRX. Hah apaan tuh? Serentak mereka tanya. Ah bingung jelasinnya. Buat saya setelah mengikuti kelas itu yang jelas cuma satu : remuk redam semua badan.  Selesai latihan mereka masih penasaran : Jadi gimana, enak kelasnya?  Saya cuma bisa jawab : kagak...

my weird thought

Ini lucu deh. Sejak berapa bulan lalu ya, rasanya ingin banget selalu dipeluk. Padahal saya udah cerita ke kemana-mana apa masalah saya, gimana ceritanya. Tapi gak ada yang memeluk. Gak lucu sih. Lebih ke menyedihkan. Kita ga salah kan kalau kita jujur bilang apa yang kita inginkan sesekali? Saya pengen banget dipeluk. Sekarang. Cuma untuk meringankan. Tapi masa saya mau bilang ke teman curhat saya tiba-tiba.. Eh peluk gue donk. ZONK.  Lagipula jarak gak bisa kirim virtual hug yang menenangkan.   Simply so sad. Hanya untuk sebuah pelukan aja terkadang kita harus minta. Jangan-jangan nanti mesti berbayar. Jadi ya setiap ada orang yang kelihatan sedih berkeliaran didekat saya, secara spontan rasanya pingin meluk.  Benar lho. Pelukan itu meringankan. Tapi ini malam ini mau minta pelukan siapa coba? Office boy di kantor? Mehehehe...

detik-menit-jam-hari-bulan-tahun

Seberapa perlu anda butuh berkonsultasi ke psikolog? Atau lebih jauh lagi, mendaftar untuk diperiksa ke dokter jiwa di rumah sakit? Apakah jika ada orang yang mengatakan anda : Freak Aneh Konyol Naif Picik Emosional Gak Sopan Keras Kepala Berlebihan  Pandai berakting (dalam artian yang negatif) Gila Apakah anda sudah merasa perlu berkonsultasi ke dokter jiwa? Belum tentu.  Mungkin anda hanya butuh air mata lebih deras untuk membasuh luka-luka. Butuh kaki yang menopang lebih kuat untuk berjalan menuju kewajiban yang harus dilakukan. Butuh bibir yang mampu menarik senyum lebih luas ketika bertemu dengan orang. Butuh harapan yang membuncah agar lupa semua sakit.  Dan untuk memperoleh semua kebutuhan itu, anda perlu apa?  Waktu. Berapa lama anda tanya? Mungkin melalui matematika psikologi anda bisa menjawab.

Siomay, Nescafe, dan "Everything Has Changed" nya Taylor Swift

You have no idea how many nights i spent to use my logic just to figure out what is it.  What the hell happen.  Why this is happen.  And how.  Kalau saja saya gak kenal konsep meng-enol-kan hati, tubuh, pikiran semata-mata hanya untuk ikhlas, memantapkan keyakinan ini hanya ujian naik kelas di mata Tuhan,  rasa-rasanya saat ini saya mungkin berakhir di sebuah klub malam, atau gila-gilaan pergi ke suatu tempat, menjadi orang yang tidak dikenal, mencoba-coba kehidupan baru selama beberapa saat.  Bukannya duduk didepan meja komputer kantor menulis ini semua. Hanya dengan ditemani sebungkus siomay. Makanan pertama yang masuk sejak tadi pagi. Selain sekaleng minuman berkafein Nescafe yang dibeli dimini market. Either itu Tuhan sedang menaikkan derajat untuk lulus di ujian ini, atau Tuhan sedang bercanda dengan cara-Nya. This is so funny i mean. Masa untuk masalah seberat ini penawar saya cuma siomay? Come on!  Sedikit lebih mendingan because t...

Crap

Kamu cinta dia? Iya. Kamu mau hidup sama-sama dia terus? Mau. Kamu yakin dia bisa bikin kamu bahagia? Ya. Kamu yakin dia mau menjalani hal yang sama seperti kamu? Tidak tahu. Kamu yakin perasaan dia sama kuatnya dengan yang kamu punya? Tidak. Lalu kamu berpegangan sama apa? Tidak tahu. Kadang jatuh cinta dan menjalani hidup bersama-sama seseorang itu dua hal yang berbeda dan tidak bisa berjalan beriringan. Oh crap. Yess. Life is a bunch of crap.

Biar Saja

kamu masih baca blog ini? iya kamu. kamu masih mau tau apa yang ada dalam pikiran saya dan ingin saya tumpahin lewat tulisan disini? atau apa yang terjadi dengan saya belakangan ini? ah kamu pasti gak terlalu peduli. Lebih baik memikirkan tentang jalan kamu sendiri untuk melalui ini semua kan. Sebutlah saya orang paling galau, labil, menyedihkan yang pernah kamu kenal. Biar saja orang lain bilang saya begitu, mereka gak pernah ngerasain jadi saya. Kamu juga. Biar saja. Hampir dua bulan lebih setelah saya duduk dirumah tamu rumah saya dan rumah calon keluarga mertua saya. Diminta menjelaskan tentang apa yang terjadi. Sudah, saya lewati itu semua. Hampir satu bulan setengah setelah saya dibawa ke 'orang pintar', Pak Kyai, atau sebutlah namanya siapa. Diminta menjelaskan sekali lagi, disuruh membersihkan diri, diklaim bersalah atas suatu hal yang diapun hanya bisa menebak-nebak  saja itu apa. Saya menurut saja atas nama tidak ingin melawan orang tua. Hampir sat...

ZONK- Moment

Jadi tiba-tiba keinget cerita absurd ini. Beberapa tahun lalu yang mana saya masih duduk di bangku SMP, saya punya sahabat, cowok. His name is Singgih. Well semoga dia gak baca tulisan ini. Itu anak (sekarang saya benar-benar cemas semoga dia gak nemu blog ini) pendieeem banget nget nget. Kalau boleh dikatakan kaku, penampilannya selalu rapi dari ujung rambut sampai ujung kaki. Klimis dengan minyak rambut abegeh yang kala itu nge-trend. Berteman dengan orang-orang yang itu-itu aja tapi banyak dibicarakan cewek-cewek di sekolah. Kami ketemu ketika duduk di kelas 2. Karena jarak tempat duduk yang cuma selang beberapa bangku, ditambah dia berteman dengan sahabat saya (Lili- cowok) yang dulunya satu sekolah dasar, maka lingkaran pertemanan kami menjadi dekat. Si Singgih ini, selalu terlihat sangat tegang, sulit tertawa, teratur dan sistematis (rrrr, sistematis? ya begitulah pokoknya). Sangat-sangat bertolak belakang kala itu dengan saya yang suka menertawai banyak hal, iseng, spontan dan...

WHYYYY

it feels like people hit my head over and over again. it feels like no one stand up for your happiness, no one cares and asking why then trying to understand. It feels like people keep blaming with so many reason. kamu tau gimana rasanya?  Disalahkan dari dua sisi, disudutkan, dipandang setengah gila (atau memang gila beneran). Kamu tau gimana rasanya? Ketakutan, cemas, bingung, membela diri sendiri terus menerus, mencoba mengerti perasaan semua pihak, mencoba memberikan penjelasan terus menerus atas pilihan-pilihan yang kamu ambil, menjawab pertanyaan yang sama berulang-ulang, hanya untuk membuat mereka mengerti bahwa tindakan yang kamu lakukan semata-mata karena tidak ingin menyakiti orang lain, menyakiti diri sendiri, atau bahkan menyakiti Tuhan.  i'm mess up. Screw up everything. Being an adult never this hard.   Loving somebody never feel this hard.

This is happen.

#PeopleAroundUs - Magic Car

Kesalahan kamu menggantungkan kebahagiaan pada seseorang itu, ketika kamu kehilangan dia, kamu jadi seperti zombie. Tapi bernafas dan punya otak waras. It's been a while since then. But still feels like a zombie. Kemanjaan yang ditanamkan di diri sendiri tanpa sadar sudah membuat pincang sebelah kaki. Saya 'rajin' absen mengadu dan meratap di kursi depan kendaraan suzuki sahabat saya ini. Aneh, setiap membuka pintu, duduk, menghela napas, rentetan keluhan mulai dari A sampai Z selalu keluar ketika masuk mobil dia. Semacam ada alat penghipnotis atau jampi2 dari Sukabumi. (Maklum, teman saya ini keturunan Sunda, jadi ya siapa tahu saja ajian berasal dari tanah Jampang Kulon.) Padahal, obrolan belum sampai 15 menit. Tanpa tahu siapa yang memulai, saya seakan bisa menumpahkan apa saja di kursi empuk dengan diiringi lagu-lagu yang diputar ketika itu di radio. Sembari dia menyetir, atau ketika 'ngumpet' di basement parkiran sebuah mall.  Ketidakteraturan frek...

Apa yang bisa kamu tulis saat Hujan maka Jadilah Begini....

Akhirnya saya merasakan juga, titik ini dimana saya sampai pada perasaan cukup yang amat berlebih. Cukup sudah saya melihat semuanya, cukup sudah saya memberi kesempatan, cukup sudah saya menengok ke belakang, cukup sudah saya bergantung pada janji manusia, cukup sudah saya mengharap perubahan, cukup sudah saya meyakinkan diri saya semua akan baik2 saja.  Anehnya saya tidak lagi merasakan sedih yang teramat dalam seperti sebelumnya. mungkin karena entah dengan cara bagaimana Tuhan menyembuhkan saya dengan memberikan lagi saya perasaan untuk berharap, memberi lagi kesempatan pada saya untuk percaya bahwa ada sesuatu yang akan baik menunggu didepan. Saya selalu berkata pada diri sendiri bahwa keadaan buruk tidak akan berlangsung selamanya. Karena Tuhan sangat adil. Akhirnya saya merasakan apa yang orang pernah bilang, bahwa ketika hati kamu sudah terlalu lelah, dia punya mekanisme sendiri untuk memperbaki sistem.  Saya benar2 tidak berpegangan terhadap apapun selain pa...